Pasar Praktik Baik itu Bernama Kelas Kemerdekaan

Penulis : bukik | 15 Dec, 2020 | Kategori: Catatan Guru Belajar, Refleksi Guru Belajar

Mana yang lebih seru? Belanja di pasar tradisional atau di supermarket modern? Anda termasuk tim mana?

Kalau tim pasar tradisional dan tim supermarket modern berjumpa, bisa berdebat berhari-hari membahas mana yang lebih seru. Pasar tradisional maupun supermarket modern mempunyai kelebihannya sendiri.

Pasar tradisional lebih kaya dengan interaksi, bisa bercakap-cakap dengan beragam orang, ada beragam barang termasuk yang tidak diduga, kualitas barang tidak terstandar dan kondisi pasar biasanya becek atau tidak terlalu nyaman.

Supermarket modern lebih nyaman dikunjungi, bersih dan dingin, persediaan barang terencana, kualitas barang terstandar, suasanya lebih tenang, dan tanpa atau sedikit percakapan yang terjadi.

Bila sudah jelas barang yang dibutuhkan, dan waktunya terbatas, bisa jadi supermarket modern adalah pilihan terbaik. Bila ada waktu, butuh interaksi dan mencari barang yang otentik, bisa jadi pasar tradisional adalah pilihan terbaik.

Apa hubungannya dengan kelas kemerdekaan? Sabar 🙂

Dalam ekosistem guru lebih dikenal kegiatan pengembangan guru yang karakteristiknya mirip supermarket modern. Topik direncanakan, kualitas terstandar, pelaksanaan di ruang yang nyaman, dan suasananya cenderung tenang. Karakteristik yang penting untuk proses pengembangan kompetensi guru yang terstruktur.

Kita butuh tapi tidak boleh tergantung pada pembelajaran kompetensi yang terstruktur sebagai satu-satunya mode pengembangan kompetensi guru. Karena proses yang mirip pasar modern tersebut tidak memadai untuk menjawab dinamika kebutuhan di lapangan. Semakin banyak tantangan, semakin butuh beragam solusi yang praktis.

Moda pengembangan kompetensi guru yang mirip dengan karakteristik pasar tradisional menawarkan sudut pandang baru. Lebih banyak percakapan reflektif, berjumpa lebih banyak orang, dan lebih besar kemungkinan menemukan praktik yang otentik.

Pada Temu Pendidik Nusantara, moda pertama disebut sebagai Kelas Kompetensi dan moda kedua disebut Kelas Kemerdekaan. Mana yang lebih seru? Keduanya 🙂

Kelas Kemerdekaan diisi beragam pembicara mulai dari guru yang baru mengajar dua tahun hingga guru dan ahli yang sudah berpengalaman. Seperti pasar tradisional, Kelas Kemerdekaan lebih chaos, beragam dan lebih banyak diwarnai antusiasme para pembicara baru. Dalam hal antusiasme, tidak ada yang mengalahkan amatir.

Kelas Kemerdekaan menjadi langkah pertama bagi guru mana pun melakukan rintisan. Bisa rintisan dalam berkarier, bisa rintisan mengenalkan praktik baik pembelajaran atau kepemimpinan yang baru diterapkan. Pengembangan praktik baik tidak bisa langsung lengkap dan sempurna tapi melalui upaya mencoba, membagikan, mendapatkan umpan balik dan melakukan perbaikan penerapan selanjutnya.

Siapa yang bisa mengisi Kelas Kemerdekaan? Semua guru yang telah mengajar setidaknya 1 tahun. Mengapa? Dalam 1 tahun, semua guru pasti mengalami banyak tantangan. Dari sejumlah tantangan tersebut, pasti ada tantangan yang berhasil diselesaikan. Pengalaman mengatasi tantangan tersebut layak dibagikan di kelas kemerdekaan.

Apa manfaat Kelas Kemerdekaan? Pada kelas konversi kemerdekaan sebenarnya sedang terjadi proses konversi dari pengetahuan tacit (tacit knowledge) yang dipraktikkan sehari-hari menjadi pengetahuan eksplisit yang dibagikan pada guru yang lain. Dengan melakukan konversi tersebut, guru yang menjadi narasumber Kelas Kemerdekaan menjadi berkembang kompetensinya pada level yang lebih kompleksi dibandingkan pengembangan kompetensi sebagai peserta pelatihan.

Apa pentingnya pemimpin sekolah/madrasah memotivasi gurunya mengisi Kelas Kemerdekaan?

Riset yang dilakukan oleh Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) menunjukkan bahwa kompetensi literasi murid yang diajar oleh guru yang berbagi praktik baik pembelajaran di Kelas Kemerdekaan hingga level Temu Pendidik Nusantara LEBIH TINGGI dibandingkan murid yang gurunya tidak berbagi praktik baik pembelajaran. Kesimpulan tersebut terjadi baik di Kota Batu yang perkotaan maupun Kabupaten Probolinggo yang pedesaan. (Baca di Kilas 22 dan Kilas 23)

Jadi, bila Anda seorang pemimpin sekolah/madrasah yang ingin meningkatkan kompetensi literasi murid, maka salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah memfasilitasi guru berbagi praktik baik pembelajaran dengan format Kelas Kemerdekaan di level sekolah, level kecamatan, level daerah hingga level Temu Pendidik Nusantara. Lebih optimal lagi, bila mekanismenya diintegrasikan dengan manajemen kinerja sekolah. (Mari kita diskusikan lebih lanjut)

Kembali ke pasar tradisional 🙂

Kelas Kemerdekaan prosesnya lebih egaliter sebagaimana di pasar tradisional. Di Kelas Kemerdekaan, tidak ada ahli yang super bisa. Semuanya dianggap setara karena itu dihindarkan tanya jawab ke narasumber. Pertanyaan yang ada adalah pertanyaan reflektif yang dijawab oleh semua orang, pembicara maupun peserta.

Tapi sebagaimana pasar tradisional, proses di Kelas Kemerdekaan lebih chaos, setidaknya jauh dari tertata. Ada pembicara yang mungkin masih mengalami kebingungan sehingga kurang fokus dan bahkan melenceng pembahasannya. Ada pembicara yang belum bisa memahami pentingnya kenyamanan peserta dalam belajar. Dua keluhan yang disampaikan seorang guru kepada saya mengenai proses Kelas Kemerdekaan di Temu Pendidik Nusantara ke-7.

Tapi begitulah pasar tradisional, meski ramai, meski becek, meski chaos, tapi orang tetap berkunjung. Begitu pula di Kelas Kemerdekaan, peserta hadir untuk untuk berjumpa rekan seperjuangan, untuk melakukan percakapan bermakna, dan untuk menemukan solusi-solusi yang di luar dugaan. Apabila pada sebuah Kelas Kemerdekaan tidak menemukan solusi yang dicari, bergeser lah pada Kelas Kemerdekaan yang lain. Ada ratusan pilihan Kelas Kemerdekaan, sebagaimana ratusan lapak di pasar tradisional.

Ayo merdeka belajar mulai dari Kelas Kemerdekaan 🙂

Tulisan ini adalah refleksi dari pelaksanaan Temu Pendidik Nusantara ke-7.

About the Author

One thought on “Pasar Praktik Baik itu Bernama Kelas Kemerdekaan”

Leave a Reply

%d bloggers like this: