Kapan Pendidikan Indonesia Maju?

Penulis : Kusuma Putri Wijayanti | 26 Jan, 2021 | Kategori: Merdeka Belajar, Temu Pendidik Nusantara

Apakah Pendidikan Indonesia jalan di tempat?
Lalu kapan Pendidikan di Indonesia akan semakin maju?

Sekolah-sekolah bergerak mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan terknologi secara masif di era digitalisasi yang datang lebih cepat di Indonesia terutama di masa pandemi sekarang ini, menjadi pintu gerbang bagi guru untuk berani berinovasi. Jika tidak bisa mengikuti perkembangan dan tidak mendorong ke arah yang lebih maju, tentu Indonesia akan menjadi primitif. Percepatan era digital yang lebih cepat dari apa yang diperkirakan, jika sekolah-sekolah tidak segera beradaptasi tentu akan menjadi sekolah dengan segala ketertinggalannya. 

Tidak mau bukan kalau pendidikan Indonesia tidak berkembang?

Perkembangan teknologi justru bisa menjadi modal dalam memperbarui secara terus menerus pengetahuan, keterampilan, kompetensi dan kemampuan dalam berbagai bidang untuk memenuhi tuntutan globalisasi. Era digital telah banyak mengubah berbagai hal dalam kehidupan, terutama dalam kepentingan pendidikan, karena akan menjadi terobosan yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, dan meningkatkan kualitas pendidikan serta sumber daya manusia khususnya dalam ranah pendidikan. Transformasi pendidikan sudah menjadi keharusan untuk dilakukan sebagai jawaban atas tantangan dan kompetensi di era digital dan abad ke-21. 

Seperti yang diketahui acara #BelajarDiTPNVII pun memanfaatkan kemajuan dan kecanggihan teknologi karena acara Konferensi Tahunan Pendidikan ini dilakukan secara virtual dimana bisa diakses dan diikuti oleh siapa saja dan dimana saja. Temu Pendidik Nusantara VII menjadi salah satu contoh bukti nyata bahwa sekolah, guru, orang tua, murid, dan stakeholder mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi akan mendorong dunia pendidikan terutama sekolah-sekolah untuk bisa menciptakan, menghasilkan bahkan mempraktikan program-program yang mendukung perkembangan pendidikan. 

Kapan Pendidikan Indonesia Maju?

Terlihat pada acara Temu Pendidik Nusantara VII adanya sesi diskusi yang diisi oleh narasumber dari berbagai sekolah dan daerah, narasumber tersebut antara lain Ibu Ratih Saraswati perwakilan dari Sekolah Cikal, Bapak Johanes Eko Prasetyo perwakilan dari Sekolah Kristen Aletheia, Ibu Enik Chairul Umah, M.Si, M.Pd perwakilan dari SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo, dan Bapak Edi Gunawan, M.Pd perwakilan dari MTs Al Muthiyah. Pada sesi diskusi atau lebih tepatnya sharing mengenai program sekolah yang dikembangkan di sekolah masing-masing, yang diharapkan dapat memberikan inspirasi dan insight baru bagi guru, sekolah dan pendidikan Indonesia. Mari kita kulik satu per satu apa saja program-program yang akan dibagikan kepada kita semua.

Baca juga #BelajarDiTPN7 Bersama #1000Pembicara

Ibu Ratih Saraswati sebagai perwakilan dari Sekolah Cikal Surabaya, Bandung, Serpong, dan Jakarta memaparkan keresahan yang dirasakan selama di sekolah dimana sekolah ingin mengembangkan dimensi-dimensi yang tertuang dalam visi misi sekolah, seperti dimensi peduli, dimensi berorientasi pada aksi, dan dimensi pemimpin yang berdampak. Dari visi misi sekolah inilah ingin mencetuskan sebuah program yang diharapkan bisa berjalan secara keberlanjutan bukan sebuah program yang sekali kegiatan lalu tidak menimbulkan dampak yang terlihat. Berdasarkan kompetensi 5 bintang yang dimiliki oleh Sekolah Cikal sebagai visi misi ini melahirkan program yang bersifat berkelanjutan mulai dari pra-sekolah sampai SMA, yang disebut dengan program Cikal Aksi-Aksi (CAA). Cikal Aksi-Aksi yang dilakukan secara berjenjang ini dikembangkan dalam setiap kegiatan sosial baik bencana alam atau kegiatan yang berkaitan dengan perayaan keagamaan.

Pelaksaan CAA ini mengalami beberapa kendala terutama untuk anak-anak pra-sekolah mulai dari usia, jarak, waktu dan kemampuan komunikasi, dari kendala tersebut Sekolah Cikal berkolaborasi dengan Komunitas Guru Belajar yang ada di daerah-daerah seperti Surakarta, Klaten, Sanggau, Rembang, dan daerah lainnya. Hasil dari kolaborasi antara Sekolah Cikal dengan sekolah daerah ini terlihat anak-anak mulai memahami kebutuhan orang lain dimana dimensi yang diharapkan yaitu dimensi peduli tercapai, anak-anak mulai bijaksana dalam mengambil keputusan atau tindakan yang berdampak pada orang lain, sekaligus mengarah pada jenjang yang lebih tinggi bahwa kepemimpinan anak-anak adalah kepemimpinan yang berdampak jadi murid mulai memandang orang lain untuk berpartisipasi dalam upaya meningkatkan pemahaman yang lebih baik.

Cikal Aksi-Aksi ini memberikan rasa kesenangan dan kenyaman tidak hanya kepada murid tetapi juga oleh para guru. Diharapkan dengan sharing mengenai program Cikal Aksi-Aksi ini membuat jejaring antar guru dan murid untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya, bahwa kolaborasi tanpa memandang jarak karena jarak yang jauhpun bisa dijangkau dengan kemajuan teknologi yang sudah ada. 

Bapak Johanes Eko Prasetyo sebagai perwakilan dari Sekolah Kristen Aletheia berbagi ketika sekolah menghadapi masa pandemi dimana program yang awalnya melibatkan orang tua dalam kegiatan belajar siswa mengalami perubahan dan tidak sedikit yang merasakan kesusahan dan kebingungan dalam mendampingi anak belajar di rumah dan hambatan komunikasi antar orang tua dengan pihak sekolah.

Berdasarkan permasalahan inilah sekolah menerima berbagai masukan dan saran baik dari pihak orang tua dan guru dengan memberikan program pertemuan khusus bagi wali murid yang akan dilakukan oleh sekolah secara satu per satu bergiliran disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada dilapangan atau masing-masing orang tua. Program pertemuan khusus ini memperoleh sambutan yang baik dan membawa dampak bahwa orang tua bisa mendampingi anak belajar tanpa mengganggu aktivitas orang tua dan anak-anak terlihat dapat menghasilkan karya yang lebih baik dan memuaskan.

Ibu Enik Chairul Umah, M.Si, M.Pd perwakilan dari SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo berbagi mengenai program Market Key yang dilakukan secara virtual, program Market Key ini berawal dari harapan sekolah untuk bisa mengembangkan literasi, numerasi kepada anak-aak tidak hanya di sekolah tetapi juga bisa dipraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Market Key ini dilakukan 1 bulan sekali berjenjang mulai dari Kelas 1-6. Program ini memperoleh tanggapan yang bagus dari para orang tua, sehingga sekolah mulai menawarkan kepada orang tua dan guru untuk membuat flyer penjualan dan metode apa yang akan digunakan dalam mempromosikan produk yang akan dijual. Ternyata program ini menghasilkan sebuah kolaborasi yang produktif dan berdampak antara orang tua dengan anaknya yang terlihat pada saat proses pembuatan produk, promosi, sampai pengiriman dan pembayaran hasil berjualan dengan diskusi-diskusi yang menyenangkan.

Program yang dilakukan secara virtual ini dapat menumbuhkan jiwa kemandirian, peduli terhadap orang-orang yang tidak mampu disekitarnya atau merasa patut untuk diberikan apresiasi, dan kreativitas dalam menciptakan suatu produk. Tak hanya anak-anak yang memperoleh dampaknya, orang tua turut merasakan terjalinnya komunikasi yang lebih baik dengan anak, dan merasa dilibatkan dalam menumbuhkan literasi dan numerasi kepada anak-anak, dan tentunya menjadi pengalaman menarik tersendiri bagi orang tua. 

Terakhir sharing  yang dipaparkan oleh Bapak Edi Gunawan, M.Pd sebagai perwakilan dari MTs Al Muthiyah yang menceritakan bahwa masih banyak miskonsepsi yang dialami oleh guru-guru, orang tua, dan murid apalagi dihadapkan pada masa pandemi seperti sekarang ini yang harus dilalui, sehingga menjadi tantangan untuk bisa membuat program yang bisa mengubah miskonsepsi tersebut dan memberikan dampak perubahan pada dunia pendidikan.

Terciptalah program Sekmental yang dilakukan secara kolaborasi antar guru bisa 2-3 guru yang serumpun untuk bisa menciptakan sebuah rencana pembelajaran yang luar biasa sehingga kelas-kelas menjadi hidup, anak-anak mulai tertantang karena adanya interaksi dan komunikasi dengan para guru yang saling mendukung. Dalam program ini anak-anak tidak luput dikenalkan dengan digital market untuk menjadi seorang reseller dan pemanfaatan media youtube pada proses pembelajaran.

Guru dan murid yang saling mendukung satu sama lain memberikan angin segar terutama untuk sekolah-sekolah yang ada di daerah, dan anak-anak untuk tetap memperoleh value dan keterampilan yang berbeda-beda sesuai dengan bidang dan minat masing-masing anak, perbedaan ini menjadi salah satu pemicu semangat dalam kegiatan pembelajaran, terlihat pada kelas olahraga anak-anak sudah secara mandiri membuat rekaman video berolahraga yang kemudian diunggah ke youtube kemudian hasilnya dilaporkan kepada masing-masing guru.

Program sekmental ini yang dikembangkan oleh sekolah yang didasari oleh oleh pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah dalam memberikan kekuatan dalam sistem kurikulum guna mendukung potensi-potensi yang bisa dikembangkan sekaligus mencapai visi misi sekolah, yaitu perkembangan karakter, keterampilan, dan budaya jiwa kebangsaaan.

Di mulai dari pelaksanaan program sekolah secara konsisten dan berkelanjutan menjadi kunci dalam perubahan peningkatan kualitas sekolah dan pendidikan. Perubahan adalah pergerakan menuju sasaran, pernyataan ideal, visi misi apa yang seharusnya, serta kepercayaan dan sikap apa yang harus ditingkatkan dan dikembangkan. Pengembangan inovasi yang beragam yang diciptakan juga dapat menumbuhkan kebiasaan untuk berinovasi, berkreasi, berdaya dalam menghasilkan suatu karya yang dapat berdampak untuk guru, murid, orang tua, sekolah, bahkan masyarakat secara luas. 

“Apakah mau pendidikan kita masih jalan di tempat?” atau “Mau ikut berperan dalam perubahan pendidikan Indonesia?”

Yuk jadikan program-program di atas sebagai inspirasi, atau ciptakan program baru di sekolah!
Program-program yang akan turut memajukan pendidikan Indonesia.

Ingin bergabung dengan Jaringan Sekolah Madrasah Belajar?
Klik http://bit.ly/daftarJSMB

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: