Menyambut Panduan Pembelajaran Jarak Jauh

Penulis : Ikbal H | 28 Aug, 2020 | Kategori: Bantaeng, Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Daerah

“Kami bukan robot, kami butuh istirahat”, begitu bunyi status WA murid kelas 3 yang kebetulan berteman dengan saya. Entah apa yang melatarbelakangi statusnya yang demikian, apakah karena tugas dari guru yang menumpuk? Bisa jadi. Memang, harus diakui, pembelajaran jarak jauh membawa guru pada kegamangan tanpa panduan. ‘Penutupan’ sekolah secara tiba-tiba membuat guru bingung harus mengajar seperti apa. Mereka belum punya gambaran sama sekali. Bahkan, bagi sebagian guru istilah itu mungkin baru didengar pertama kali. Di tengah kebingungan itu, satu-satunya cara yang diketahui oleh guru guna memastikan murid tetap belajar di rumah, hanya dengan membagikan tugas, tugas dan tugas. 

Sabtu 04 Juli 2020, Pemerintah Kabupaten Bantaeng melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Bantaeng meluncurkan panduan pembelajaran jarak jauh. Guna memberikan gambaran dan rambu-rambu bagaimana melaksanakan PJJ (pembelajaran jarak jauh) yang efektif dan efisien. Panduan Pembelajaran Jarak Jauh ini, tak bersifat teknis, karena bagaimanapun—menurut Pak Kadis—kerja-kerja teknis lebih diketahui oleh guru, sebab guru tentu lebih mengenal situasi dan kondisi di lapangan. Di akhir peluncuran, Pak Kadis mengingatkan bahwasanya untuk membahas lebih mendalam panduan ini, maka beliau mengharapkan organisasi profesi guru untuk melakukan kerja-kerja kebaikan guna mengawal rekan-rekan guru pada pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh yang bermakna. “ Saya berharap organisasi profesi guru bisa turut terlibat aktif merangkul teman-teman, belajar bersama, dan mendiskusikan lebih lanjut panduan ini.”

Menindaklanjuti hal tersebut, Komunitas Guru Belajar (KGB) Bantaeng di TPD ke-4 mengajak para guru untuk belajar bersama merancang desain rencana pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang dilakukan via live streaming di channel YouTube KGB Bantaeng. Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut di antaranya: Pak Hasirun (Koordinator Pengawas Kabupaten Bantaeng), Pak Drs. Pammusu (Ketua MGMP IPA SMP) dan Pak Very Fadly (Guru PJOK SD Inpres Tindangkeke) dan dipandu langsung oleh Pak Muhammad Yaqub selaku Host.

Panduan Pembelajaran Jarak Jauh

Meski dilaksanakan secara virtual untuk pertama kalinya, di tengah pandemic Covid-19. Antusiasme belajar guru sungguh luar bisa, tak kurang dari 40-an guru dengan pelbagai latar belakang jenjang pendidikan hadir dan menyaksikan diskusi tersebut.

Menjadi Guru Handal dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Narasumber pertama, Bapak Hasirun memaparkan bahwa untuk mendesain pelaksanaan pembelajaran mesti dimulai dari mengenal prinsip pembelajaran itu sendiri. Salah satu prinsip yang mesti dipegang teguh oleh guru adalah interaksi positif. Interaksi yang dibangun dari kesepakatan guru-murid. Interaksi yang baik hanya bisa terjadi jika komunikasi terjalin antara keduanya. Tak selalu didominasi oleh guru. Perlu diingat pula, bahwa komunikasi mesti juga melibatkan orangtua murid, sebagai ‘teman’ belajar murid di rumah. Guru harus peka melihat kondisi murid, orangtua dan lingkungan guna menyesuaikan dengan pembelajaran yang akan dilakukan. 

Panduan Pembelajaran Jarak Jauh

Nah, Pak Hasirun memberikan tips panduan bagaimana menjadi guru yang handal dalam melakukan Pembelajaran Jarak Jauh. Penasaran? Berikut tipsnya: 

Pertama, guru memberikan tugas yang simple pada murid, simple dalam artian bahwa tugas yang diberikan sedapat mungkin guru memberikan tugas kepada siswa, bukan tugas yang baru, tetapi tugas yang sudah pernah diberikan sebelumnya dengan modifikasi yang lebih jauh. 

pembelajaran jarak jauh

Kedua, guru harus membuat jadwal kegiatan mingguan. Hal ini sangat penting, agar murid mengetahui apa pelajaran dan keterampilan yang diperoleh pekan itu.

Ketiga, berani memodifikasi kurikulum. Memodifikasi kurikulum adalah bagian dari kemerdekaan yang diberikan pada guru, hal ini dimaksudkan agar guru dalam memberikan pengalaman belajar pada murid, bisa keluar dari kebiasaan yang ada. “Dengan begitu, maka ada kebebasan, keleluasaan dan keluar dari tekanan pada diri guru-murid dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.” Lanjut Pak Korwas.

Keempat, tetap menjadi guru. Menjadi guru di tengah pandemi menuntut guru untuk tahan banting. “Guru itu jangan mudah baper, terlalu tegang, dan jangan lemah, tetapi menjadilah guru seutuhnya; tegas, tapi penyayang.” Kata Pak Hasirun.

Kelima, isi atau konten mata pelajaran bisa dari mana saja. Ini memungkinkan terjadinya variasi sumber belajar agar murid tidak mudah bosan. Hal-hal yang berada di sekitar murid bisa mereka jadikan sebagai sumber belajar. Misalnya, belajar menghitung dari sampah-sampah yang ada di halaman rumah.

Mengajar adalah Melayani

Drs. Pammusu, ketua MGMP IPA selaku narasumber kedua menjelaskan bahwa, situasi pandemi mengklasifikasi model belajar siswa menjadi dua; daring dan luring. Berlapikkan pada dua model belajar tersebut, MGMP IPA menyiapkan dua jurus jitu, yaitu; membuat video pembelajaran dan juga modul pembelajaran. Dengan dua jurus tersebut, diharapkan kedua kelompok ini bisa terlayani dengan baik. Yang memiliki gawai bisa belajar dengan melihat video pembelajaran yang dibuat sendiri oleh guru mereka, sedang yang tidak dilengkapi fasilitas akan diberikan modul kegiatan murid. Kedua perlakuan berbeda inilah yang disebut dengan diferensiasi. Guru mengidentifikasi kebutuhan dan ketersediaan fasilitas belajar murid, lalu kemudian membuat desain pembelajaran sesuai dengan konteks yang ada. Murid dilayani betul dalam proses belajarnya.

“Video pembelajaran yang dibuat durasinya tidaklah panjang, cukup 8-10 menit dengan dengan penjelasan yang demonstratif agar murid tidak bosan dan bisa dipraktekkan murid di rumah secara mandiri.” Tutur Drs. Pammusu. Hal tersebut juga berlaku dengan modul luring bagi murid yang tidak dilengkapi fasilitas gawai. Modul yang diberikan sebisa mungkin memudahkan murid untuk mengerjakannya secara mandiri, mudah, tapi tidak dimudah-mudahkan. Sehingga anak benar-benar bisa berkembang kompetensinya. 

“ Ini adalah bagian kecil dari sumbangsih kami kepada para murid untuk melayani proses belajar mereka.” Tutup Pak Drs. Pammusu.

Baca Juga: Sekolah Lawan Corona

Guru adalah Desainer

“Saya memegang prinsip, anak adalah sekutu guru”, Pak Very membuka pembicaraan. Untuk menjadi sekutu yang baik, tentu harus mengenal murid dengan baik. Semakin kita mengenal murid, semakin mudah kita mengantarkan mereka pada pencapaian kompetensi. Bagaimana caranya mengenal murid? Apakah cukup dengan mengetahui nama mereka? Tentu tidak. Menurut Pak Very, mengenal murid bisa dengan membuat profil masing-masing, yang dipetakan dalam 4 hal: minat, gaya belajar, pekerjaan orangtua dan sarana prasarana. Hal ini menjadi penting, mengingat setiap anak berbeda. Karena mereka berbeda dalam banyak hal, rasanya sangat tidak bijak jika memperlakukan mereka sama dalam proses belajar. Contoh sederhananya, murid yang orangtuanya berada di tanah rantau, tak bisa diperlakukan sama dengan murid yang tinggal bersama orangtuanya. Juga murid yang sudah bisa belajar mandiri, tentu tidak bisa disamakan perlakuannya dengan murid yang masih butuh bimbingan guru. Begitu seterusnya.

Pak Very juga memperkenalkan kanvas RPP merdeka belajar, yang menurutnya bisa menjadi pijakan awal sebelum membuat RPP pembelajaran jarak jauh. Kanvas ini memberikan gambaran pada guru bagaimana model pembelajaran yang akan diberikan pada murid. Isi kanvasnya terdiri dari 5 item yang saling terkait: profil murid, tujuan pembelajaran, bukti dan asesmen, strategi pembelajaran dan cakupan. Kelima hal tersebut berperan penting dalam memandu guru untuk mendesain model pembelajaran yang bermakna bagi murid.

Di akhir penjelasan, Pak Very juga memperkenalkan konsep 5 M dalam merancang pembelajaran;

  1. Memanusiakan hubungan, adalah bentuk ikhtiar guru dalam menjalin relasi positif dengan murid dan orangtua. Guru yang baik tentu memiliki hubungan yang baik pula dengan murid. Hubungan yang harmonis akan membawa pada iklim pembelajaran yang kondusif dan nyaman.
  2. Memahami konsep, adalah upaya guru memberikan pemahaman mendalam pada murid, tak sekadar menguasai konten pembelajan. Muaranya adalah, murid dalam mengaplikasikan pengetahuannya ke dalam beragam konteks yang ditemui. 
  3. Membangun keberlanjutan, kunci membangun keberlanjutan adalah umpan balik yang diberikan oleh guru. Feedback bisa bermacam-macam, untuk kelas kecil bisa berupa motivasi belajar, sedang untuk kelas yang lebih tinggi, bisa memberikan masukan yang lebih spesifik pada bagian tugas yang mesti diperbaiki.
  4. Memilih tantangan, adalah memberikan kesempatan pada murid untuk menguasai kompetensi dengan proses yang berjenjang. Tantangan pilihannya akan bermakna bagi murid jika mereka memilih tantangannya sendiri.
  5. Memberdayakan konteks, adalah bagian dari proses belajar yang menyesuaikan dengan kondisi murid. Murid belajar dari hal-hal yang dekat dalam kehidupan mereka. Dalam konsep ini, sebisa mungkin guru menghindari memberikan tugas LKS tanpa disertai diskusi dan refleksi.

Rasa-rasanya apa yang disampaikan oleh ketiga narasumber di atas sangat kontekstual dengan kondisi yang dialami oleh guru-guru. Terlihat dari banyaknya komentar masuk, baik berupa apresiasi dan pertanyaan-pertanyaan seputar materi diskusi. 

“Narasumber telah memberikan gambaran bagaimana seharusnya pembelajaran jarak jauh itu berlangsung. Entah daring, luring dan kombinasi keduanya. Semuanya menurut saya adalah hal yang patut untuk dilakukan oleh guru sesuai dengan konteksnya masing-masing. Pendidikan memang harus dikeroyok, semua orang harus terlibat aktif guna menyiapkan generasi yang lebih baik.” Pak Yaqub selaku Host menutup diskusi.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: