Petikan Pelajaran Kolaborasi Literasi Bermakna

Penulis : bukik | 10 Apr, 2020 | Kategori: Catatan Guru Belajar, Refleksi Guru Belajar

Setahun sudah kami bersama menjalankan program Kolaborasi Literasi Bermakna. Ada banyak kegiatan, tapi lebih banyak lagi pelajaran. Setiap anggota tim dan peserta program mempunyai banyak pemaknaan personal yang beragam terhadap perjalanan ini. Kami mencoba merangkum petikan pelajaran yang didapatkan dari program Kolaborasi Literasi Bermakna. Pelajaran yang akan kami bawa dalam program yang lain, dan menurut kami penting juga dipelajari oleh penggiat pendidikan di seluruh penjuru negeri.

Dari Sendiri Menuju Kolaborasi 

Tantangan pertama dan utama dari Kolaborasi Literasi Bermakna adalah mengubah pola kerja dari yang biasanya asyik sendiri menjadi seru berkolaborasi. Kolaborasi itu indah diucapkan. Begitu mudah disampaikan dalam pidato-pidato, tapi kenyataannya begitu menantang. 

Kolaborasi Literasi Bermakna digawangi empat organisasi yang mempunyai bidang fokus yang berbeda. Kampus Guru Cikal yang menangani guru. Keluarga Kita yang menangani orangtua. Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan yang menangani riset dan advokasi kebijakan. Inibudi yang menangani pembuatan konten belajar. Masing-masing organisasi mempunyai keahlian tersendiri. Setiap organisasi melayani segmen dengan agendanya sendiri.

Melalui program Kolaborasi Literasi Bermakna, kami belajar mensinergikan agenda dan prioritas sekaligus membangun relasi saling percaya. Banyak gesekan dan perdebatan untuk menentukan pilihan yang bisa mengakomodasi semua. Pelajaran penting yang kami dapatkan adalah berpihak kepada anak. Menjadikan kepentingan anak sebagai kriteria untuk mengambil keputusan. Bila antar-organisasi sulit mengalah, tapi ketika berpihak kepada anak menjadi kriteria, maka organisasi bisa lebih melonggarkan agenda dan menerima kesepakatan. 

Kolaborasi Literasi Bermakna bisa berjalan jauh dan mengerjakan banyak kegiatan semata-mata karena mengedepankan kepentingan anak. Cita-cita menyaksikan anak-anak Batu dan Probolinggo bisa belajar karena cinta, bukan karena terpaksa. Bila ada perbedaan, pemersatunya adalah anak. 

Dari Penunjukan Menuju Partisipasi 

Pada sebagian besar program, keterlibatan orangtua dan guru sering kali ditentukan melalui jalur penunjukan. Dinas Pendidikan menunjuk kepala sekolah. Kepala sekolah menunjuk guru dan orangtua untuk mengikuti program. Kebanyakan guru dan orangtua akan terlibat program karena takut melanggar penunjukan tersebut. Takut mendapat sanksi. 

Kampus Guru Cikal dan Keluarga Kita punya pengalaman berbeda. Jalur penunjukan memang membuat orang terlibat program, tetapi bukan karena kesadaran sendiri, sering kali karena terpaksa. Oleh karena itu, kami mencoba jalur partisipasi dalam melibatkan guru dan orangtua dalam program pengembangan. Kami percaya bahwa guru dan orangtua yang berniat belajar pasti mencari cara agar bisa mendapat kesempatan belajar. Dalam lima tahun, kami membangun komunitas guru dan orangtua berdasarkan prinsip partisipasi dan kerelawanan dengan segala dinamikanya. 

Pada Kolaborasi Literasi Bermakna, keyakinan tersebut kami praktikkan dalam sebuah program yang terukur dan terencana secara ketat. Sebuah pilihan yang mengandung risiko tentunya. Apakah dengan kesibukan orangtua dan guru mau meluangkan waktu terlibat dalam program yang tanpa memberi imbalan apa-apa? Bagaimana kalau yang awalnya sukarela mengikuti program kemudian punya kesibukan lain? Apakah guru dan orangtua yang menjadi peserta program akan menjalankannya dengan sungguh-sungguh? Berdasarkan bukti dari pengalaman sebelumnya, kami memilih untuk mengambil risiko dari jalan partisipasi. 

Setelah membereskan hati sendiri, langkah kami berikutnya adalah meyakinkan pemangku kepentingan dari program Kolaborasi Literasi Bermakna. Tidak mudah karena pemangku kepentingan punya pengalaman yang berbeda. Tidak percaya bahwa ada guru dan orangtua yang sukarela mau belajar. ‘Dipaksa saja susah, kok, diminta sukarela,’ mungkin itu pikiran yang terlintas. Namun, setelah dengan sejumlah argumentasi dan cerita pengalaman kami sebelumnya, jalur partisipasi diterima dengan sejumlah catatan.

Di akhir program Kolaborasi Literasi Bermakna, kami sungguh bahagia bisa menunjukkan bahwa guru dan orangtua belajar banyak dengan semangat sukarela, bukan dipaksa.

Dari Hadiah dan Hukuman Menuju Kesempatan dan Dukungan

Keterlibatan dalam program yang berdurasi satu tahun tidaklah mudah. Menjaga konsentrasi dalam hitungan menit saja susah. Karena itu, pengelola program mempunyai sejumlah strategi untuk memotivasi peserta program terlibat secara penuh mulai dari awal hingga akhir. Meski ada banyak strategi, secara umum kesemuanya berdasarkan prinsip hadiah dan hukuman. Hadiah untuk yang menunjukkan perilaku baik, hukuman bagi yang menyimpang. 

Tantangan bagi Kolaborasi Literasi Bermakna adalah menemukan strategi yang tidak menggunakan prinsip hadiah dan hukuman yang biasa dipakai. Pelibatan dalam program dimulai dari partisipasi, kesadaran dari dalam diri, tentu kami butuh mencari strategi memotivasi yang selaras. 

Tantangan terbesar bukan mencari strategi memotivasi yang tepat, tetapi pengelolaan diri dari keseluruhan kami, seluruh anggota tim Kolaborasi Literasi Bermakna, baik yang bertugas di Jakarta maupun daerah. Sering kali yang terjadi adalah khawatir gagal yang berlebihan. Semua pengelola program pasti ingin berhasil mencapai target. Keinginan yang wajar, tetapi bila berlebihan akan menggoda kami menggunakan strategi memotivasi berdasarkan hadiah dan hukuman. 

Bersikap empati terhadap orangtua dan guru yang menjadi peserta program membantu kami keluar dari tekanan menggunakan hadiah dan hukuman. Kami menempatkan diri menjadi peserta program dan berpikir apa yang kami butuhkan untuk berubah lebih baik. Lahir kesadaran bahwa peserta program lebih butuh kesempatan dan dukungan untuk berubah. Kesempatan berbagi praktik baik, kesempatan untuk unjuk diri, dukungan berupa umpan balik, pengakuan terhadap apa yang sudah baik dan koreksi mana yang perlu diperbaiki. Kesadaran yang membuat kami melakukan tambahan kegiatan berupa pendampingan sesuai kebutuhan guru dan orangtua.

Dari Penyeragaman Menuju Berjenjang 

Dalam program yang terukur dan direncanakan secara ketat, sering kali fokus pengelola program adalah pada pelaksanaan kegiatan dan pencapaian target. Program yang sudah direncanakan sejak awal dilaksanakan sebagaimana pakemnya. Persoalannya kemudian, apakah yang sudah direncanakan di awal sesuai dengan tantangan di lapangan dan kebutuhan peserta program? 

Kolaborasi Literasi Bermakna sedari awal sebenarnya sudah melakukan sejumlah kegiatan untuk memahami tantangan di lapangan dan kebutuhan peserta program. Pemahaman yang kami gunakan untuk melakukan penyesuaian rancangan program agar lebih efektif. Namun, pemahaman awal pun ternyata masih belum cukup kaya dibandingkan dengan pemahaman yang didapatkan selama pelaksanaan program. Intensitas interaksi dan percakapan bermakna menghasilkan pemahaman baru yang lebih luas. Jangankan antar-personel, kemajuan program antar-daerah pun tidak sama.

Pelaksanaan program Kolaborasi Literasi Bermakna yang berawal dari pendekatan yang seragam pada perjalanannya disesuaikan. Penyesuaian strategi menjadi lebih personalisasi pada tujuan, cara, dan alat bantu refleksi. Peserta program yang lebih dahulu menguasai sasaran program mendapat kesempatan lebih luas. Sementara, peserta program yang butuh waktu tambahan mendapat dukungan sesuai kebutuhan mereka untuk berkembang. 

Dengan memfasilitasi proses refleksi, kami mengajak orangtua dan guru memahami kemampuan dan kecepatan belajarnya. Jadi, bukan kami yang menentukan kebutuhan belajar, tapi peserta program sendiri yang melakukan penilaian diri untuk menyusun agenda belajarnya. Partisipasi bukan hanya saat pelibatan awal, tapi juga hingga menentukan intensitas belajar.

Dari Berbasis Sekolah Menuju Berbasis Gugus

Mengacu pada prinsip partisipasi, kami membuka kesempatan bagi sekolah untuk terlibat dalam program. Persyaratannya minimal, kriteria yang esensial dan relevan dengan tujuan program. Pada perjalanannya, kami menyadari bahwa relevansi terhadap tujuan program masih belum memadai, terutama ketika sudah memasuki pertengahan pelaksanaan program.

Di Kota Batu yang relatif kecil, faktor geografis masih dalam batas toleransi serta kemampuan guru dan orangtua. Artinya, di mana pun orangtua dan guru berdomisili, masih bisa menjangkau lokasi pelaksanaan program. Sesuai komitmen awal, lokasi kegiatan program diprioritaskan di lokasi publik, terutama sekolah. 

Tapi, kenyataan berbeda kami temui di Kabupaten Probolinggo. Area yang memanjang dari barat, sebelum Kota Probolinggo, hingga ke timur melewati Kota Probolinggo. Area yang luas mulai daerah pesisir pantai hingga di dua wilayah pegunungan. Kondisi geografis yang membuat guru dan orangtua harus menempuh perjalanan lama hingga dua jam dari tempat tinggal menuju lokasi kegiatan. 

Syarat belajar selain kemauan dari dalam diri, juga tingkat kesulitan mengakses sumber belajar. Kemauan belajar yang barusan lahir butuh dukungan kemudahan akses. Karena itu, kami mengembangkan dan menambahkan kegiatan pendampingan. Alih-alih meminta peserta program berkumpul di satu titik, kami memilih berkunjung ke 3-4 titik yang lebih terjangkau. 

Pelajaran pentingnya, pemilihan peserta program perlu mempertimbangkan kondisi geografis. Dibandingkan berbasis sekolah, berbasis gugus akan memudahkan peserta program mengakses sumber belajar sekaligus memudahkan berbagi praktik baik di antara mereka. 

Dari Orientasi Pelatihan Menjadi Orientasi Berbagi 

Kolaborasi Literasi Bermakna adalah program yang diuji efektivitasnya melalui bukti, mulai keluaran, hasil, hingga dampaknya. Kami percaya diri dalam mencapai keluaran (output) dan hasil (outcome) program, tapi kami penuh rasa ingin tahu dan sedikit khawatir mengenai dampak program. Kekhawatiran yang beralasan karena situasinya tidak seideal bayangan awal. Program dijalankan pada semester genap, semester yang padat agenda dan waktu bagi guru serta orangtua menerapkan strategi yang dipelajari tidak cukup leluasa. 

Dengan situasi seperti itu, kami tetap berharap dampak program yang signifikan. Kami terdiam ketika tim Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan pertama kali menyampaikan temuan awal hasil analisis asesmen pra dan pasca-program. Tidak ada perbedaan signifikan dalam hal kemampuan literasi dan numerasi murid sasaran program, baik di Kota Batu maupun Kabupaten Probolinggo. Kami pun berdiskusi mengenai penyebab dan kemungkinan ke depan. 

Pada titik ini, kami menganalisis perbedaan dampak dari guru yang berbagi praktik baik dengan guru yang tidak berbagi praktik baik pengajaran. Karena tidak semua guru yang menjadi peserta program menyelesaikan tahapan program hingga akhir. Hasil analisisnya melegakan kami. Ada perbedaan signifikan kemampuan literasi murid sasaran program antara kelas yang gurunya berbagi praktik baik dengan kelas yang gurunya tidak berbagi praktik baik. Ini berarti guru yang berbagi praktik baik pengajaran membawa dampak positif pada penguasaan kemampuan literasi murid dibanding guru yang tidak berbagi praktik baik pengajaran.

Pelajaran untuk program lain, siklus pelatihan, praktik di kelas dan berbagi praktik baik pengajaran perlu dibuat lebih ringkas, setidaknya satu putaran bisa diselesaikan dalam waktu 2-3 bulan. Konsekuensinya, pelatihan perlu dipecah menjadi sejumlah modul kecil yang bisa dilatihkan dalam waktu 3-6 jam. 

Sementara pada orangtua, pendampingan belajar yang dilakukan orangtua ternyata berpengaruh terhadap kemampuan literasi anaknya. Kesadaran dan keterampilan pengasuhan yang dikembangkan oleh Keluarga Kita mendorong orangtua mau dan tahu apa yang harus dilakukan. Orangtua belajar melalui sejumlah latihan sederhana, seperti simulasi pendampingan anak belajar dan praktik mengirim pesan kepada guru. Latihan tersebut dilanjutkan dengan berbagi cerita pengalaman orangtua. Orangtua yang jarang mendapat kesempatan, belajar menyampaikan pengalaman dan harapannya secara terbuka. Orangtua menjadi lebih percaya diri melakukan pendampingan anak belajar dan berinteraksi dengan guru. 

Pengembangan guru dan orangtua pada program Kolaborasi Literasi Bermakna mempunyai kesamaan ciri, yaitu refleksi. Kesempatan menandai, menstrukturkan, dan menceritakan pengalaman pengajaran dan pengasuhan. Refleksi adalah kunci pengembangan guru dan orangtua.

Pelajaran Terakhir yang Tak Kalah Penting

Menentukan tujuan dan jadwal bersama yang melibatkan empat organisasi adalah sebuah agenda penting. Berbagi prioritas untuk menentukan pelaksanaan setiap kegiatan. Namun lebih penting lagi, melibatkan para pemangku kepentingan. Prinsip partisipasi memang sudah diterapkan dalam pelibatan program, namun penting untuk memperluasnya menjadi perencanaan partisipatif, yang baru kami laksanakan di pertengahan program. Meski prosesnya lebih butuh energi dan waktu, tapi dampaknya berarti terhadap keikutsertaan dan semangat dalam menjalani kegiatan. Pada akhir program, kami menyaksikan guru dan orangtua yang lebih berani berinisiatif dan mengambil tantangan belajar yang lebih sulit. 

Akhir kata, orangtua dan guru bukanlah korban yang perlu dibantu, tapi teman perjalanan belajar mencapai tujuan bersama, masa depan anak Indonesia.

Posting ini merupakan bagian dari Buku Refleksi Kolaborasi Literasi Bermakna yang dapat diunduh di Buku Refleksi KLB.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: