Persiapan Menulis Anak Autisme

Penulis : Mas Hartawani | 26 Mar, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar
Temu Pendidik Daring KGB Solo Raya

Persiapan Menulis Anak Autisme
Narasumber : Siwi Parwati (Praktisi Autisme)
Moderator : Kristijorini (Guru di TK Widya Wacana Pasar Legi)
16 Maret 2019
di bit.ly/gurubelajarsoloraya

Menulis itu butuh konsentrasi dan koordinasi antara jari tangan, pikiran dan mata.  Jika anak Taman Kanak-kanak, untuk latihan menulis butuh tahapan melemaskan jari dengan banyak merangsang jari-jari tangan melalui meremas, merobek, memegang benda pipih dan mainan. Lalu baru tahapan mencoret tak beraturan hingga membentuk garis dan lain-lain baik dengan buku dan pensil maupun media lain. Bagaimana pengenalan menulis untuk anak autistik? Penasaran kan?

Moderator : Bagaimanalah persiapan menulis untuk anak-anak autisme? Mari bunda Siwi silakan menjelaskan ke kami. Sudah penasaran ini

Narasumber :  Pertama: Kenapa sih saya memilih topik ini,Soal tulis menulis? Karena belakangan ini banyak keluhan dari ortu soal anak mereka yang sulit diajari menulis Ada yang melihat pensil aja udah nangis. Ada yang mogok pegang pensil aja nggak mau. Ada yang  bilang goresannya terlalu tipis. Ada yang bilang anaknya cuma mau tulis 3 huruf habis itu kalau dibujuk malah jerit jerit.

Mari kita bedakan antara anak autistik dengan non autistik

Kadang anak anak yang menolak menulis ini kemudian mendapat tuduhan malas, bodoh, pembangkang dsb. Padahal biasanya kalau anak autistik sampai menolak sampai nangis bahkan histeris itu merupakan indikator adanya gangguan motorik ketika kita minta melakukan suatu tugas yang sekecil apapun mereka seakan akan memberontak. Padahal itu karena mereka merasa tidak berdaya. Contohnya yang terjadi pada anak saya dulu sekali. Dia sampai tendang meja. Ternyata jari jarinya tidak mampu memegang pensil Kalau mau menulis pensilnya merosot nggak terpegang, Jadi memegang pensil pun dia tidak mampu, mana mungkin akan menarik garis? Membuat titik? Membuat lengkungan? Akhirnya dia marah, lebih kepada diri sendiri karena menghadapi ketidakmampuannya, juga sedih,putus asa, Bukannya tidak mau patuh,tapi nggak mampu.

Moderator : Silakan jika ada yang mau bertanya!

Penanya 1  : Anak2 di TK kan udah belajar menulis. Beberapa kali pas ke Taman Pancasila nemu buku yang dijual bebas belajar menulis yang hurufnya dipisah-pisah jadi titik-titik. Nah, kalau tidak didampingi bisa bahaya juga ternyata karena anak-anak saya yang SD menulis itu hurufnya nggak karu-karuan.

Misalnya : huruf A dan G itu sejajar.

Narasumber:  Nah ini soal teknis menulis, memang benar anak-anak harus diajari cara menulis yang benar, bagaimana arah garisnya , bagaimana bentuknya , karena kalau sekali salah dan permanen maka akan sulit diperbaiki di kedepan hari

Penanya 2 : Selamat malam Bu Siwi,,  treatment menulis ini sudah boleh diberikn pada saat anak autistik usia berapa?

Narasumber :  Bukan masalah boleh atau tidak boleh, tapi kapan anak ketahuan mengalami gangguan motorik. Pada anak-anak yang menjalani terapi sejak usia dini biasanya gangguan itu ditemukan oleh psikolog klinis atau terapis mereka. Maka biasanya anak anak ini sudah langsung ditolong dengan  materi terapi okupasi. Masalahnya kan kita ini yang jadi guru di sekolah ternyata harus menerima kenyataan bahwa ada di antara anak anak autistik ini belum mendapatkan terapi sesuai kondisi dan kebutuhannya, karena itulah kita sekarang bahas soal persiapan menulis ini Di atas sudah saya sampaikan paparan awal kalau  tahapan – tahapan dalam menulis adalah :membuat garis, membuat titik dan membuat kurva, dll.

Satu hal yang mungkin tidak terlintas dalam pikiran kita bahwa kelemahan jari jemari anak-anak autistik ini berawal dari kelemahan lengan, bahu dan punggung, itu sebabnya sebenarnya kita perlu memberikan latihan latihan yang tampaknya tidak ada hubungannya dengan persiapan menulis, mungkin kita akan mendapat complain dari orangtua,  tapi kita memang harus melakukan penguatan pada lengan, bahu dan punggung anak.

Caranya antara lain :

Bergelantungan pada monkey bar, Ini akan memperkuat genggaman jari, lengan, bahu dan punggung. Nah pada anak autistik kita tidak nunggu sampai kriteria umur berapa, kita lakukan semuanya sedini mungkin.

Penanya 3 :

1. Ada tidak assesmen di TK umum untuk  mendeteksi hal di atas?

2. Misalnya anak sudah terlanjur menulisnya tidak sesuai, bagaimana cara mengajarinya?

Narasumber : Dikoreksi, diajarkan membentuk huruf sejak awal lagi, Ini terjadi juga pada anak saya dulu, Karena dia umur 2 tahun sudah berusaha menulis sendiri , akhirnya bentuk huruf kacau karena memang tidak dipandu. Jadi begini yah, Kita harus  punya niat tulus untuk “Memperbaiki” anak anak autistik ini. tidak ada perbaikan yang mudah untuk mereka. Bagi yang diperbaki dan yang memperbaiki akan banyak sama sama frustrasinya, tapi kembali kepada niat semula , mau memperbaiki atau merelakan dia dalam kondisi “aneh” seperti itu?

Assesmennya  untuk anak autisik  (seperti malas) menulis ini tetap saya haruskan konsul ke psikologi klinis. Nah selain gelantungan di monkey bar , ada banyak cara untuk mengupayakan kekuatan jari lengan dan bahu, yaitu dengan senam.

Jadi, sebenarnya sebaiknya kita sarankan orangtua untuk mengikutkan anaknya terapi OT. Tapi kita tahu banyak karakter ortu yang ternyata susah terima dan setuju dan mau melakoni anaknya diterapi. Maka yang kita bahas ini merupakan upaya kita semata mata demi membantu siswa kita.

Tips lain adalah terapi beban dengan dumbel.

Bisa kita gunakan botol air mineral dengan isinya, mulai dari ukuran kecil sampai besar disesuaikan dengan kemampuan anak, ayun- ayun  dari paha ke atas samping kiri kanan, angkat setinggi bahu, dari bahu angkat le atas kepala, dari atas kepala turun ke setinggi bahu atau bahkan turun sampai ke paha.

Untuk latihan motorik halus mungkin ada beberapa tips lagi

Kita sediakan manik manik kecil di nampan, minta anak membuat huruf atau garis menggunakan kuas.

Menggunakan pasir warna, anak membentuk huruf dengan jari

Membentuk huruf di atas lem putih

: Pasta berwarna dalan kantong plastik klip

Membentuk huruf dengan cotton bud

Menggunting

Menyortir biji – bijian dan manik

Membentuk huruf dengan cetak stensil. Lalu kita kasih materi menjepit, pake jepitan kue yang ada silicon di ujungnya, minta anak ambil huruf tertentu, warna tertentu.

Menjepit dengan sumpit.

Yang disumpitin bisa benda benda kecil apa saja, selanjutnya untuk latihan menjepit jepit kita bisa gunakan jepitan jemuran, kita sediakan macam macam jepitan jemuran, kecil, besar , yang mudah dibuka, yang keras bukaannya , jepitkan ke berbagai ketebalan karton, karton berebentuk segiempat, segitiga, bentuk mistar, bentuk bulat, dll.Itu semua utk melatih kekuatan jari

Kesimpulannya

Kegiatan yang kelihatannya seperti main-main ini sebenarnya berperan penting dalam upaya persiapan menulis.Pada saat anak sedang menulis lalu berhenti sebelum tugasnya selesai itu menunjukkan dia mulai capek, kita bisa bantu dengan memberikan pijatan mulai dari ujung jari sampai ke bahu, setelah itu baru minta anak menyelesaikan tugas menulisnya. Mungkin kita harus memberikan beberapa kali pijatan tergantung kekuatan tangan anak. : Segala tugas tambahan ini sebenarnya jatah Shaddow Teacher ya …

Penanya 4:  Kalau anak yang terdeteksi autustik sudah di usia sekolah nih misalnya sudah di jenjang kelompok B,usia 6 tahun,apa proses treatmentnya diulang atau dilakukan bersamaan dengan pembelajaran di sekolah,artinya di rumah di-treatment di sekolah lanjut kegiatan seperti anak lainnya?

Narasumber :   Tepatnya di-treatment di tempat terapi,d ikuatkan di rumah, dipraktikkan di sekolah.

Materi Tambahan Dari Narasumber

HANYA dan CUMA

Dalam kesempatan berdiskusi dalam Parenting Workshop yang diadakan oleh BUDI CENTER SOLO di Semarang beberapa waktu yang lalu, saya menangkap problem utama yang mengemuka dalam upaya pengembangan secara optimal Anak Berkebutuhan Khusus, tidak hanya penyandang Autisme saja tetapi juga mereka yang menyandang GDD, ADHD, CP, Epilepsi dan lain-lain. Keluhan yang paling banyak muncul adalah soal “keterbatasan waktu” dari semua pihak penyelenggara pendampingan ABK.

Orangtua mengatakan cuma bisa mendampingi sebentar di rumah.  Guru mengatakan cuma bisa mendidik anak di sekolah. Terapis mengatakan cuma punya 2 jam menerapi.  Bagaimana mungkin anak maju kalau kami CUMA punya waktu segini?

Itu pointnya.

Maka saat itu saya langsung menimpali bahwa anda semua, baik orangtua, guru dan terapis JANGAN PERNAH merasa dan menganggap bahwa andilnya HANYA 2 jam waktu terapi, HANYA selama jam sekolah, HANYA waktu anak di rumah. Memang semua upaya yang dilakukan itiu benar-benar HANYA dan CUMA akan menjadi bagian-bagian kecil potongan waktu kalau dilakukan TANPA alur informasi dan alur kegiatan serta alur saling percaya dari semua pihak.

Bagaimana?

Mari kita buat gambar yang utuh dari puzzle yang terdiri  dari potongan orangtua, potongan terapis dan potongan sekolah.  Kita mulai dari terapis yang merasa hanya menerapi anak selama 2 jam.

Mereka merasa 2 jam terapi itu samasekali tidak bermakna untuk membentuk anak dan membawa anak ke level yang lebih tinggi.  Orang tua merasa tidak mungkin mengentaskan anak sementara waktu anak sudah tersita di tempat terapi dan sekolah.

Guru di sekolah merasa tak berdaya saat siswanya sudah pulang ke rumah.

Nah, di sinilah saya mengingatkan kembali pada PERAN ORANGTUA sebagai MANAJER yang mengontrol dan mengendalikan arah perkembangan anak dari waktu ke waktu . Dari sesi ke sesi.

Ingatlah, pada saat menjemput anak dari tempat terapi, pastikan orangtua mengetahui apa yang tadi sudah diberikan  terapis di tempat terapi. Saya contohkan, bahwa di tempat terapi anak diberi pemahaman tentang sopan santun untuk tidak meludah sembarangan. Orangtua harus menyampaikan materi ini kepada guru di sekolah dan meminta kerjasama guru untuk bersedia mengingatkan anak bahwa dia tidak dibenarkan meludah sembarangan. Guru bisa bekerjasama dengan teman-teman si anak di kelas untuk juga mengingatkan anak supaya tidak meludah sembarangan. Kemudian orangtua juga menyampaikan materi tidak meludah sembarangan ini kepada anggota keluarga di rumah dan meminta kesediaan mereka untuk mengingatkan anak untuk tidak meludah sembarangan. Pada saat anak kembali ke sesi terapi berikutnya, kemampuan menahan diri untuk tidak meludah sembarangan sudah meningkat dan terapis bisa melanjutkan sesinya ke tahapan lain.

Meludah, dalam kasus ini hanyalah salah satu contoh materi terapi perilaku. Kalau terapis sedang melatih anak untuk duduk tegak, maka orangtua harus meneruskan informasi sesi duduk tegak ini kepada guru dan keluarga. Juga materi lain seperti memegang pensil dengan benar, dan lain-lain.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: