Praktik Asesmen Diagnosis, Tatap Maya Seindah Tatap Muka

Praktik Asesmen Diagnosis, 
Tatap Maya Seindah Tatap Muka

Bapak dan Ibu guru merasa praktik asesmen diagnosis saat tatap maya tak seindah tatap muka? Merasakan banyak yang hilang dan memengaruhi proses belajar di kelas? Yap, pandemi yang datang ternyata menjungkirbalikkan kebiasaan-kebiasaan bapak dan ibu guru. Mungkin banyak para guru yang sudah memiliki kebiasaan pembelajaran dengan praktik asesmen diagnosis tatap muka namun tiba-tiba harus menjalankan pembelajaran praktik asesmen diagnosis tatap maya. 

Tapi tenang bapak dan ibu guru, di dalam tulisan ini kita akan bahas lebih lanjut bagaimana sih membuat praktik asesmen diagnosis saat tatap maya seindah tatap muka. Tanpa berlama-lama, kita akan dengarkan cerita dari Ibu Anggi Rizka Pustika, yang mana anggota KGB Klaten dan mengajar di SD Negeri Bogem 2.

Baca Juga: Praktik Asesmen Formatif dalam Pembelajaran Jarak Jauh

“Lah, bikin nilai anak, ya tinggal kasih soal, beri nilai. Udah, deh. Beres! Ngapain repot mikir lainnya? Jawaban anaknya itu, ya udah itu nilai dia. Titik!”

Proses belajar itu ya murid datang ke sekolah, guru membuka pertemuan, memberikan penjelasan, berlatih soal, membahas soal. Sudah cukup. Ketika materi habis, oh, ini artinya murid akan guru berikan ulangan untuk tahu capaian belajar mereka. Ulangan, koreksi, beri nilai selesai.

Ya, semudah itulah saat awal-awal kegiatan Ibu Anggi dalam melakukan penilaian kepada murid. Apalagi belia seringkali mendengar kalimat-kalimat seperti ini. “Ah, guru itu gak bikin ulangan, gak koreksi aja udah tahu mana murid yang pinter mana yang enggak” atau “Hanya melihat wajahnya saja sudah hafal. Sudahlah tidak perlu repot. Seperti teman pada umumnya saja)”. Lagi-lagi tidak usah repot adalah kata sakti yang sempat membuat Ibu Anggi meyakini ketika melakukan penilaian kepada murid: yo wes (ya sudah). Gak usah repot.

Lalu, tiba-tiba pandemi datang dan menjungkirbalikkan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini Ibu Anggi lakukan. Ibu Anggi, guru yang sudah memiliki kebiasaan mengajar lebih dari delapan tahun, merasa bingung seketika. Tidak ada interaksi fisik langsung. Tidak ada teriakan, yang dari jauh dulu beliau tahu ini adalah suara si A. “Ya ampun….! Ini lembar kerja milik siapa? Kenapa gak dikasih nama, sih?” Ibu Anggi benar-benar merasa kebingungan, padahal sebelumnya beliau hafal tulisan setiap muridnya. Ibu Anggi merasa ada banyak yang hilang dan memengaruhi proses belajar di kelas. Beliau pun sempat menganggap jika tatap maya tak seindah tatap muka. Termasuk dalam proses penilaian. Keyakinan beliau bahwa penilaian gak usah repot, goyah. 

“Si B suaranya kenceng. Mengerjakan tugas pasti dengan mengetuk-ngetuk meja. Kekuatannya ada pada numerasi, lemah dalam seni.”. Suara, gestur, tulisan, sifat, sikap, cara mengerjakan biasanya bisa beliau kenali dengan interaksi langsung. Lalu saat pandemi? Benar-benar menjadi big problem bagi Ibu Anggi. Beliau gak bisa mengetahui perkembangan si A ini bagaimana, si F seperti apa, si C kuat di bagian apa. Beliau merasa asing dengan murid-murid. Lantas beliau  bertanya kepada dirinya sendiri, “Kalau begini caranya, bagaimana bisa saya melakukan penilaian tanpa repot?”.

Beruntunglah pada 2017, Ibu Anggi dipertemukan dengan Komunitas Guru Belajar. Kebingungannya tentang proses belajar kala pandemi mendapat jawaban dari komunitas ini. Termasuk tentang penilaian. Asesmen diagnosis menjadi jawaban atas masalah beliau dalam mengenal murid. Melalui KGB, Ibu Anggi menjadi paham bahwa penilaian untuk murid itu menyeluruh. Bukan hanya kasih soal, koreksi, beri nilai, selesai. Asesmen bagi murid itu hal yang kompleks dan butuh beragam cara untuk mendapat hasil yang akurat. Mudahnya, asesmen bisa diibaratkan seperti proses ketika kita sakit dan butuh pergi ke dokter. Ketika kita datang, dokter tidak akan langsung memvonis, “Oh, kamu sakit X”. Dokter akan memberikan beberapa pertanyaan terlebih dahulu. “Apa yang Anda rasakan? Sejak kapan? Bagian mana yang sakit?” Setelah itu, barulah pemeriksaan dimulai. Dokter akan mengaitkan hasil pemeriksaan dengan gejala yang nampak. Jika diperlukan, didukung dengan hasil tes laboratorium untuk menegaskan diagnosisnya. Ibu Anggi pun sadar, proses yang dilakukan oleh dokter ini seharusnya beliau lakukan pula kepada muridnya. Sayangnya, beliau tidak lakukan.

Hasil belajar di KGB kemudian Ibu Anggi terapkan, refleksi. Apa yang selama ini bisa dengan mudah beliau ketahui ketika tatap muka, lantas beliau catat. Apa yang butuh beliau ketahui dari murid, beliau jadikan acuan untuk membuat asesmen diagnosis, membuat profil murid. Ibu Anggi kemudian membuat daftar pertanyaan melalui Google Form. Pertanyaan tersebut beliau klasifikasikan menjadi dua jenis, berupa daftar pertanyaan yang umum dan daftar pertanyaan yang khusus serta detail. Daftar pertanyaan yang umum itu seperti ketika kita membuat biodata bagi murid baru. Pertanyaannya seputar nama orang tua, nama anak, alamat tinggal, serta pekerjaan. Jika biasanya dalam biodata isian diwakilkan data ayah, maka dalam data ini Ibu Anggi meminta diisi baik data ayah maupun ibu. Untuk apa? Untuk mendapatkan gambaran detail apakah anak ini tinggal bersama orang tua atau keluarga lainnya. Data pekerjaan membuat beliau memahami apakah orang tua bekerja semua atau ada salah satu yang di rumah. Jika di rumah, apa yang dia kerjakan?

Dilanjutkan dengan pertanyaan khusus. Ibu Anggi mulai dengan menanyakan jumlah anggota keluarga serta dengan siapa tinggal dalam satu rumah. Data ini bermanfaat untuk mengetahui orang dewasa yang berpotensi untuk menjadi pendamping belajar murid selain ayah atau ibunya. Berapa jumlah gawai yang dimiliki dan apa saja juga beliau tanyakan. PJJ dalam gambaran Ibu Anggi pastinya akan sangat membutuhkan gawai. Oleh karena itu kepemilikan gawai ini sangat penting untuk beliau ketahui agar beliau dapat menentukan bagaimana proses belajar yang sesuai dengan kondisi mereka. Salah satu pertanyaan penting lainnya adalah berapa rupiah yang digunakan seluruh keluarga dalam satu bulan untuk kuota internet. Akan sangat tidak bijak jika Ibu Anggi tidak tahu hal ini, lalu setiap hari mengajak murid menggunakan video conference, padahal untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari orang tua masih mengalami kesulitan. Oh, iya, Ibu Anggi tanyakan hal ini sebelum ada kuota dari Kemendikbud. Ibu Anggi merasa tetap penting juga untuk mengetahui meskipun saat ini telah ada kuota bantuan dari Kemendikbud. 

Setelah Ibu Anggi kirimkan tautan Google Form ini ke grup WhatsApp, orang tua merespon dengan sangat baik. Tak berapa lama, beliau sudah mendapatkan data anak-anak dari orang tua. Ibu Anggi juga meminta murid untuk menceritakan dirinya untuk mendapatkan data diri yang lebih personal. Beliau ajukan pertanyaan panduan seperti yang beliau ajukan kepada orang tua mereka. Ada pertanyaan umum dan khusus juga. Pertanyaan umum seperti nama diri, alamat tinggal, nama orang tua, dan pekerjaan orang tua. Pertanyaan khusus seperti hobi mereka, makanan kesukaan, warna kesukaan, film favorit,dan kartun yang sering mereka tonton. Juga tentang permainan kesukaan, artis favorit hingga siapa saja teman dekat mereka. Mereka bisa menceritakan diri menggunakan beragam cara. Ada yang mengirimkan video perkenalan, voice note, gambar, atau tulisan.

Tabel Asesmen Diagnosis

Lantas Ibu Anggi melakukan konfirmasi kepada guru kelas sebelumnya mengenai data diri setiap anak, bagaimana dukungan orang tuanya, gaya belajar, serta bagaimana pemetaan kompetensi mereka. Setelah beliau sandingkan data dari orang tua, cerita dari murid, serta hasil konfirmasi kepada guru sebelumnya, beliau bisa mendapatkan gambaran utuh profil murid. Ibu Anggi jadi mengenal murid dengan baik. Beliau pun tahu kekuatan si A, beliau tahu dukungan seperti apa yang dibutuhkan si B.

Sebagai kesimpulan, meskipun melalui dunia maya, Ibu Anggi tetap merasa dekat dengan muridnya. Beliau lebih mudah melakukan penilaian ketika mengetahui latar belakang murid dengan baik. Jadi, apakah asesmen tatap maya tidak seindah tatap muka? Ibu Anggi rasa tidak karena keduanya sama indahnya :).

Bagaimana Bapak dan Ibu Guru, menarik dan insightful sekali kan cerita Ibu Anggi kali ini? Penasaran dengan cerita-cerita menarik dari guru-guru hebat lainnya? Ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII pada 20-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000Pembicara. Mari #BelajarDiTPNVIII! 

Klik: https://tpn.gurubelajar.org

Sumber Buku: Surat Kabar Guru Belajar 028 – Edisi II Tahun Keenam

About the Author
Penulis Cerita - Desainer Program Guru Belajar | Undergraduate English Department Student at Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: