Pengertian Merdeka Belajar

Penulis : Anni Kholila Nasution | 24 Sep, 2020 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Medan, Temu Pendidik Daerah

Apakah pengertian merdeka belajar itu guru bebas dari aturan administrasi yang menumpuk dan menyesakkan. Apakah pengertian merdeka belajar itu guru sesuka hati mau mengajar atau tidak. Merdeka belajar itu siswa bebas dari tugas dan PR, Merdeka Belajar itu siswa belajar dan paham pembelajaran secara mandiri.

Apakah pengertian Merdeka Belajar itu demikian?

Sabtu, 05 September 2020 berlokasi di Prestige Bilingual School diselenggarakan kegiatan Nobar (nonton bareng) Merdeka Belajar. Sesuai dengan protokol kesehatan, kegiatan ini dihadiri kurang dari 20 orang guru yang merupakan perwakilan guru dari Prestige Bilingual School, SDIT Ar-Raudah, dan SMA Muhammadiyah 19. Selain itu, acara Nobar ini juga dihadiri oleh perwakilan KGB (kelompok guru belajar) Binjai, yaitu Bu Ega, Pak Surya, dan Pak Arif.

Para guru membahas pengertian merdeka belajar KGB Medan

Kegiatan Nobar dibuka oleh koordinator, Bu Niar, Kepala SDIT AR-Raudah dan dilanjutkan oleh moderator, Bu Ade selaku Kepala Prestige Bilingual School. Moderator memulai dengan sebuah pertanyaan,” Apa yang Anda pahami tentang Merdeka Belajar?”

Ms. Ina, salah satu guru Prestige Bilingual School menjawab,”Pengertian Merdeka Belajar adalah bebas berekspresi, dimana guru dan siswa memiliki kesempatan yang sama untuk mengutarakan pemikirannya, dimana guru bukanlah sumber utama dalam pembelajaran, siswa bukanlah kertas kosong.” Bunda Ulfa, salah satu guru dari SD IT Ar-Raudah mengatakan bahwa, Merdeka Belajar adalah bagaimana guru, siswa, dan serta orangtua saling belajar untuk bersinergi dalam proses pembelajaran.” Hal ini ditambahkan lagi oleh Pak Adam, salah satu guru dari SD IT Ar-Raudah. Pak Adam menambahkan bahwa yang dikatakan dengan Merdeka Belajar adalah kontekstual, dimana pembelajaran tidaklah terpatok pada dinas  ataupun kurikulum yang kaku semata, namun tetap mencapai esensi dari pembelajaran itu sendiri.

Kegiatan dilanjutkan ke acara inti yaitu Nobar video Merdeka Belajar oleh Najelaa Shihab. Dalam video, Najelaa Shihab selaku Pendiri Kampus Cikal dan Inisiator Kegiatan Guru Belajar memaparkan apa itu Merdeka Belajar. Najelaa Shihab memulai pemaparannya dengan menggambarkan bahwa, sebagian besar anak- anak Indonesia hanya memiliki dunia seluas ruang kelas sekolahnya, mereka  hanya memiliki impian setinggi tunjukan tangan ketika menjawab pertanyaan guru, sedangkan yang kita harapkan adalah anak- anak yang memiliki impian dan cita-cita setinggi langit, melampaui ruang kelas melampaui dunianya. Hal tersebut akan terjadi apabila murid memiliki kemerdekaan belajar, dan murid yang merdeka belajar akan muncul apabila para pendidik juga memiliki kemerdekaan. Lebih lanjut dalam video tersebut Najelaa Shihab juga memaparkan bahwa proses untuk meraih Merdeka Belajar bukanlah hal yang mudah namun pasti bisa diraih apabila para pendidiknya telah merdeka.

Membahas pengertian merdeka belajar Najelaa Shihab

Dalam video tersebut juga dijelaskan, dalam Komunitas Guru Belajar, Pendidik yang merdeka adalah pendidik yang memahami dan terus melaksanakan 3 esensi dalam pendidikan yaitu komitmen pada tujuan, mandiri, serta refleksi. Selama ini kebanyakan dari pendidik dan pemangku kebijakan hanya fokus terhadap esensi yang kedua, yaitu mandiri. Fokus terhadap cara bagaimana anak- anak bisa paham, bagaimana cara guru bisa menyelesaikan buku, bagaimana sekolah tetap meraih akreditasi sempurna dari dinas dan lain sebagainya tanpa melirik esensi lain yaitu tujuan pendidikan itu sendiri dan serta refleksi terkait cara ataupun proses yang telah terlaksana. 

Dalam video Merdeka Belajar yang dipaparkan oleh Najelaa Shihab juga memaparkan tentang miskonsepsi guru belajar. Dikutip dari ucapan Najelaa pada video tersebut, “banyak yang bilang pendidikan itu penting namun tidak menjadikannya prioritas.” Ada beberapa miskonsepsi tentang belajar yang dipahami banyak orang dan terjadi di sekitar masyarakat yang dipaparkan di dalam video;

  1. Guru Belajar perlu insentif eksternal, namun kenyataanya guru belajar merupakan kebutuhan alamiah.
  2. Guru hanya bisa belajar dari para ahli, namun nyatanya pembelajaran paling ampuh adalah apabila guru belajar dari sesama rekan guru.    
  3. Guru cukup belajar cara “how to”, namun nyatanya guru perlu belajar tujuan dalam konteks “why”.
  4. Guru diburu target yang dipaksakan, padahal nyatanya guru perlu waktu untuk belajar.
  5. Kompetensi bersifat individu sehingga banyak yang mejadikan guru kunci pendidikan dimana guru adalah input yang harus menghasilkan output yang bagus, nyatanya  kompetensi tumbuh bersama lingkungan.

Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon

Menutup pemaparannya dalam video, Najelaa juga menyebutkan tentang mimpi komunitas guru belajar yaitu membalikkan piramida pendidikan dimana kebijakan pendidikan yang awalnya berpusat dari pemerintah pusat, turun ke daerah, kepala sekolah, lalu guru menjadi berawal dari pemikiran dan praktik baik yang dilakukan guru menuju kepada penetapan kebijakan pendidikan di pusat.

“Tidak ada pendidik yang ahli, semuanya perlu dan terus perlu belajar. Pendidik itu beragam, sehingga perlu terkoneksi satu sama lain berbagi pengetahuan dan juga emosi untuk mewujudkan tujuan pendidikan bersama. Tidak perlu menunggu siapapun untuk Merdeka Belajar, mulai dari kita” tutup Najelaa dalam video Merdeka Belajar.

Setelah Nobar, Bu Ade selaku moderator mengajak para pendidik melakukan refleksi terhadap video Merdeka Belajar yang telah disaksikan bersama dengan menanyakan beberapa pertanyaan di antaranya tentang miskonsepsi guru belajar, ciri guru merdeka, dan juga praktik merdeka belajar yang sudah dilakukan oleh para pendidik yang hadir pada acara Nobar tersebut.

Para pendidik yang hadir sangat antusias untuk membagikan pemikiran dan pengalaman belajar mereka. Ms. Elly (salah satu guru Prestige Bilingual School) mengatakan,” saya sangat setuju dengan guru lebih efektif belajar dari sesama guru, karena tidak semua ahli adalah guru yang turun langsung di dunia mengajar, namun jika belajar dengan sesama guru pastilah akan dapat berbagi cerita dan praktik baik selama mengajar dan belajar”. Hal itu dudukung oleh Bu Niar (kepala Sekolah SDIT Ar-Raudah), beliau mengatakan,”selama PJJ guru belajar menguasai teknologi untuk mendukung terlaksananya PJJ dengan belajar membuat video pembelajaran serta menggunakan aplikasi- aplikasi yang memang baru untuk sebagian guru dan itu dipelajari oleh sesama guru. Inilah guru yang merdeka, mengajar dan selalu siap belajar”

Selain kegiatan Nobar, acara ini juga diisi pendalaman materi tentang apa itu Merdeka Belajar dan Komunitas Guru Belajar oleh KGB Binjai. “Tugas guru bukanlah sekedar menanam benih, sekedar menyampaikan apa yang ia tahu, namun lebih dari itu. Guru menumbuhi benih, menyiram, memberi pupuk, serta merawat benih tersebut sehingga menjadi tanaman yang tumbuh dan berbuah” ujar Pak Surya, penggerak KGB Binjai yang juga tergabung sebagai Pelatih Kampus Guru Cikal. “Merdeka Belajar bukanlah bebas namun harus komitmen pada tujuan” ujar Bu Ega salah satu koordinator KGB Binjai. Beliau juga mengajak para pendidik yang hadir untuk selalu melibatkan murid dalam setiap proses pembelajaran serta memanusiakan hubungan, karena guru bukanlah pemimpin yang selalu benar dan berada paling depan, namun guru adalah coach atau pembimbing yang selalu siap mendengar aspirasi dari siswa dan orang lain lalu terus belajar untuk mencapai tujuan pendidikan.

Bu Ega juga menambahkan bahwa saat ini Merdeka Belajar bukanlah sekedar slogan namun mulai menemukan titik terang dengan diaplikasikannya secara resmi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 2019 di Indonesia. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah ”Apakah kita siap untuk Merdeka Belajar jika Menteri dan regulasi berganti kemudian?” 

pelatihan merdeka belajar

Ingin mengikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar?

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: