Pesisir Selatan, Menulis Kenangan Manis

Penulis : AIUEO | 29 Nov, 2018 | Kategori: Pelatihan guru

Memasuki kunjungan terakhir ke Pesisir Selatan dengan agenda Pelatihan Menulis dan membuat video guru belajar dan penyerahan buku donasi kepada Bapak Ibu Guru Peserta Pelatihan, semua jadwal dan pelatih sudah disiapkan dan diumumkan. Namun, terjadi perubahan mendadak yang membuat jadwal maju dan mundur juga pelatih yang berangkat. Dengan berbagai pertimbangan, yang berangkat adalah saya dan Rizqy Rahmat Hani.

 

Siap Berangkat!

Senin pagi itu kami sudah berada di Bandara Soekarno Hatta menunggu waktu keberangkatan menuju Padang. Seperti dugaan, cuaca di atas sedang musim hujan dan angin kencang. Lima menit take off, yang terlihat hanya awan gelap dan angin yang berhembus kencang. Disusul dengan turbulensi yang cukup membuat jantung makin kencang, tanda penggunaan sabuk pengaman pun belum mati. 30 menit tanpa henti dengan turbulensi, pramugari tetap senyum untuk menawarkan menu sarapan. Muncul pengumuman dari Pilot agar segera menggunakan sabuk pengaman, saat itu aku melihat pramugari yang sedang bertugas segera membenahi troli makanan dan bergegas duduk memakai sabuk pengaman. Huh, 30 menit tersebut cukup mencekam dan sepanjang perjalanan selalu minta sama Allah yang terbaik, pun terdengar dari penumpang lainnya.

Pilot mengumumkan akan turun dari ketinggian di sekitar Lampung, turbulensi pun masih berlanjut meski tidak semencekam 30 menit awal. Saat kami landing di Bandara Minangkabau, aku mendengar “Ada pesawat jatuh”, rasanya remuk redam dan segera mengkonfirmasi berita yang beredar. Benar, hati bergetar kencang namun segera bergegas ke travel yang siap mengantar kami menuju Painan, Pesisir Selatan dan mampir dulu mengambil donasi buku 166 kg.

Hari yang Dinanti!

Pagi itu bersama Ibu Mul, saya menyiapkan konsumsi sedangkan Pak Rizqy berangkat menuju Aula Dinas Pendidikan untuk menyiapkan keperluan pelatihan dan juga donasi buku. Wah, akhirnya bisa menggunakan aula dinas yang sudah dinanti jadi renovasinya. Ada 29 guru yang hadir, menyenangkan. Icebreaking pelatihan kali ini dipimpin oleh guru-guru yang bersedia mempraktikkan di ruang kelas.

DSC_0034

Guru Belajar Menulis. Saya meminta peserta meminta peserta untuk bisa mendeskripsikan apa itu “Menulis” secara individu lalu bergabung menjadi 7 kelompok untuk mendeskripsikan “Menulis” melalui berbagai cara. Ada yang bernyanyi, berpuisi dan berpantun. Masih berada di zona menulis untuk personal, selanjutnya ketika dijelaskan kenapa pentingnya menulis, bapak ibu mengangguk-angguk tanda setuju. Secara personal memang menulis dapat mengurangi beban dan menyalurkan perasaan, menulis pun dapat membantu untuk pekerjaan dan pengembangan karir juga loh.

Pelatihan Menulis ini sudah dilaksakan sebelum kami hadir, dengan Pak Rizky Satria. Hari ini kami akan membahas tentang tentang miskonsepsi menulis, konsep menulis dan praktik menulis. Peserta diminta oleh Pak Rizqy menuliskan ATAP, perjalanan rumah ke tempat pelatihan. Namun ada beberapa yang masih memiliki tantangan untuk membedakan awal dan tantangan. 30 menit diberikan untuk mengembangkan 4 kalimat berisi ATAP. Beberapa sudah menulisnya dengan benar, beberapa masih butuh untuk terus latihan.

 

 

DSC_0195

Sebelum kami menutup sesi donasi Playground of Minang dengan penyerahan buku, kami memberikan kesempatan bagi para peserta untuk mengirimkan tulisan praktik baik pengajaran yang akan diterbitkan menjadi Surat Kabar Guru Belajar Khusus Pesisir Selatan. Karena seindah apa pun cerita, tidak menjadi abadi tanpa dokumentasi melalui tulisan. Terima kasih sudah berjuang dari bulan April 2018 sampai saat ini dan seterusnya. Semoga semakin banyak yang merdeka belajar di ruang kelas.

BTS: Video Guru Belajar Pesisir Selatan

Sore setelah selesai pelatihan, kami berangkat menuju Tapan Bersama Bu Mul dan Bu Novi. Jadwal liputan video berubah, Kambang dulu baru Tapan namun menjadi Tapan dulu baru Kambang, karena ada satu dan lain halnya. Waktu yang diperlukan sekitar 5 jam menuju Tapan dari Painan. Masih kecamatan di Pesisir Selatan tapi jauh banget ya. Tiba di penginapan, rupanya sinyal pun cukup sulit, tak usah berharap 4G karena ada sinyal pun sudah terima kasih. Sudah terbayang bagaimana usaha guru yang hadir di pelatihan dengan tantangan seperti ini?

Guru Ganteng Rizqy RH

Pagi hari kami bergegas ke sekolah Bu Novi, disambut ceria oleh murid-muridnya juga kepala sekolahnya. Perubahan sudah ada dan saya percaya masih akan terus ada. Senangnya melihat karya-karya anak dipajang di dinding kelas, senang. Sesudahnya, kami pamit untuk lanjut ke sekolah Bu Elva. Sambutannya begitu hiruk, murid berdatangan untuk bersalaman dan “aku tuh ingin nangis” karena terharu sama antusiasnya mereka. Memiliki waktu sesaat untuk duduk di luar Bersama murid-murid Bu Elva, saya meminta mereka untuk cerita bagaimana Bu Elva saat di kelas. “Dulu kalau ribut dimarahin, kalau salah dimarahin tapi sekarang sudah gak, sudah ada kesepakatan dan ngajarnya juga enak serta gak ngebosenin.” Bagaimana suatu keresahan yang dialami guru di kelas dapat membawa perubahan positif bukan hanya bagi dirinya namun juga bagi murid dan guru lainnya?

Siang itu, kami segera bergegas ke Kambang. Perjalanan Bersama Bu Mul selesai setelah mengantarkan kami ke ke segala arah. Terima kasih ya Bu Mul, beliau adalah salah satu kepala sekolah yang sangat berperan aktif dalam suksesnya pelatihan di Pesisir Selatan. Mulai dari hal kecil sampai besar, senang sekali ketika berkunjung ke sekolah Bu Mul saat pertama kali kami menginjakkan kaki di Pesisir Selatan. Kepala sekolah yang berdaya, memberdayakan guru, orangtua dan juga lingkungan untuk membantu murid-muridnya.

Hampir magrib, kami tiba di rumah Bu Rahmi. Kami memutuskan untuk menginap di rumah bu Rahmi agar dapat mendengar cerita lebih banyak. Ya, memang ceritanya banyak ya Bu. Tak lama, kami mendapat kabar dari Bu Rahmi bahwa sekolah Bu Novi terkena banjir bandang yang merendam kelas dan juga buku-bukunya. Sedih, namun tetap harus bangkit. Terlihat dari dukungan teman-teman guru kepada Bu Novi dan juga sekolahnya melalui grup Guru Belajar Pesisir Selatan. Ada selalu pelajaran ketika jadwal kami berubah, oh ini toh maksudnya Tuhan.

Di Kambang, kami meliput tiga guru. Bu Rahmi dan Bu Osi di sekolah yang sama. Ternyata untuk berubah memang harus berlapang dada ketika dianggap menjadi berbeda ya Bu. Terima kasih untuk tetap kuat dan memilih di jalan yang kita yakini. Ceritanya banyak, agar lebih hikmat silakan dinantikan tulisan mereka. Satu lagi, Bu Riza yang ceritanya mendapat dukungan dari pihak sekolah untuk melakukan kegiatan seperti ini. Mulai dari yang terdekat agar mudah untuk erat.

DSC_0233

Ya, perjalanan kami selesai di Pelatihan Guru Belajar Literasi Pesisir Selatan. Terima kasih untuk dukungan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pesisir Selatan selama proses rangkaian kegiatan ini, semoga guru yang menjadi peserta dapat bermanfaat bagi kemajuan Pendidikan Pesisir Selatan. Terima kasih juga untuk bapak ibu guru yang sampai di detik akhir sudah saling percaya untuk berubah menjadi lebih baik, untuk diri sendiri, murid di ruang kelas dan juga berbagi praktik cerdas pengajaran kepada guru lainnya.

Beda itu mutlak bagi kita semua. Kenapa harus takut dan malu? Memilih jalan berbeda mulanya dianggap gila, biarkan dan buktikan!

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: