Pameran Karya Sekolah: Lebih dari Sekadar Promosi

Penulis : Devy Mariyatul Ystykomah | 2 Mar, 2021 | Kategori: Asesmen, Pameran Karya

Memamerkan karya anak dalam gelaran pameran karya murid di sekolah / madrasah bukan hanya soal promosi. Banyak hal yang terangkai di sana. Apa saja?

Menurut Marsaria Primadona, Manajer Program Sekolah Cikal dalam Obrolan #PemimpinMerdekaBelajar Minggu (21/2), tujuan pameran karya adalah berbagi. Karena dengan berbagi itu, anak/murid bahkan gurunya akan belajar dari tanggapan yang dilontarkan. Yakni, dari mereka yang menonton atau menyaksikan pameran karya tersebut. “Selain belajar percaya diri untuk memamerkan karyanya, juga mencari umpan balik dari karya-karya tersebut,” ungkapnya. 

Dipandu oleh Niamil Hida, Ketua Jaringan Sekolah Madrasah Belajar (JSMB), Primadonna atau yang akrab disapa Pima dalam acara yang diunggah dalam youtube channel Sekolah Merdeka Belajar ini juga mengatakan bahwa yang terpenting dari itu semua, justru bukan hasil atau produk akhirnya. Melainkan proses yang dilakukan anak. 

Pameran Karya Sekolah

Pengalamannya di Sekolah Cikal, apa yang dipamerkan anak memang bukan hanya produk akhir hasil karya anak. Tetapi juga proses dari awal sampai jadi. “Jadi anak mempresentasikan proses itu,” sambungnya. Sebelumnya Pameran ini diadakan di GSG Cikal. Tata caranya murid presentasi dan ada tamu yang dijadwalkan untuk melihat dan menyimak presentasi dari murid. Jadi murid mempresentasikan proses. 

Dalam praktiknya, ia kerap menggunakan formula ATAP, yakni awal, tantangan, aksi, dan perubahan ketika melihat anak melakukan proses karyanya. Di mana anak bisa memulai sendiri karyanya, dari tugas-tugas yang diberikan di hari-hari biasa, hingga menemukan tantangan, aksi, dan memberikan refleksi atas apa yang sudah mereka mulai. 

Pima menyebut konsep ini sebagai berpikir desain (design thinking). Di mana dalam menentukan karya awal yang dibuat diawali dari berempati (empathize). Yaitu wawasan utuh mengenai apa yang akan mereka kerjakan dengan alasan-alasan yang diutarakan si murid sendiri. Sebelum kemudian menetapkannya (define), menguji masalah tersebut dengan ide-ide mereka (ideate), lalu melakukan uji coba awal dan mengetesnya (prototype and testing). Setelah rentetan hal tersebut dilakukan, maka produk karya murid siap dipamerkan/diluncurkan (launch).

Di setiap pameran karya selalu ada lapisan mentoring, lapisan pameran karya yang dilakukan sebagai berikut:

  1. Murid memilih Tema dengan didampingi oleh bu Pima dan Guru Kelas.
  2. Murid-murid memilih mentor. Mentor bisa dari guru subjek atau dari guru jenjang lainnya asal tetap satu sekolah. Contoh, murid SD dibimbing oleh guru TK. Intinya murid berpasang dengan mentor yang memiliki passion tema yang sama.
  3. Sinergi. Setelah memilih mentor, jenjang berikutnya mentor ini dikoordinatori oleh guru kelas.
  4. Optimalisasi. Guru-guru kelas inilah yang dimentori oleh manajer/koordinator/kepala sekolah, dalam hal ini adalah Bu Pima.

Dengan adanya lapisan mentor seperti di atas, langkah pertama ialah mentor briefing menggunakan jamboard. Mentor Briefing ini dilaksanakan oleh guru kelas dan Pima. Isian kegiatanya ialah pertanyaan, jadi Pima dan guru kelas bertanya untuk brainstorming. Terkadang murid masih bertanya lagi tentang pertanyaan yang diajukan, jadi guru harus menanyakan dengan pertanyaan berlapis atau bisa disebut lebih rinci dan dapat ditangkap oleh murid. Usai brainstorming, baru membuat kesepakatan untuk menentukan kapan diskusi tentang persiapan pameran karya.

Baca Juga: Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid? 

Biasanya dengan kegiatan pameran karya seperti ini, guru menganggap tugas tambahan dan belum siap mengatur. Langkah yang dilakukan Pima ialah gerilya dan menanyakan ke guru apa saja yang perlu dibantu agar siap menjadi mentor. Bermula dari hal itu, Pima paham kebutuhan guru yang akan jadi mentor. Pima juga menawarkan bantuan dan siap terjun untuk membantu jika ada kesulitan di tengah mentoring. Ketika membentuk mentoring, harus ada perbandingan mentor dan murid. Agar seimbang dan sesuai target.

“Bu, bagaimana cara kita berempati dengan kebutuhan murid? Saya mengajar SMK dengan 300-an murid?” tanya Bu Eka Yuliana.

Di Cikal murid diberikan pilihan antara Pameran Karya atau Presentasi. Jadi tidak semua memilih pameran dan presentasi. Ada pula juga yang memilih kelompok, sebab bersinggungan dengan tugas mata pelajaran. 

Dalam komunikasi yang dilakukan, murid diberikan pilihan untuk menentukan. Jika ini dilakukan di SMK, malah lebih canggih dan bisa dibentuk kepanitiaan. Jadi murid bisa dilibatkan dalam penyelenggaraan. Jika di TK, bisa melibatkan orangtua.

“Itu teknik-teknik percakapan yang menggerakkan ya, Bu?” tanya Bu Umi Kalsum. 

Tentu saja, harus ada komunikasi yang terjalin antarguru, orangtua, dan murid. Hal ini akan memudahkan penyelenggaraan pameran. Maupun dalam proses menuju ke sana. Proses inilah yang nantinya akan memberikan percakapan-percakapan yang semakin mendekatkan guru dan murid, maupun para orangtua. 

Perkembangan saat ini, Bu Pima mengatakan memang dibutuhkan adaptasi untuk menggelar pameran karya di sekolah. Mengingat adanya pandemi dan semua dilakukan serba online. Namun menurutnya, hal itu malah menjadi keuntungan. Karena guru dan murid bisa makin kreatif dalam menyajikan proses dan hasil karyanya. (*)

Silakan tonton ulang Program Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar di bawah ini.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: