Pengawas Sekolah Berbagi Setulus Hati

Penulis : Susiani | 8 Sep, 2021 | Kategori: Merdeka Belajar

Apa yang dilakukan ketika Pengawas ke sekolah, tetapi seperti tidak diharapkan kedatangannya? Salah satu pertanyaan yang muncul dalam sesi Temu Pengawas Komunitas Pengawas Belajar pada 30 Agustus 2021 lalu. Narasumber pada acara ini adalah Pak Tri Widodo yang merupakan  pengawas SMP. Kota Semarang Jawa Tengah, dan dimoderatori oleh Irene Ermaya  pengawas SMA. Kota Kupang.

Temu Pengawas Sekolah Komunitas Pengawas Belajar

Dalam jajaran praktisi pendidikan para Pengawas berada  pada tataran tetua,  pada  umumnya  para Pengawas  adalah sekumpulan kakek dan nenek.

Setelah menjalani karier sebagai praktisi di dunia pendidikan kebanyakan sudah lebih dari 30 tahun tentu telah mengalami berbagai dinamika kehidupan dunia pendidikan, berjuta rasa, pahit,  getir, asam, asin, manis berbaur berpadu menyatu semoga menghasilkan setetes  madu, berjuta rasa semangat menebar asa tentunya menyimpan setitik cahaya.

Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional

Pemimpin itu urusannya perubahan. Karena itu pemimpin butuh mengatur dirinya untuk terus menerus adaptif terhadap perubahan yang dihadapi maupun perubahan yang akan dilakukan.( modul Pemimpin Merdeka Belajar Kampus Guru Cikal).  Keberadaan Pengawas tentunya masuk dalam jajaran pemimpin karena dalam melaksanakan tugasnya memiliki beberapa sekolah yang harus dibina, didampingi, dipantau dan dievaluasi. 

Kegiatan Temu Pengawas kali ini  dimotori oleh Bapak Tri Widodo telah dirancang dan diniatkan untuk berbagi praktik baik dan memicu para Pengawas yang lain untuk mau berbagi sebagian  pengalaman keberhasilannya berkarier di dunia pendidikan.

Diwali dengan cerita beliau ketika masih menjadi Kepala Sekolah, tentang keberadaan salah satu gurunya yang terlihat kurang update, setiap menuju ke kelas yang dibawanya hanya buku paket, ketika ditanya tentang tugas pembelajaran di kelasnya katanya baik- baik saja. Tetapi beliau tidak percaya begitu saja, beliau berusaha mengadakan pendekatan informal, mengajak ngobrol tentang apa saja dengan Guru tersebut, setelah diajak ngobrol ternyata ditemukan bahwa  kelasnya  sedang tidak baik baik saja sebagaimana yang dikatakan sebelumnya, dan ternyata ada masalah yang dialami Guru tersebut.

Sebagai pemimpin  yang memiliki 3 sumber energi 1. Sadar utuh, 2. Harapan, 3. Belas kasih, dengan menggunakan 3 sumber energi tersebut beliau berusaha memahami dan memberikan solusi terhadap masalah yang sedang dialami oleh Guru tersebut.

Strategi menggali dan mendapatkan informasi  menggunakan  pendekatan informal yang beliau lakukan membuahkan hasil, beliau mengidentifikasi  ternyata ada yang harus ditindaklanjuti,  maka beliau kemudian melakukan aksi dengan melakukan coaching pada Guru tersebut dengan  memberikan contoh pembuatan power point untuk pembelajaran.

Ternyata usaha beliau tidak sia-sia, dengan diberi sedikit coaching Guru tersebut sudah tergerak untuk berubah, bahkan tidak lagi menggunakan power point pembelajaran dari beliau tetapi sudah membuat dan berkreasi sendiri menggunakan  teknologi informasi.

 Ternyata perubahan itu sangat berdampak pada suasana kelas  pembelajarannya, siswa menjadi lebih antusias, lebih aktif, lebih komunikatif dan menjadi lebih solutif, siswa tidak lagi merasa bahwa belajar adalah kewajiban, tetapi merasakan bahwa belajar adalah kebutuhannya, terbukti dengan tingkat kehadiran dan partisipasinya yang tinggi dan kegiatan pembelajaran  terasa lebih nyaman, Guru tidak lagi butuh banyak energi untuk penguasaan kelas,  karena siswa sudah paham akan pentingnya arti belajar bagi perkembangannya.

 Karena merasakan pentingnya arti Guru bagi mereka maka kehadiran Guru ditunggu dan dirindu.

Ketika Narasumber selesai menyampaikan materi berbaginya maka tibalah  pada sesi tanya jawab dan kesempatan berbagi bagi para peserta.  Pada sesi ini makin bertebaran tetes- tetes madu dan bertaburan titik- titik cahaya yang tentunya dapat menjadi bekal penguatan dan menjadi penerang ketika menjalankan tugas kepengawasan.

Bagaikan hujan yang mengucur deras kesempatan itu dipergunakan sebaik baiknya oleh para Pengawas peserta  ada yang membagikan praktik baik, ada yang bertanya, dan ada yang mencurahkan isi hatinya.

Yang mendapat kesempatan pertama pada sesi ini adalah  Bu Hariati beliau menyampaikan praktik baiknya supaya siswa happy, ketika pembelajaran tematik siswa dibagi 5 kelompok untuk mengamati dan mengambil benda padat di lapangan, kemudian dibawa kepada Guru untuk menceritakan tentang benda tersebut pembelajaran ini dilakukan juga untuk menstimulasi motorik, kognitif, dan bahasa anak, pembelajaran tematik dilaksanakan dilingkungan sekitar.

Kesempatan berikutnya diberikan kepada Bu Hj. Marli’ah  yang mengangkat tangan untuk bertanya minta pencerahan kepada Narasumber apa yang harus dilakukan ketika Pengawas datang ke sekolah tetapi kesannya seperti tidak diharapkan kedatangannya?

Sambutan hangat dari Narasumber atas antusiasme peserta untuk berbagi dan bertanya diwujudkan dengan meberikan  strategi untuk mengatasi masalah ketika menjalankan  tugas  kepengawasan.

Tips dan strategi tersebut antara lain, diharap ketika Pengawas datang ke sekolah dapat  membaur dengan warga sekolah binaan sebagai saudara, menjadi bagian dari warga sekolah tersebut, dengan menggunakan teknik komunikasi informal agar terasa  sebagai keluarga,  mengikuti kegiatan sosial yang ada di sekolah tersebut misalnya menjenguk Guru yang sakit, khataman Al Qur’an atau  kegiatan yang lain. 

Indikasi bahwa pembauran berhasil dan Pengawas  sudah diterima menjadi bagian dari warga sekolah tersebut, ketika Pengawas datang tidak lagi disebut “Bapak Pengawas datang”, tetapi langsung menyebut nama misal : “ Pak Tri datang” 

Kesempatan berikutnya diberikan pada Pak Chep Teguh, beliau  menyampaikan himbauan kepada para Pengawas untuk membuat dan menyiapkan program dan instrumen yang jelas dan dikomunikasikan dengan pihak sekolah terlebih dahulu.Kemudian dilanjutkan dengan harapan dari Pak Deritaman Tafonao, beliau  merasa  ada harapan yang baru, supaya ada ketegasan dari Dinas Pendidikan agar peran Pengawas lebih dikuatkan.

Menanggapi himbauan dan harapan tersebut Narasumber menyampaikan pendapat bahwa  tentunya Pengawas harus mempunyai persiapan yang jelas utuk melaksanakan  tugas pokok dan fungsinya. Kemudian menyampaikan bahwa pada masa sekarang pengawas tidak lagi sebagai penguasa atau Ndoro Bei, tetapi pengawas sebagai pendamping, pemberi solusi kepada Guru dan Kepala Sekolah, tetaplah  menjalankan tugas dengan baik, yang diluar tugas pokok dan fungsi kita biarlah berjalan sebagaimana adanya.

Berikutnya disambung  Pak Bahermansyah menyampaikan hal  yang unik, suatu ketika menemukan Guru yang memanggil langsung dengan nama panggilannya tetapi malah ditegur oleh Guru yang lain, dilarang , tidak boleh memanggil begitu.

Narasumber menyampaikan pendapat bahwa pengawas yang diperlakukan sebagai Ndoro Bei itu konsep masa lalu, sedangkan  yang masa kini Pengawas adalah teman dan keluarga.

Kemudian Bu Karniti mendapat kesempatan berikutnya beliau gunakan untuk mencurahkan isi hatinya, bahwa yang dialami dan diamati selama ini ketika Pengawas datang di sekolah semua terlihat semangat, dengan mengadakan pendekatan  informal dengan menyapa Kepala  Sekolah, Guru,dan  Orang tua siswa, tetapi ketika pengawasan  lemah maka kembali lagi seperti budaya semula.

pembelajaran jarak jauh

Bu.Yenni juga menyampaikan keluhannya ketika Pengawas datang untuk melaksanakan tugasnya Kepala Sekolah Dan Guru malah menggurui Pengawas, dengan  menyampaikan bahwa  semua hal sudah dilakukan dan banyak berargumentasi.

Menanggapi curahan hati dan keluhan kedua Ibu Pengawas  ini Narasumber memberi saran untuk mengadakan pendekatan personal kepada  Guru tersebut, menanyakan tentang apa saja  yang  telah  dilakukan, diberi kesempatan bercerita  sepuasnya, setelah itu dibalik  pertanyaannya mengapa hasilnya yang belum maksimal?, dengan harapan supaya sadar dan Pengawas  tetap berupaya membangun semangat  berubah, dari kondisi nyaman ke kondisi perubahan  dan meyakini upayanya bahwa  pada  waktunya pasti akan terealisasi  sesuai harapan.

Bagaikan  air  yang mengalir deras  tak terbendung, semangat para peserta seakan tidak mau mengakhiri kegiatan berbagi, padahal sudah dijawalkan  waktu kegiatan temu Pengawas ini selama  60 menit, maka Moderator menambah waktu kegiatan selama  15 menit.

Kemudian sebelum kegiatan ditutup Narasumber menyampaikan harapannya setelah berbagi, bahwa kegiatan Pengawas  berbagi ini dilakukan dengan setulus hati dengan berbagi  praktik baik, yakinilah  apa  yang  telah kita lakukan, dan  yakin orang  yang memberi pada saatnya akan diberi, orang  yang menolong pada  saatnya akan ditolong.

Semangat belajar para  Pengawas  Sekolah Indonesia, semangat melakukan perubahan.

Acara ini terselenggara dengan di koordinatori oleh Juniar,  Pengawas SMP. Kota Binjai Sumatera Utara. Liputan disusun oleh Susiani,  Pengawas TK. Kabupaten Ponorogo.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: