Perubahan Pendidikan, Mulai Darimana? : Kisah dari Nusa Tenggara Barat

Penulis : Amalia Jiandra Tiasari | 15 Jan, 2019 | Kategori: Program Pengembangan Guru

Ketika sehari-hari kita masih sering melihat orang-orang yang tidak taat lalu lintas atau menyerobot ketika mengantri, apakah kita bisa menyimpulkan ini sebuah kegagalan pendidikan? Atau ketika peringkat PISA Indonesia masih jauh dari negara-negara lain, apakah itu pertanda kualitas pendidikan kita masih jauh dibanding negara lain? Lalu, siapa yang harus pertanggung jawab? Bagaimana memulai perubahan?

Mulai dari kebijakan pemerintah harus diubah…..

Yang bertanggung jawab pemerintah dong…….

Setuju dengan pernyataan itu?

Kisah Nusa Tenggara Barat

Belakangan ini ada kabar bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi di Nusa Tenggara Barat menempati peringkat ke-29 dari 34 provinsi di Indonesia tahun 2017.  Apa reaksi pemerintah dengan kabar tersebut? Bayangkan, anak anda dateng dateng ngabarin kalau dia dapat peringkat 3 terbawah di kelas. Kalau saya sih, biasa aja (lah kok?). Tapi kebanyakan tidak seperti itu sih reaksinya.  Saya ingat waktu dulu ada teman saya yang dapat peringkat terakhir di kelas. Dia dicibir teman-teman. Saya masih ingat sekali wajahnya, sedih merunduk malu. Besoknya saya dapat kabar dia pindah sekolah. Sangat disayangkan ya? Bagaimana peringkat dipandang harga mati keberhasilan seseorang. 

Lalu bagaimana jika ini peringkat IPM sebuah provinsi?  Mendengar hal tersebut tidak membuat pemerintah Nusa Tenggara Barat merasa berkecil hati, mereka memilih berdaya dengan mengajak berkolaborasi dengan Kampus Guru Cikal, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), dan  Keluarga  Kita dengan membuat Program Peningkatan PAUD Berkualitas. Seperti yang selalu Kampus Guru Cikal percaya, kekuatan pendidikan ada pada Guru Berdaya.  Dengan Pemerintah yang berdaya, kitapun bisa mengajak guru-guru dan masyarakat juga berdaya. Program Peningkatan PAUD Berkualitas ini fokus mengembangkan 50 PAUD berkualitas di desa Prioritas Penanganan Penanggulangan Kemiskinan (P3K) di NTB  melalui peningkatan kualitas guru dan orang tua.

Penandatangan Nota Kesepahaman Pengembangan PAUD Berkualitas NTB
antara PKK Prov. NTB dengan Kampus Guru Cikal


Mengapa harus berkolaborasi? Kenapa tidak mengubah kebijakan saja? Mengapa tidak memperbaiki kualitas guru saja? Kenapa juga melibatkan orang tua?

Tak Sendiri, Kolaborasi

Dalam pidatonya Bu  Sitti Rohmi Djalilah (Wakil Gubernur NTB), menyatakan pentingnya kolaborasi. Bahwa dalam upaya perubahan pendidikan perlu berkerjasama dengan semua elemen dalam masyarakat. Setali tiga uang, begitu yang selalu ditekankan oleh Bu Najelaa Shihab (penggagas Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan, Kampus Guru Cikal dan Keluarga Kita) bahwa pentingnya kolaborasi. Beliau menambahkan ketika bicara tentang Pendidikan Anak Usia Dini, pentingnya peran keluarga  terutama peran orang tua yang menCINTAi lebih baik. Orang tua yang selalu ingat cita-cita yang tinggi untuk anaknya dan menerima tanpa drama.  Bu Elaa (panggilan akrab Bu Najelaa Shihab) juga menjelaskan guru belajar adalah kunci perubahan pendidikan. Guru yang punya cita-cita, punya kemerdekaan dan yang berkolaborasi.

Bu Najelaa Shihab berdiskusi dengan peserta

Kampus Guru Cikal percaya bahwa kita tidak bisa berjuang sendirian. Kami percaya pada pentingnya kolaborasi. Dari kepercayaan tersebut dalam Program Peningkatan PAUD Berkualitas ini juga melibatkan masyarakat umum dengan memilih mentor-mentor  yang mewakili tiap daerah yang nantinya akan membantu intervensi dalam meningkatkan PAUD di setiap daerah.  Dari pelamar 230 orang, dipilih 34 orang yang diseleksi dengan wawancara dan  Focus Group Discussion (FGD), kemudian terpilihlah 7 orang  Mentor.  Sebelum mentor-mentor tersebut terjun di lapangan, mereka dibekali dengan pelatihan yang diadakan oleh Kampus Guru Cikal, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), dan Keluarga Kita. Dua hari mentor-mentor belajar berbagai macam; Komunikasi Efektif, Salah Kaprah Guru Belajar, Coaching.  Mentor-mentor antusias sekali ketika berdiskusi bersama, mereka ikut bercerita bagaimana kondisi pendidikan di lingkungan mereka dan apa yang sudah mereka lakukan selama ini.

Tua, Muda, Sama

Ketika bicara tentang gerakan perubahan banyak yang berpendapat “Susahlah kalau ngajak yang tua tua. Pemikirannya kolot” atau “Anak muda jaman sekarang suka mikirin diri sendiri aja. Beda sama kita dulu waktu muda”. Hal tersebut yang tidak terlihat dari para mentor. Mentor-mentor ini berasal dari berbagai daerah, ada yang asli NTB ada yang pendatang, ada yang umur 20-an ada yang sudah punya anak ABG (Anak Baru Gede), ada yang masih bujang ada yang sudah berkeluarga. Ketika berdiskusi tentang “Apa Faktor Pendukung dan Penghambat Guru Belajar” para mentor saling bertukar pendapat dan cerita baik dari sisi guru, orang tua, pengalamannya sebagai Assessor, pengalamannya sebagai penggiat literasi. Tak ada yang merasa lebih tahu, semua mencari tahu. Kebanyakan mentor adalah orang-orang yang sudah lama terjun di dunia Pendidikan. Bu Jessica, seorang mahasiswa S2 PAUD yang aktif membuat gerakan dongeng dan membuat PAUD di daerah Mataram, Bu Wiwin guru PAUD yang aktif mencari tahu solusi  pembelajaran di kelas, Bu Atul seorang assessor dan mendirikan sekolah karena prihatin dengan kondisi pendidikan di sekitar. Sebelum ada program ini, mereka memulai langkah mereka sendiri, tidak menunggu yang lain, berbuat apa yang mereka bisa.

Tua muda sama, karena pembedanya bukan usia tapi semangat berdaya.

 Foto bersama PKK, mentor-mentor, perwakilan Kampus Guru Cikal, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) dan Keluarga Kita

Kisah Bu Mar, PAUD yang tidak punya bangunan sendiri bisa bertahan

Tentang Tua Muda, ada kisah menarik ketika perwakilan Kampus Guru Cikal, PSPK, Keluarga Kita, para Mentor dan Bu Elaa berkunjung ke sebuah sekolah di Mataram. Kami bertemu seorang kepala sekolah, namanya Bu Mar. Bu Mar menceritakan bagaimana sekolahnya yang dulunya hanya sepetak sekarang ada beberapa kelas dan sudah ada tempat bermain. Beliau menceritakan bagaimana dalam perjalanannya  mengembangkan sekolah tersebut selalu dipertemukan dengan orang-orang baik. Beliau menuturkan kepada kami bahwa jika niat kita baik maka Tuhan akan selalu memudahkan jalan kita. “Niatnya saya ngobrol ngobrol aja, cerita tentang sekolah. Kok tahu tahu ada yang menawarkan mau bantu bangun sekolah, Saya bersyukur sekali”, begitu ujar Bu Mar. Beliau juga menceritakan bagaimana kegiatan murid-murid di sekolahnya, tidak perlu pembelajaran yang mahal, beliau lebih sering mengajak anak-anak bermain di Sawah. Karena menurut beliau kita bisa membuat pembelajaran dengan media yang ada di sekitar atau memanfaatkan lingkungan sekitar. Dari Kisah Bu Mar, dimana ada keinginan tulus dan kuat selalu ada solusi. Tidak menyalahkan, menghakimi pihak tertentu, Merdeka dan Berdaya.   

Dari Kisah Nusa Tenggara Barat, kita belajar bahwa menyalahkan salah satu pihak tidak akan membuat masalah tersebut selesai. Mulai dari diri sendiri, memilih merdeka, berdaya. Jangan merasa sendiri, kolaborasi. Tua Muda bersama-sama. Menuju Perubahan.

Mari kita mulai perubahan, dari diri sendiri.  Lihat sekitar, apa yang bisa kita lakukan. Mau ikut menuju perubahan?

Tags:
About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: