Mempersiapkan Pameran Karya Murid Merdeka Belajar

Penulis : Abdulaziz Hafidhurrahman | 6 Apr, 2021 | Kategori: Asesmen, Merdeka Belajar, Pameran Karya

Apa hal pertama yang muncul di pikiran Bapak Ibu ketika mendengar istilah Pameran Karya Murid? Apakah terbayang kumpulan karya murid dari kelas kesenian yang dipamerkan, kumpulan tugas-tugas yang dikerjakan murid, atau mungkin beberapa lembar kertas dimana murid menjelaskan mengenai prosesnya menghitung modal untuk jualannya? Ya, itu semua termasuk ke dalam karya murid. Namun beberapa hal tadi hanya contoh saja, pameran karya lebih luas daripada itu. 

Pameran karya adalah waktu murid dapat menunjukkan hasil karya yang dibuatnya ketika pembelajaran di kelas. Inti dari pameran karya bukanlah sekedar dari seberapa bagus hasil karya yang dibuat oleh murid, namun lebih menunjukkan bagaimana proses belajar murid dan bagaimana dampaknya bagi perkembangan dirinya. 

Ketika guru ingin membuat pameran karya, tentu banyak persiapan yang harus dilakukan. Mulai dari mempersiapkan lokasi, alur pembuatan karya, panduan, dan lain sebagainya. Namun, sebenarnya ada hal terpenting yang perlu dilakukan oleh guru untuk membuat pameran karya merdeka belajar, yaitu mempersiapkan murid. Ya, guru harus merancang strategi pembelajaran di kelas untuk dapat membantu murid mempersiapkan dirinya agar siap untuk membuat suatu karya. Apakah berarti mempersiapkan karya bukan hanya sekedar hal-hal teknis saja? 

Pameran Karya Murid

Pada tanggal 23 Maret 2021, Obrolan Guru Merdeka Belajar membahas mengenai topik “Bagaimana Mempersiapkan Pameran Karya Merdeka Belajar” bersama narasumber Marsaria Primadonna (Pima) dari Sekolah Cikal dan Titis Kartikawati (Titis) dari SDN 09 Sanggau.

Obrolan yang dipandu oleh Ira Ari Nuraini dari Kampus Guru Cikal ini membahas lebih mendalam mengenai bagaimana pameran karya digunakan sebagai asesmen terhadap belajar (assessment as learning). 

Asesmen terhadap belajar bertujuan untuk penilaian untuk mengukur pencapaian murid yang merupakan puncak dari proses belajar dan memberikan murid kesempatan untuk mendemonstrasikan apa yang telah dipelajari. Tujuannya untuk penilaian atau mengukur pencapaian murid. Asesmen ini tidak harus dilakukan di akhir pembelajaran 

Asesmen Terhadap Belajar dapat berfungsi menjadi beberapa elemen seperti: menginformasikan dan meningkatkan belajar murid dalam proses pengajaran, dapat mengukur konsep dan pemahaman murid dan mendorong murid untuk melakukan aksi untuk mencapai kompetensi yang dituju.

Lalu sebenarnya seberapa penting untuk guru dan sekolah melakukan pameran karya dalam proses pembelajaran? Menurut Guru Pima, pameran karya merupakan hal yang paling penting apalagi untuk pembelajaran yang berbasis proyek, “(Guru) melihat kinerja murid itu melalui apa yang dilakukan, keterampilannya, pengetahuan, dan kompetensi mereka, hasilnya pun tidak bisa sekedar angka namun juga dimensinya” tuturnya. 

Sedangkan menurut Guru Titis, pameran karya merupakan sebuah perayaan belajar. Hal ini yang membuat pameran karya menjadi acara yang paling ditunggu oleh murid. Selain itu pameran karya memberikan dampak positif bagi murid dan bisa membantu guru menilai tiga aspek dari murid, “Sebenarnya ada tiga aspek yang bisa tercapai, yaitu dari sikapnya, pengetahuannya, dan keterampilannya” tutur guru SDN 09 Sanggau ini. 

Baca Juga: Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid?

Sebagai perayaan belajar, pameran karya perlu dipersiapkan jauh ketika mempersiapkan proses pembelajaran di sekolah. Setidaknya sekitar 6 bulan sebelum dilaksanakannya pameran karya. Hal yang harus dipersiapkan guru untuk mendampingi murid dalam membuat pameran karya dimulai dengan menentukan tema besar yang akan menjadi pembahasan selama pembelajaran. Kemudian mengajak murid untuk berdiskusi mengenai hal yang menjadi minat/passion mereka, hal yang menjadi inspirasi, dan hal yang menjadi permasalahan yang menjadi perhatian murid. Hal ini menjadikan guru lebih memahami murid-muridnya. 

Dengan pola belajar design thinking, murid-murid dapat belajar juga untuk bisa berempati. Saat membuat sebuah karya atau proyek, murid perlu bisa menyampaikan dengan jelas alasan mereka memilih membuat proyek tersebut, “Memulai proses (pembuatan karya) penting untuk murid mengetahui dan menyampaikan alasan mereka membuat proyek tersebut dengan jelas. Sehingga mereka dapat benar-benar tahu seberapa bermakna proyek itu bagi mereka.” jelas Guru Pima. 

Sejalan dengan yang disampaikan oleh Guru Pima, Guru Titis juga mengatakan bahwa murid harus bisa mempertanggungjawabkan setiap karya yang dibuatnya, salah satunya dengan cara menulis laporan, “Saya meminta murid membuat laporan. Setiap mereka membuat proyek, pasti

ada laporannya. Berisi alasan mereka membuat proyek tersebut, latar belakangnya, tujuan, manfaatnya apa saja, sarana yang digunakan, dan cara membuatnya. Hal ini menjadi panduan untuk murid serta menjadi cara guru memahami murid.” cerita Guru Titis. 

Produk pameran karya bisa sangat beragam. Dari mulai produk yang sederhana seperti poster, video pendek, lukisan, makanan, hingga yang lebih kompleks seperti alat pengisi daya dari sepeda dan augmented reality. Namun, pameran karya bukan berarti menjadi ajang kompetisi untuk ‘canggih-canggihan’ hasil produk. Melainkan semua itu kembali ke apa tujuan dari produk yang dihasilkan murid dan bisa menunjukkan apa minat/passion terbaik dari murid-murid. 

Mempersiapkan pameran karya memerlukan perencanaan yang detail dan ada timeline yang tepat agar pameran karya bisa berjalan dengan lancar, “Sebulan sebelum pameran karya kita mulai membentuk tim kepanitiaan untuk teknis pameran karya, namun untuk persiapan pembelajaran tentunya disiapkan sejak awal tahun saat membuat RPP. Sebisa mungkin tujuan belajar dalam pembelajaran berbasis proyek bisa menggabungkan beberapa tujuan dari mapel yang berbeda.” jelas Guru Pima. 

Mengadakan Pameran Karya Murid di saat Pandemi

Pada sesi tanya jawab, ada beberapa pertanyaan yang muncul. Salah satunya dari Guru Arif Fauriyuddin, dimana ia bertanya mengenai pelaksanaan pameran karya di masa pandemi. “Masa pandemi karya siswa yang bagaimana yang bisa dipamerkan dan bagaimana cara menilainya.” tulisnya di kolom komentar. 

Selama masa pandemi, bukan berarti menjadi penghalang untuk membuat pameran karya. Justru saat ini, guru bisa memanfaatkan teknologi yang ada dengan mempersiapkan pameran karya virtual. Jika biasanya karya-karya murid dipampang di sebuah ruangan, maka dengan

teknologi guru bisa membuat ruang virtual untuk memajang karya murid. 

“Tentunya di masa pandemi ini sudah pasti kita akan memanfaatkan teknologi yang kita punya. Apapun itu teknologinya. Biasanya pameran di tempel di tembok, sekarang kita buat tembok virtualnya. Bisa pakai Google Sites, Streamyard, dan lainnya. Anak-anak membuat presentasinya, kemudian nanti bisa dipamerkan secara virtual.” jelas Guru Pima. 

Penilaiannya pun dapat dilakukan melalui bagaimana murid menjelaskan hasil karyanya melalui video presentasi dan sebagainya. Selain itu, pameran karya virtual lebih memungkinkan menjangkau lebih banyak audiens. “Saat pandemi ini justru akan bisa lebih menjangkau (banyak orang), menjangkau yang jauh-jauh juga yang gak bisa datang jika diadakan pameran secara offline. Kalau gak online gini, mana bisa dari Sanggau datang ke Cilandak gitu kan (untuk melihat pameran karya).” tambah Guru Pima sambil tertawa. 

Kemudian ada pertanyaan dari akun Dokos Dokos, “Bu… Karya apa saja (yang) dibuat anak dan bagaimana (tanggapan) guru-guru maupun orang tua. Bagaimana teknik pameran sampai selesai.” 

Guru Titis menceritakan mengenai proyek beberapa muridnya, “Karyanya murid bisa bermacam-macam, kita beri kesempatan dan tantangan kepada anak. Apa hal yang ingin ia buat. Ada murid yang suka makan, ia membuat satu resep makanan yang kemudian dihubungkan dengan pembelajaran IPA tentang organ pencernaan. Ia bisa hubungkan dengan kandungan gizi makanan tersebut.” 

“Ada pula murid yang membuat spons dari kain bekas karena melihat ibunya yang mencuci

piring hingga kulitnya mengelupas. Ia lakukan uji coba apakah sponsnya berfungsi. Saat dikumpulkan ia membawanya dalam keadaan basah, jadinya aromanya bau sekali.” tambah Guru Titis sambil tertawa. 

“Lalu saya bertanya kepada dia, kira-kira bisa gak kamu perbaiki agar proyekmu bisa terus lanjut dan bermanfaat. Ia lalu berkata, ‘Iya bu, boleh saya lihat Youtube atau dari sumber lain gitu’. Saya tanggapi, ‘Iya silahkan kamu bisa cari inspirasi, pokoknya silahkan dikembangkan terus agar bisa kamu jual’. Pada akhirnya ia membuat sarung tangan karet yang dilapisi dengan spons cuci piring. Terlihat sekali peningkatan dari proyek murid tersebut.” tutup Bu Titis. 

Setelah pameran karya selesai, bukan berarti langsung terhenti. Namun perlu tindak lanjut dari guru agar karya yang dihasilkan murid lebih bermakna. Karya yang dihasilkan diharapkan bisa terus dirasakan dampaknya oleh murid itu sendiri dan orang lain, serta dapat menjadi suatu karya yang terus diperjuangkan oleh murid karena mereka mengetahui tujuan dari karya tersebut. Sangat penting melakukan refleksi atas karya yang sudah dihasilkan murid agar bisa terus dikembangkan menjadi lebih baik. 

“Proyek yang dilakukan murid harapannya bisa menjadi sustainable, yaitu bisa dilakukan secara jangka panjang. Murid bisa mengembangkan terus proyek yang dilakukannya. Walaupun sudah keluar sekolah, murid bisa terus menjalankan dan memperjuangkan karyanya.” jelas Guru Pima. 

“Setelah melakukan pameran karya biasanya kita melakukan refleksi, kekurangannya apa dan apa yang bisa diperbaiki lagi dari karya tersebut agar bisa lebih baik.” cerita Guru Titis. 

Menariknya tindak lanjut pameran karya bisa diarahkan ke bidang perekonomian. Guru bisa mengajak murid membuat karyanya lebih diketahui oleh banyak orang dan menjadi karya yang layak untuk diperjualbelikan, “Kami memberi semangat kepada murid bahwa karya yang dibuat sebisa mungkin harus layak dijual agar bisa membantu perekonomian orang tua mereka. Setelahnya kami membuat barcode agar orang yang ingin melihat proses pembuatan karyanya bisa mengakses dengan mudah.” cerita Guru Titis. 

Pameran karya merupakan sebuah perayaan dari proses pembelajaran. Proses pembelajaran dimana guru menjadi pemantik yang memberikan tantangan, kesempatan, dan panggung untuk murid agar mereka bisa mengembangkan potensi diri dan minat bakatnya. Setiap sekolah pasti mempunyai karya yang bisa dipamerkan. Perayaan belajar bukan hanya perayaan untuk murid, namun juga perayaan bagi guru. 

Saksikan obrolan lengkap dari Obrolan Guru Merdeka Belajar
“Bagaimana Mempersiapkan Pameran Karya Merdeka Belajar?”
berikut ini:

Pernah menyelenggarakan Pameran Karya Murid?
Yuk ceritakan di media sosial dan gunakan tagar
#GerakanPameranKarya

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: