Pelatihan Keterampilan Belajar untuk Murid Disabilitas

Penulis : Rofiqoh Istighfar | 20 Apr, 2020 | Kategori: Pelatihan Non-Guru
pelatihan bagi penyandang disabilitas

Keysia adalah murid penyandang tunadaksa yang memiliki hobi di bidang komputer dan memiliki cita-cita untuk berkuliah di Udinus Semarang. Pagi itu Keysia diantar oleh gurunya Pak Purwanto menuju ruang pelatihan keterampilan belajar untuk murid disabilitas. Ia melaju dengan kursi rodanya dengan menebar senyum kepada setiap teman yang ditemuinya.

Lain cerita dengan Anas. Jauh-jauh datang dari Kebumen dengan diantar bapaknya, Anas rela datang ke Semarang satu hari sebelum pelaksanaan pelatihan. Murid kelas XII dari SMA Prembun ini yang juga penyandang tuna ganda bercita-cita ingin menjadi guru dan berkuliah di UNY. Keysia dan Anas merupakan dua orang murid disabilitas yang mendapat beasiswa untuk mengikuti pelatihan keterampilan belajar sebagai persiapan untuk menuju bangku perkuliahan.

Perjalanan Program Pendidikan Untuk Semua yang dilaksanakan oleh Nusantarun merupakan perjalanan yang cukup panjang dan tidak mudah. Sangat bahagia rasanya, saya bisa mendampingi program sampai pada di titik ini. Program demi program telah dilalui mulai dari Pelatihan Pemetaan Potensi Murid Disabilitas untuk Guru BK/Pendamping Sekolah Inklusi, pemberian beasiswa TPN untuk guru, Seminar Orangtua Murid Penyandang Disabilitas, dan yang terakhir baru saja dilaksanakan Pelatihan Keterampilan Murid Disabilitas. 

Bertempat di gedung BP2KLK Semarang sebanyak 45 murid disabilitas dari berbagai SLB dan sekolah inklusi di Jawa Tengah yang mendapat beasiswa mengikuti pelatihan keterampilan belajar sebagai persiapan menuju bangku perkuliahan. Saya merasa terharu ketika bertemu dan dapat berinteraksi langsung dengan mereka. Dari pelatihan ini saya bisa merasakan bagaimana semangat dan antusias murid disabilitas kelas XII ini untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Acara berlangsung selama dua hari mulai dari tanggal 10-11 Maret 2020.

Kegiatan dimulai dengan orientasi pelatihan. Peserta dibagi kedalam 5 kelompok, masing-masing kelompok ada 1 pendamping. Yang menarik adalah setiap kelompok terdiri dari murid dengan berbagai jenis disabilitas. Kemudian masing-masing kelompok diminta duduk membuat lingkaran kecil. Peserta secara bergantian diminta berkenalan dengan menyebutkan nama dan mengatakan kesenangan sambil diperagakan. Kegiatan perkenalan ini membuat murid saling mengenal nama dan kesenangannya satu sama lain. Sehingga mulai dari topik tersebut, terjalinlah komunikasi diantara mereka. Namun yang menjadi tantangan adalah bagaimana anak dengan jenis disabilitas yang berbeda bisa saling memahami apa yang disampaikan. Misalnya anak tunarungu dengan tunanetra, anak autis dengan anak tunarungu, ataupun sebaliknya. Oleh karena itu, peran pendamping kelompok dan penerjemah bahasa isyarat sangat membantu dalam kegiatan ini. Peserta juga tampak saling membantu karena melihat kesulitan yang dihadapi teman lainnya. 

Selanjutnya Bu Wani sebagai pelatih menyampaikan materi tentang keterampilan belajar. Apa saja keterampilan yang perlu disiapkan untuk murid siap kuliah? Keterampilan komunikasi? Keterampilan belajar? Biasanya seorang mahasiswa mendengarkan penjelasan materi kuliah dari dosen atau melakukan presentasi dengan menampilkan slide power point. Dalam kegiatan ini, peserta berlatih memberikan pendapat tentang bagaimana membuat slide presentasi yang baik dengan kegiatan identifikasi dua slide presentasi yang berbeda. Peserta kemudian diminta oleh Pelatih untuk menuliskan perbedaannya dan menuliskan bagaimana membuat slide presentasi yang baik dan mudah dipahami serta bagaimana menyampaikan presentasi dan menangkap materi supaya bisa dipahami. Tujuan dari kegiatan ini bagi murid adalah untuk mengetahui bahwa komunikasi yang digunakan harus jelas. Misalnya pada tunanetra, slide dijelaskan secara verbal konten yang dimuat, sedangkan untuk sebagian besar anak yang bukan tuna netra lebih nyaman berkomunikasi melalui gambar atau bahasa isyarat. Pada intinya, cara berkomunikasi yang digunakan setiap anak akan berbeda menyesuaikan dengan keunikan anak. 

Mengikuti pelatihan murid disabilitas

Sesi berikutnya peserta diajak mengenali diri dengan membuat peta berpikir. Kemudian masing-masing peserta dipandu untuk melakukan presentasi dari gambaran diri yang sudah dibuat di depan teman-teman kelompoknya. Bu Wani mengingatkan bahwa untuk melakukan presentasi yang baik perlu memiliki keterampilan komunikasi. Uniknya, dalam melakukan presentasi peserta tuna rungu menunjukkan usahanya melakukan presentasi dengan sebaik mungkin dengan membuat gambar yang menarik dan tulisan-tulisan pada peta berpikir serta dengan bantuan penerjemah bahasa isyarat sehingga bisa dipahami oleh teman-teman lainnya yang menyimak presentasi. Setelah semua peserta melakukan presentasi, peserta dipandu pelatih untuk berefleksi dengan diminta menyebutkan kembali hal apa saja yang diperlukan untuk melakukan presentasi yang baik dan memahami hal apa yang perlu ditingkatkan ketika melakukan presentasi. Peserta juga diminta untuk mengungkapkan perasaannya sebelum dan setelah presentasi dan dituangkan ke dalam post-it. Ardyan, salah seorang murid tuna rungu menuliskan “Sebelum presentasi yang aku rasakan : malu, tegang, grogi. Setelah presentasi : senang, lega dan puas”. Lain hal nya dengan Ayu yang merupakan siswa tunanetra, dirinya mengungkapkan “Saya percaya diri, dan saya juga merasa senang karena saya bisa mempresentasikan diri saya sendiri. Meskipun awalnya merasa takut”.

Hari terakhir, Bu Wani menginstruksikan kepada para peserta untuk berdiskusi dalam kelompoknya dan menyampaikan ide tips siap kuliah. Mereka dibantu oleh pendamping berbagi tugas sesuai dengan keterampilan yang dimiliki. Misalnya dalam menyelesaikan tantangannya siswa tunanetra dan tunadaksa bertugas memberikan ide-ide nya sedangkan siswa tunarungu dan autis bertugas memvisualisasikan ide-ide tersebut ke dalam poster. Setiap kelompok memiliki cara yang unik dalam melakukan diskusi dan menyelesaikan tantangan. Ini pertama kalinya saya melihat anak-anak berkebutuhan khusus dengan jenis disabilitas yang berbeda-beda saling berdiskusi dalam kelompok dan saling bekerjasama menyelesaikan tantangan. Di luar dugaan saya, ternyata mereka bisa saling berkolaborasi bahkan dengan cara-cara yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Setelah semua kelompok menyelesaikan poster kemudian poster ditempel di dinding agar kelompok lain bisa melihat. Sesi materi ini ditutup oleh Bu Wani dengan menuliskan refleksi mengenai apa saja yang sudah dipelajari selama dua hari mengikuti pelatihan. 

Pelatihan bagi murid disabilitas

Sesi selanjutnya disampaikan oleh Bu Winda yang menjelaskan terkait beasiswa Nusantarun di empat perguruan Tinggi yang sudah bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal. Dalam sesi ini, para murid terlihat sangat antusias bertanya kepada Bu Winda mengenai teknis, timeline, dan seleksi masuk ke perguruan tinggi. Kemudian pelatihan ditutup dengan cerita dari kakak-kakak pelari Nusantarun yaitu Kak Amin dan Kak Fifin yang juga sekaligus menjadi pendamping murid pada pelatihan. Sembari memutarkan video, Kak Fifin dan Kak Amin menceritakan kisah para pelari Nusantarun yang berjuang untuk mengumpulkan donasi dan berkomitmen lari dari Wonosobo ke Gunungkidul dengan menempuh jarak 169 km demi membantu murid-murid disabilitas untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. “Kak Fifin dan Kak Amin ada disini untuk kalian. Kak Fifin berlari karena Kak Fifin sayang sama kalian semua. Kalian adalah inspirasi dan semangat buat kak Fifin untuk berlari. Kak Fifin ingin kalian jangan pernah menyerah ya adik-adik. Terus belajar dan raih cita-cita kalian. Kalian pasti bisa kuliah” kata Kak Fifin memberikan semangat kepada para murid yang mengikuti pelatihan. Beberapa dari mereka bahkan tidak dapat menahan rasa harunya dan meneteskan air mata saat mendengar cerita dan kata-kata semangat dari Kak Fifin dan Kak Amin. Dari cerita Kak Fifin dan Kak Amin saya menyaksikan bahwa semangat para pelari untuk mewujudkan program pendidikan untuk semua tidak main-main yaitu dengan membuat support system yang baik bagi murid penyandang disabilitas. 

Pelatihan Murid Disabilitas

Tak terasa dua hari pelatihan berjalan begitu cepat. Keakraban yang mulai terjalin antar peserta dan kakak-kakak pendamping membuat pelatihan ini semakin enggan berakhir. Hal ini tercermin dari beberapa komentar murid yang mengikuti pelatihan.

“Perasaan saya sangat senang ikut pelatihan ini. Jadi banyak temen baru sama lebih siap kuliah. Kurang lama pelatihannya. Pengennya seminggu. Karena belum pengen pisah sama teman-teman dan kakak-kakak pendamping”- Nadaina, murid kelas XII SMA Sunan Ky Ageng Giri.

“Aku bahagia dan jadi semakin bersemangat untuk kuliah setelah belajar power point dan presentasi. Aku jadi punya banyak teman baru disini”-Isyam, murid kelas XII SLB Negeri Semarang. 

Dari dua hari pelatihan ini saya menyaksikan bahwa keterbatasan bukan hambatan untuk belajar dan meraih pendidikan yang lebih tinggi. Karena pendidikan adalah hak semua anak. Termasuk hak mendapatkan akses pendidikan tinggi bagi murid penyandang disabilitas.

Baca Juga: Surat Kabar Guru Belajar edisi Pendidikan Untuk Semua

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: