Pembelajaran Efektif dengan Metode Grid

Pembelajaran Efektif dengan Metode Grid

Bapak dan Ibu Guru merasa murid banyak yang pasif? Ketika diberi pertanyaan hanya satu atau dua murid yang merespon? Ingin pembelajaran efektif? Jangan khawatir pertanyaan tersebut akan terjawab pada pengalaman Bu Irma. Bu Irma Nurul Fatimah adalah guru dari SMP Lazuardi Al-Falah GCS. Pada tahun pelajaran baru memiliki tantangan baru juga, karena pandemi terjadi pada awal tahun 2020, maka Bu Irma melaksanakan pembelajaran secara daring. Bu Irma juga harus menggantikan guru matematika yang dipindah tugaskan. Bebannya bertambah karena harus belajar matematika kembali. Masalah tersulit ketika murid menganggap matematika pelajaran yang menakutkan. Meskipun guru sudah ramah, tetapi murid masih takut.

Bu Irma mencoba untuk belajar kembali dengan mengikuti beberapa modul online tentang matematika dan asesmennya. Bu Irma mulai memahami perbedaan asesmen formatif dan sumatif. Asesmen formatif dilaksanakan secara berkala ketika pembelajaran dan bertujuan untuk memberikan umpan balik tentang rencana tindak lanjut yang akan dilakukan guru terhadap muridnya.

Bu Andri juga berpesan kepada Bu Irma,

“Pemahaman murid-murid perlu dikaji secara berkala, Bu, agar kita tahu apakah mereka sudah paham atau belum.”

Melalui catatan dari Bu Andri, guru matematika yang sekarang sudah pindah tugas, Bu Irma mulai mengamati beberapa kemampuan murid-muridnya. Kemampuan murid-muridnya sangat beragam, seperti di kelas 8 ada 20% murid memiliki kecepatan dalam memahami materi dan pernah beberapa kali memenangkan perlombaan matematika. Ada 40% murid yang membutuhkan bimbingan ketika mendapatkan jenis soal yang lumayan sulit. Ada 30% murid yang perlu dipandu dalam memahami maksud soal. Dan ada 10% murid yang tidak memahami materi.

Bu Irma mencoba menenangkan diri dengan menarik napas panjang untuk menyakinkan diri. Lalu Bu Irma memulai persiapan materinya, pelajaran pertama adalah tentang bilangan. Dengan mempelajari kembali konsep bilangan menggunakan gradasi yang lebih tinggi muatannya dibandingkan materi kelas 7. Lalu mengulang kembali tentang bilangan positif dan negatif, ternyata murid-murid kelas 8 sudah paham semua. Tetapi masalah dimulai ketika memasuki konsep bilangan berpangkat. Bu Irma mulai dari pangkat dua dan pangkat tiga. Ketika mengamati murid-muridnya, ternyata hanya satu atau dua murid saja yang merespon pertanyaannya ketika pembelajaran daring. Sisanya diam. Bu Irma mencoba cara lain.

“Coba ketik angka satu apabila kalian mengerti dan angka dua jika tidak mengerti.”  

Tiba-tiba deretan angka satu langsung tertulis di kolom chat. Semua murid menyatakan mengerti. Pada pertemuan berikutnya, Bu Irma memberikan beberapa soal untuk mengukur pemahaman murid-muridnya tentang bilangan kuadrat dan pangkat tiga. Ternyata, ada 50% murid kelas 8 belum memahami konsep bilangan kuadrat dengan baik. Dugaan Bu Irma ternyata salah karena masih banyak yang belum mengerti materinya. Akhirnya Bu Irma memutuskan untuk mengumpulkan hambatan apa yang terjadi.

“Ibu lihat kalian masih ada yang bingung dengan beberapa soal. Silakan bertanya. Bagian mana yang membingungkan?”.

Murid hanya diam saja, tidak ada yang merespon. Ternyata sulit untuk membuat murid bertanya. Bu Irma membuka-buka kembali catatan dari guru sebelumnya. Lalu menghubungi satu persatu murid yang tidak pernah merespon dan ada catatan tentang kesulitan murid dalam memahami matematika.

“Aku tadi mau tanya, tapi bingung mulainya,” ucap Danu.

“Aku kayaknya sudah ngerti, sih. Tapi begitu mendapat soal, kok bingung lagi,” ucap Rina.

“Aku malu mau tanya. Habis nggak ada yang nanya. Sebenarnya aku belum mengerti sih,” ucap Vina.

Murid lainnya juga menjawab seperti itu, menunjukkan bahwa murid-murid tidak nyaman ketika bertanya di depan teman-temannya. Ada perasaan kurang percaya diri ketika yang lain kelihatan paham. Bu Irma sadar apabila situasi seperti itu berlanjut maka murid-murid akan kehilangan kesempatannya untuk memahami materi. Situasi dan kondisi pembelajaran daring ternyata membutuhkan pengamatan yang lebih teliti. Membutuhkan strategi pengajaran dan asesmen formatif sebagai data untuk tindak lanjut. Bu Irma mencoba mencari cara untuk membuat pembelajaran efektif.

Baca Juga : Media Ajar yang Menarik untuk Asesmen

Setelah beberapa kali browsing, akhirnya Bu Irma menemukan metode Grid yang diterapkan oleh pengajar yang ada di luar negeri.  Metode Grid adalah suatu sistem asesmen formatif yang menerapkan diferensiasi kepada murid. Metode ini memanfaatkan dua aplikasi dalam penerapannya, yaitu Google Slide dan Google Sheet.

Level Soal

Caranya murid diberikan soal secara bertahap. Soal yang pertama dan kedua cukup mudah. Lalu level soal berikutnya perlahan naik, hingga bentuknya kompleks. Setiap murid diberi salinan soal melalui Google Classroom.  Bu Irma mengajak murid-muridnya agar tidak takut salah ketika mengerjakan matematika. Lalu memberikan motivasi terkait latihan tersebut bahwa setiap kali belajar sesuatu yang baru, pasti ada yang belum diketahui. Murid-murid dapat mulai mengerjakan soal pertama, kedua, dan seterusnya. Jika sudah selesai mengerjakan soal, tersedia “selesai”  yang dapat diklik. Jika belum selesai, murid mengklik tombol “mengerjakan”. Tersedia juga kolom status yang diklik. Jika murid-murid merasa kesulitan, dapat mengklik tombol “butuh bantuan”. Jika ragu, murid dapat mengeklik “periksa saya”. Jika sudah merasa yakin dengan jawabannya, murid dapat menulis “sudah bisa”.

Dengan bertahap Bu Irma menghubungi murid-muridnya secara pribadi untuk berdiskusi tentang bagian mana yang masih dirasa sulit. Dengan mengambil waktu beberapa saat dan menjelaskan cara mengerjakan soal yang belum dipahami. Murid bisa mengerjakan soal kapan saja, karena murid-murid mempunyai kebebasan untuk mengumpulkan tugasnya minggu depan.

Maka dengan cara tersebut, murid tidak akan tergesa-gesa dan bebas meminta bantuan tanpa harus diketahui teman-temannya. Bu Irma mencoba soal pertama yang dikerjakan murid ketika pembelajaran daring. Akhirnya Bu Irma dapat membantu murid-muridnya yang kesulitan dalam mengerjakan soalnya. Setelah itu memastikan murid paham tentang bagaimana cara mengerjakan soalnya. 

Tabel Rekam Jejak Tugas

Setelah seminggu Bu Irma mengamati tabel-tabel yang terdapat di Google Sheet. Terlihat di tabel, bahwa murid-muridnya mulai mengerjakan. Bu Irma mengetahui siapa yang lebih cepat mengerjakan soal. Dengan bantuan tabel rekam jejak tugas, Bu Irma uga dapat melihat siapa saja yang memerlukan bantuan. Praktik asesmen formatif juga disesuaikan dengan kondisi setiap murid. Dalam pembelajaran daring Bu Irma juga akan memberikan umpan balik. Apabila ada perlu sedikit revisi, tinggal memanfaatkan kolom private comment. Untuk menjaga kepercayan diri murid, Bu Irma menghubungi secara pribadi dengan mengatur waktu untuk memberikan penjelasan lebih detail. Lalu bagi murid yang sudah mengerti diberikan umpan balik melalui private comment di Google Slide. Lalu bagi murid yang sudah paham materinya, akan diberikan soal bonus yang lebih menantang supaya dapat melatih cara berpikir kritis terhadap permasalahan.

Semenjak Bu Irma menerapkan asesmen formatif dengan metode Grid, murid terlihat lebih mandiri dalam menyelesaikan soal matematika. Bagi murid-murid yang kurang memahami materi terlihat merasa nyaman pada saat menyampaikan masalahnya. Murid-murid yang belajar merasa tidak nyaman jika kelemahannya diketahui teman-temannya. Murid memiliki rasa peka terhadap penampilan di kelas. Meskipun pembelajaran daring, tetapi masih ada perasaan tertekan ketika harus menyampaikan pendapat atau pertanyaan. Apalagi dalam pelajaran matematika yang dianggap sulit dan menakutkan bagi murid-murid. Tugas guru adalah menemukan cara yang tepat untuk menghadapi kondisi tersebut agar pembelajaran efektif. Menurut Bu Irma metode belajar dan asesmen yang tepat adalah kunci keberhasilan dalam kelas online seperti pembelajaran efektif dengan metode Grid. Meskipun tidak mudah, dalam menyesuaikan diri dengan keadaan. Percaya saja, ketika terus mencari cara, pasti dapat menemukan jawabannya.

Bagaimana Bapak dan Ibu Guru apakah pengalaman Bu Irma dapat memberikan inspirasi? Bapak dan Ibu Guru jangan lupa ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran efektif lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidikan Nusantara VIII! 

Klik : https://tpn.gurubelajar.org

Sumber : Surat Kabar Guru Belajar Edisi 3 Tahun Keenam

About the Author
Penulis Cerita - Desainer Program Guru Belajar | Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Surabaya

Leave a Reply

%d bloggers like this: