Playground of Ujung Pandang : Perayaan Belajar yang Bermakna

Penulis : rizqy | 5 Apr, 2019 | Kategori: Inspirasi Guru Belajar

Tidak sedikit masyarakat yang menyesalkan dengan perkembangan yang ada saat ini. Teknologi yang melesat, masuknya budaya global dan gaya hidup pop culture. Hal tersebut membuat sebagian orang bergeming tentang nasib budaya lokal.

“Bagaimana warisan budaya nenek moyang nantinya? Apakah akan terus terjaga? Bagaimana jika suatu saat nanti hilang di telan zaman?”

Menganggap seakan bahwa generasi penerusnya tidak akan melestarikan, menganggap bahwa perkembangan yang ada adalah suatu bahaya bagi budaya lokal.

Alih-alih menyalahkan generasi penerus, Sekolah Cikal mengajak para murid mengenal budaya dengan cara yang menarik, yaitu dengan Playground. Playground merupakan perayaan belajar murid yang mengintegrasikan antara pelajaran, minat bakat, budaya Indonesia dan aksi sosial yang berkontribusi terhadap kualitas pendidikan Indonesia.

Pada tahun ini, Cikal Playground memilih Ujung Pandang sebagai fokus yang dipelajari para murid sehingga disebut sebagai Playground of Ujung Pandang.

“Ujung Pandang terkenal dengan Kapal Phinisinya, kapal terbesar dari Asia Tenggara yang berhasil mengelilingi dunia, itulah salah satu alasan mengangkat Ujung Pandang.” Ujar Pia Adiprima, Ketua Penyelenggara Playground of Ujung Pandang

Perayaan keberhasilan belajar ini dikemas menjadi dua, yaitu berupa pameran dan pertunjukan.

Saya sendiri sudah mengikuti 2 kali playground, yaitu Pobal (Playground of Bali) dan Pomin (Playground of Minang), dan keduanya berhasil membuat saya takjub. Bahwa mengenalkan budaya ternyata bisa dengan cara yang menarik, salah satunya diintergrasikan ke dalam pembelajaran.

Hari ini (Jumat, 5 April 2019) saya berkesempatan datang di playground untuk ketiga kalinya, yaitu di Popang (Playground of Ujung Pandang) di Sekolah Cikal Cilandak. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang melangsungkan pameran dan pertunjukan di gedung pertunjukkan di luar sekolah. Kali ini beda, karena diselenggarakan di dalam sekolah.

“Ini pertama kalinya panggung di dalam sekolah ya, sebelumnya tidak. Ini bagi orangtua dapat lebih dekat dengan anak, dan anak lebih percaya diri.” Afand orangtua murid.

Salah satu yang spesial adalah pengunjung bisa masuk kelas-kelas yang berisi pameran hasil belajar murid. Ada layang-layang bermotif kain Ujung Pandang yang mana dihasilkan dari intergrasi pembelajaran seni dan matematika. Adapula tempelan-tempelan tentang tokoh, benda, dan sesuatu dari Ujung Pandang yang merupakan hasil pembelajaran bahasa.

Selain itu ada pula beberapa barang yang dilelang kepada pengunjung, yang notabennya adalah karya murid. Seperti tahun sebelumnya di Pomin (Playground of Minang) hasil penjualan barang dan tiket akan disulurkan di suatu daerah. Tahun ini rencananya akan menyasar 250 guru dan 10.000 murid di Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Karena yang kita butuhkan bukan keluhan dan menyalahkan, namun harapan dan sebuah gerakan untuk kelestarian dan kemajuan Indonesia.



About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: