Pameran Karya Merdeka Belajar

Penulis : Kusuma Putri Wijayanti | 18 Mar, 2021 | Kategori: Asesmen, Merdeka Belajar, Pameran Karya

Apa yang tertanam di benak atau yang dipikirkan jika mendengar kata “Pameran Karya” ? Apakah majalah dinding yang tertempel di papan sekolah, memajang piala-piala kejuaraan atau memamerkan karya seni yang dihasilkan oleh murid? Apa ya maksud dari pameran karya sebenarnya? Apalagi Pameran Karya Merdeka Belajar.


Sebelum membahas pameran karya lebih dalam, kita akan kulik terlebih dahulu untuk menyamakan persepsi terkait apa itu pameran karya. Pameran Karya adalah sebuah program dimana anak-anak dapat menceritakan kembali apa yang sudah mereka dapatkan dan pahami dalam proses belajar, dimana anak-anak memiliki keinginan yang kuat dalam dirinya untuk  bisa membuat dan menghasilkan sebuah karya yang terbaik yang sekaligus dapat membagikan pesan yang ingin disampaikan melalui karya tersebut secara luas. Pameran karya menjadi salah satu bukti anak-anak dapat berkreasi dan bereksplorasi dengan pengetahuan, pengalaman dan kompetensi yang dimiliki, dan menjadi suatu kebanggan tersendiri ketika anak-anak dapat menghasilkan sebuah karya.  

Pada Obrolan Guru Merdeka Belajar 9 Maret 2021 yang bertemakan “Pameran Karya Merdeka Belajar” tidak hanya mengajak guru menjadi narasumber tetapi turut serta mengajak murid-muridnya untuk bisa bergabung dan berbagi mengenai pameran karya yang sudah pernah dihasilkan di sekolah. Obrolan #GuruMerdekaBelajar dipandu oleh Mahayu Ismaniar dengan 4 narasumber, yaitu Dirayanti Bungawardani guru di Sekolah Cikal Serpong, Eka Priyantiningrum guru di Sekolah Pembangunan Jaya, sedangkan muridnya ada Rayyan Akman Arsyad dari Sekolah Cikal Serpong dan Ni Wayan Azalia Seca Devina murid dari Sekolah Pembangunan Jaya. Rayyan berbagi mengenai karya karya yang pernah dihasilkannya yaitu sebuah komik yang bercerita tentang sejarah kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998, yang memiliki tujuan untuk menyelesaikan masalah kurang minatnya murid pada mata pelajaran sejarah dan adanya stigma bahwa mata pelajaran IPS yang membosankan, rumit dan banyak materi hafalan. 

Pameran Karya Merdeka Belajar Ni Wayan Azalia S. Devina

Sedangkan Azalia pada semester pertama membuat sebuah poster mengenai kerajaan-kerajaan di Indonesia salah satunya kerajaan Tidore, pada waktu semester kedua Azalia kembali membuat sebuah poster yang dilengkapi dengan video mengenai provinsi Kalimantan Barat yang dikerjakan secara berkelompok yang juga digunakan untuk penilaian tengah semester. 

Menarik sekali hasil karya yang dihasilkan Rayyan dan Azalia yang mengangkat materi hafalan yang bisa dibilang membosankan dan kurang diminati bagi sebagian murid, justru menjadi cara belajar yang mengasyikkan melalui pameran karya ini yang membuktikan bahwa mata pelajaran apapun dapat dikemas dalam pameran karya yang unik dan menarik untuk dipelajari lebih lanjut.

Pameran karya menjadi salah satu bentuk asesmen yang dilakukan untuk mengetahui pemahaman murid, kompetensi yang dikuasai sampai dapat menghasilkan sebuah karya. Eka Priyantiningrum menjelaskan bahwa dengan adanya pameran karya ini mengandung sebuah istilah “ada udang dibalik batu”, maksudnya bahwa dalam sebuah pameran karya yang dihasilkan ada hal berharga yang dibagikan oleh murid-murid. Hal-hal berharga yang dimaksud antara lain keinginan guru-guru untuk dapat mengembangkan minat dan bakat siswa yang dimiliki, membuat sebuah project bermakna (berkolaborasi antar mata  pelajaran), melatih siswa membuat perencanaan, melatih dalam berkomunikasi (guru-guru; guru-siswa; siswa-siswa), critical thinking, dan yang terakhir dapat dijadikan sebagai penilaian lengkap kinerja murid (penilaian pengetahuan,keterampilan sampai penilaian sikap).

Dirayanti Bungawardani pun menambahkan bahwa asesmen dalam pameran karya menggunakan rubrik yang mencakup beberapa kompetensi, yaitu komitmen, cerdas, dan berpusat pada aksi. Melalui proses pembuatan karya dapat dilihat seberapa besar komitmen murid dalam mengerjakan dan menyelesaikan sebuah tugas, mulai dari pembuatan timeline sebagai pedoman pengerjaan, pada kompetensi cerdas dapat digunakan untuk melihat apakah murid dapat menerapkan pengetahuan yang cukup komprehensif, dan pada kompetensi berpusat pada aksi untuk dapat mengambil solusi-solusi untuk dapat menyelesaikan tantangan selama pembuatan sebuah karya. 

Kali ini Azalia bercerita tentang proses bagaimana membuat poster digital dan juga video yang sudah dipamerkan. Pada saat pembuatan poster digital dimulai dari bagaimana menggunakan aplikasi, penentuan tema agar tidak saling memiliki kesamaan tema, kemudian penentuan deadline pengumpulan karyanya, yang tentunya selama proses pembuatan guru turut serta menanyakan proses pembuatannya sudah sampai mana dan apakah menemukan kendala dalam proses pembuatan poster digitalnya. Setelah poster digital dikumpulkan dan dipertontonkan secara luas ada evaluasi yang diberikan dari hasil poster digital tersebut. Pada pembuatan poster dan video provinsi Kalimantan Barat yang dilakukan secara berkelompok tentunya ada beberapa bagian yang dibagi-bagi untuk saling berdiskusi, bekerja sama dan berkolaborasi, contohnya dalam pencarian informasi mengenai peta, lagu daerahnya, tarian yang dimiliki, dan yang lainnya. 

Pameran Karya Merdeka Belajar Rayyan Akmal Arsyad

Sedangkan Rayyan bercerita awal mula memilih kerusuhan tahun 1998 dikarenakan banyak perspektif teman-temannya mengenai pelajaran terutama pelajaran sejarah yang kurang menyenangkan, sedangkan menurut Rayyan sendiri pelajaran tersebut menyenangkan untuk dipelajari, lalu timbullah ide untuk membuat sebuah karya untuk mengemas pelajaran sejarah menjadi menarik untuk dipelajari yaitu melalui komik, tantangan terbesar yang ditemui selama proses membuat project itu adalah skill-skill yang dibutuhkan pada saat membuat project itu sendiri, seperti bagaimana membuat planning yang baik, riset informasi yang mendetail, dan mencari ide yang bisa menjadi pelajaran penting dalam menghasilkan karya. 

Baca Juga: Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid?

Pada Obrolan #GuruMerdekaBelajar peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dengan narasumber antara lain Amalia Tjiandra dan Ika Amaliah. Ibu Amalia Tjiandra mengajukan pertanyaan kepada Rayyan dan Azalia tentang seberapa penting adanya pameran karya yang ada di sekolah untuk murid?, menurut Azalia sangat penting karena dengan adanya pameran karya dapat menambah kreativitas dan pengetahuan bagi murid itu sendiri, dan pada pameran virtual yang dilakukan dengan kecanggihan teknologi murid dapat lebih menguasai perkembangan dalam penggunaan teknologi sekarang ini yang dapat dengan mudah untuk membagikan hasil karyanya secara luas melalui link yang dibagikan. Sedangkan menurut Rayyan ilmu atau konsep yang diaplikasikan dalam menciptakan suatu karya akan sangat bermanfaat untuk kedepannya baik untuk belajar di jenjang yang lebih tinggi atau pada waktu bekerja nantinya. 

Pertanyaan berikutnya dari Ibu Ika Amaliah untuk Azalia dan Ibu Eka tentang bagaimana menyiasati anggota kelompok yang tidak aktif dan sulit bekerja sama? Dan Bagaimana membuat kelompok tetap kondusif dari perencanaan sampai eksibisi? Wah banyak dirasakan juga oleh Bapak/Ibu juga sepertinya ya. Menurut Ibu Eka sebelum membentuk sebuah kelompok dalam pameran, sebaiknya sudah melakukan observasi kelas terlebih dahulu berdasarkan penilaian dari penugasan-penugasan yang diberikan secara individual untuk mengetahui murid siap dan bisa untuk bekerjasama dalam tugas yang dilakukan secara berkelompok, sedangkan menurut Azalia untuk teman yang bisa dikatakan kurang aktif akan selalu diingatkan dan ditagih terkait tugas atau peran yang sudah dibagikan kepada masing-masing murid di awal sesuai dengan kesepakatan dalam kelompok tersebut sehingga tugas dapat terselesaikan dengan baik dan sesuai dengan timeline yang sudah dibuat.

Selanjutnya tantangan dalam membuat sebuah pameran karya tidak hanya dirasakan oleh murid, tetapi guru sebagai pendamping pun turut merasakan, tantangan yang dirasakan oleh Ibu Eka adalah terkait provokasi positif yang disampaikan ke murid-murid apakah bisa diterima dengan baik atau tidak, agar anak-anak dalam membuat dan menghasilkan suatu karya berani mengeluarkan bakat dan ide terbaik yang dimiliki, karena dalam menghasilkan karya terbaik tidak melalui sebuah paksaan tetapi memberikan ruang yang membuat anak-anak merasa semangat dalam mengerjakan sebuah karya. Sedangkan menurut Ibu Dira menjelaskan untuk tahu kapan guru menjadi kompor dan kapan guru menjadi kipas, maksudnya untuk menjadi penyemangat anak-anak ketika sudah mulai merasa lelah dengan tugas-tugas, mengatur manajemen waktu bagi diri sendiri sebagai guru dan untuk murid, dan tentu mengontrol ekspektasi untuk tidak memaksakan ego kepada anak sehingga mengetahui batas kemampuan kemampuan murid dalam mengerjakan sebuah tugas. 

Asesmen Pameran Karya Merdeka Belajar

Pameran karya menjadi salah satu cara atau bukti dalam melakukan asesmen kinerja murid, pameran karya menjadi hal yang penting untuk dapat dilakukan di sekolah-sekolah, karena dengan pameran karya ini anak-anak dapat lebih memahami konsep dari suatu pelajaran, pameran karya juga dapat dilakukan dengan berkolaborasi dengan berbagai mata pelajaran yang menjadi daya tarik dan minat yang lebih bagi anak-anak dalam mengerjakan, dan melalui pameran karya ini memberikan kesempatan kepada murid untuk menunjukkan dan menyalurkan bakat, kreativitas, kompetensi kemandirian, cara berkomunikasi dan tanggung jawab atas pembelajaran yang mereka terima. 

Inspiratif sekali bukan.

Pemeran Karya bukan hanya mengenai nilai tetapi tentang pemahaman konsep mata pelajaran dan pengembangan skill-skill yang diperlukan untuk masa depan.

Jangan takut memulai dan membuat Pameran Karya, karena Pameran Karya itu menyenangkan.

Apakah Bapak/Ibu menjadi semangat untuk membuat pameran karya di sekolah masing-masing?

Kalau mau melihat pameran karya dari Azalia dan Rayyan bisa dilihat melalui link berikut :

http://bit.ly/pameran7smppj

https://bit.ly/3qKzAE3

Mau menonton Obrolan Guru Merdeka Belajar edisi Pameran Karya Murid Merdeka Belajar ini? Langsung tonton video berikut! 

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: