Praktik Kolaborasi di Sekolah Inklusi

Penulis : Joko Supriyanto | 20 Jul, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Rembang, Temu Pendidik Daerah

Senang sekali sore ini saya berkesempatan berbagi dan berdiskusi dengan teman-teman guru-guru dan pendidik di Rembang. Di ECCD RC saya sebagai Direktur, dan yang nanti akan coba saya bagikan adalah pengalaman-pengalaman kami di Labschool Rumah Citta dan juga pengalaman kami mendampingi PAUD-PAUD berbasis masyarakat (baik di Jawa maupun saat ini kami sedang melakukan pendampingan di Papua Barat).  Jadi ayook nanti kita lebih banyak berdiskusi saja yaaa πŸ˜ƒ

Pertanyaan 1 :

Guru Nisa : Dalam sebuah Sekolah Inklusi pastinya butuh keterlibatan dari beberapa hal salah satunya tadi ada di slide orangtua. Pertanyaannya seberapa besar keterlibatan orangtua dalam menjalankan praktik-praktik kegiatan di kelas inklusi? Dan kolaborasi yang bagaimana yang kiranya bisa memfasilitasi setiap keragaman di kelas-kelas tersebut, terutama kelas yang ada ABKnya?

Jawaban :

Narasumber : Baik, terima kasih pertanyaannya Mbak Nisa. Ketika orangtua mendaftarkan anaknya untuk sekolah di sekolah inklusi, pada saat yang sama pihak sekolah perlu menjalin Kesepakatan berkaitan dengan visi misi lembaga. Kalau di Rumah Citta, di awalΒ  pendaftaran, orangtua menandatangani lembar kesepakatan tentang visi misi lembaga yang salah satunya adalah mengusung nilai keberagaman. Untuk itu ke depannya, kesepakatan ini dijadikan pegangan dan dasar dalam menjalin kerjasama dengan orangtua.

Proses komunikasi dengan orangtua dijalin tidak saja melewati parents meeting, parenting, namun juga dari komunikasi harian pada saat mengantar maupun menjemput anak di sekolah.  Selain itu, keterlibatan orangtua di kelas juga bisa diwujudkan dengan menjadi guru tamu untuk topik yang sekiranya berkaitan dengan orangtua bersedia menjadi resource person.

Menariknya, tentu ketika ada permasalahan atau konflik yang awalnya melibatkan anak saja, namun terbawa ke orangtua. Untuk kelas yang beragam, hal ini menjadi situasi yang tidak bisa dihindari. Anak-anak tentu sedang belajar mengenal temannya yang berbeda termasuk ABK. Sehingga kadang muncul konflik diantara anak-anak di kelas, yang dalam beberapa kasus bisa diselesaikan antar anak di kelas, namun tak jarang perlu melibatkan orangtua.

Poin penting Kolaborasinya adalah Edukator perlu cermat menempatkan diri bahwa edu adalah pendamping di sekolah (atau bisa dikatakan ahlinya di sekolah) namun tetap menghargai bahwa orangtua  adalah pendamping utama di rumah (atau ahlinya di rumah). Saya rasa di situ poin pentingnya.

Tanggapan :

Guru Nisa : Untuk kesepakatan yang berkaitan dengan keberagaman ini apakah hanya diperuntukkan untuk wali murid ABK atau menyeluruh kepada semua wali murid?

Narasumber : Media untuk kolaborasi bisa berupa Gambaran Program Mingguan yang dikomunikasikan kepada anak. Kesepakatan berkaitan dengan visi misi (terutama tentang nilai inklusi di dalamnya) wajib ditandatangani oleh semua Orangtua Mbak Nisa..jadi tidak hanya wali murid ABK saja. Karena di situlah letak peranan anggota kelas dalam mewujudkan dan mendukung kelas inklusi nantinya.

Guru Nisa : Oke…siap maturnuwun sanget Mbak Ganis πŸ˜ŠπŸ™πŸΌ

Pertanyaan 2 :

Guru Lailia SM: Melihat komponen pendidikan inklusi dalam hal Kurikulum, penasaran banget nih bagaimana cara merancang kurikulum di sekolah citta dengan keragaman peserta didiknya. Selain dengan cara observasi apakah ada cara lainnya?? Dan bagaimana penerapannya antara murid ABK dengan murid reguler. Pengalaman saya di kelas TK A dengan 2 anak ABK dan 25 anak reguler, selesai proses pengobservasian anak ABK, kami guru kelas mulai merancang RPI dengan mengkomunikasikan kepada orang tua. Tapi dalam pelaksanaannya, kami masih sering fokus di kegiatan bersama anak reguler.

Jawaban :

Narasumber : Sebelumnya kami ingin menyampaikan bahwa Rumah Citta selama ini menggunakan Kurikulum Rumah Citta (Kuruci) yang kami bangun sejak awal berdirinya Rumah Citta. Secara ruhnya, sebenarnya, Kurtilas PAUD juga sejalan dalam hal menghargai setiap keunikan anak dan pendekatan saintifik.

Pertama, mindset yang perlu dikuatkan adalah bahwa setiap anak adalah unik (mereka memiliki keunikan dalam minat, cara atau gaya belajar, dan juga mempunyai keunikan dalam mencapai setiap tugas perkembangannya).

Kedua, Berangkat dari poin 1, maka edukator akan melihat setiap anak di kelasnya memiliki keunikan, untuk itu pada 1-3 bulan pertama Tahun Ajaran, adalah proses bagi edukatornya untuk melakukan asessment kepada setiap murid. Baik ABK maupun anak yang tidak ABK, kami biasa menyebut dengan anak saja, mendapatkan porsi asessment yang sama. yang membedakan antara ABK dan anak lainnya, adalah minat, cara belajar dan juga capaian tugas perkembangan). Misalnya di kelas ada anak 15 anak maka akan muncul 15 keunikan dari 3 aspek tadi.

Sebagai gambaran, di kelas TK B yang berisi 14 anak, dengan 2 ABK, akan muncul “profil” gambaran 14 minat anak, 14 gaya belajar anak, dan mungkin ada 10 anak yang capaian Aspek perkembangan Bahasa sesuai dengan usia 5 tahun, dan 2 anak sesuai aspek perkembangan bahasa 4 tahun, dan 2 anak aspek perkembangan bahasanya sesuai dengan usia 6 tahun. hal yang sama juga berlaku untuk aspek kognitif, motorik dan sosial emosi.

Ketiga, Nah dari hasil gambaran rentang capaian aspek perkembangan anak di kelas, maka Edukator akan meramu indikator capaian perkembangan di kelasnya yang akan dijadikan acuan dalam pembuatan program dan kegiatan sesuai tema kelas.

Oh iya di Rumah Citta, tema, kegiatan dan aturan kelas semuanya berangkat dari usulan serta ide dari anak-anak sehingga mereka merasa dihargai dan dilibatkan dalam pembuatan maupuan pelaksanaanya.

Taggapan :

Guru Lailia SM: Kereeen. Banget Pak penjelasannya Bu ⁨Nindyah Rengganis Yogya⁩ πŸ‘πŸΌπŸ‘πŸ»πŸ˜Š Jadi peran guru sebagai fasilitator benar-benar harus teliti dengan beragam keunikan anak dikelas yang tidak lupa melihat tahapan perkembangannya untuk dikaitkan dengan indikator-indikator dari tema yang sudah melibatkan anak didalamnya πŸ€©πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜‰

Pertanyaan 3 :

Guru Chorid: Di pesantren itukan bisa dikatakan inklusi juga karena di dalamnya ada banyak sekali anak yang berbeda background sosial, pola pikir, lifestyle, gaya bicara, dsb. Ada anak yang sudah remaja, menurut kami dia agak kesulitan membangun interaksi dengan orang lain. Hampir setiap kali dimasukkan pesantren, pasti ada aja alasan untuk keluar. Dia merasa kalo teman-temannya itu tidak suka dan menganggapnya berbeda dari anak pada umumnya. Setelah dicari alasannya ternyata anak ini pendiam dan mudah tersinggung saat diajak bercanda atau saat diingatkan. Sudah diajak bicara, tapi malah merasa tidak didukung, bahkan sampai nangis terkadang.

Bagaimana ya Bu Ganis cara yang lebih baik mengajak bicara anak yang demikian ini?

Jawaban :

Narasumber : Saya bisa membayangkan, tentu tantangan yang dihadapi anak (remaja) yang masuk boarding school atau pesantren jadi dobel…. tantangan menghadapi kehidupan dan rutinitas yang jauh dari keluarga dan pertemanan yang sudah dibangun sebelumnya. tantangan kedua adalah membangun pertemanan baru di lingkungan barunya.

Yang mungkin bisa dilakukan di awal adalah mengumpulkan sebanyak mungkin informasi berkaitan dengan kehidupan terutama pertemanan sebelum masuk pesantren, sehingga kita bisa mengurai penyebab dirinya menarik diri dari lingkungan yang baru baginya. Bisa jadi masa awal atau transisi ini sangat krucial sekaligus menantang. Libatkan orangtuanya dalam menggali penyebab ini. HIndari memberikan label pada si anak, pembicaraan dengan orangtua perlu diawali dengan set mental bahwa dia berbeda.

Perlu juga mencari tahu suasana seperti apa (sekecil apapun) yang bisa membuatnya merasa aman dan nyaman untuk bicara. Sekadar sharing pengalaman kami di TK Rumah Citta, kami menerima anak yang aktif sekali, dan pindah dari sekolah sebelumnya karena menurut orangtuanya dan gurunya, ia tidak mau sama sekali masuk kelas, dan hanya berlari saja.

Memang butuh waktu kurang lebih 2 bulan untuk membangun pemahaman akan latar belakang kondisi keluarganya (yang ternyata diasuh oleh kakek nenek dan orangtuanya bekerja di kota lain). Di awal ia masuk Rumah Citta, emosinya bisa dibilang sangat labil dan enggan bergabung bersama teman di dalam circle di kelas. Dia butuh waktu untuk merasa nyaman dengan bermain sendiri dulu, di luar lingkaran, sampai ia merasa sesekali tertarik untuk bergabung dengan teman lainnya sekelas. selama proses ini, Edukator terus mengamati dan mengikuti prosesnya. Edu juga memandang si anak sebagai anak saja, tanpa membawa label dari keluarga maupuan guru di sekolah sebelumnya.

Tanggapan :

Guru Chorid: Ohya terkait pembicaraan awal dengan orangtua ini, terkadang kami menahan diri sekali untuk membicarakan kalo si anak ini ada yang berbeda, alasannya karena kami hawatir dengan bagaimana perasaan orangtua nantinya.. kira-kira apa dulu yang perlu disampaikan untuk membuka pembicaraan terkait ini bu? Hehe maaf ya jadi menambahπŸ™πŸΌπŸ˜Š

Narasumber : Yang menarik, dia akhirnya menemukan “buddy/friend”, satu teman yang bisa membuatnya nyaman. Nah, Edu akhirnya masuk lewat pertemanan ini untuk mengajak dan merangkul si anak mengikuti kegaitan bersama teman sekelas.

Guru Chorid: Ini menarik sekali.. Memandang anak sebagai anak saja, tanpa membawa label dari keluarga maupun guru di sekolah sebelumnya. Penting banget ini bu saya rasa.. πŸ˜ŠπŸ‘πŸΌ

Narasumber : Menurut saya, justru fase awal ini perlu dibangun komunikasi yang lebih intensif agar bisa bersama memahami. sampaikan bahwa saat ini kami sendang mencoba memahami anak, dan butuh bantuan orangtua dalam membangun pemahaman itu.

Kalau tips saya untuk edukator di RC, ketika berkomunikasi dengan orangtua, kita harus sadar posisi masing-masing dan sepakat untuk tidak saling menyalahkan. Anggap saya Guru (atau pamong di pesantren) akan memaparkan hasil amatan perilaku anak selama di pesantren, sedangkan Orangtua diharapkan memberikan hasil amatannya selama di rumah. dari kedua data ini bisa dibangun pemahaman bersama… nah. tuh dah mulai praktek kolaborasi.

Mari Bu Chorid, terus ajak untuk membiasakan melihat ABK sebagai Pribadi seorang Anak atau Remaja.. tanpa labelnya bahwa dia berbeda. Setujuuu kaan??

Guru Chorid: Hehe… Dikit kok. 🀭 Semisal orangtua yang belum sepenuhnya terbuka, masih agak menutupi dengan perkembangan anak sehingga hasil pengamatan berbeda antara guru dengan orangtua, bagaimana bu? Ya atau sebaliknya.. ini bukan berarti saya mengklaim pengamatan guru selalu benar nggih. πŸ™πŸΌπŸ˜Š

Narasumber : Hehe.. Selain anak yang melewati tahapan perkembangan yang unik satu sama lain, orangtua (dengan ABK) juga mengalami tahapan sendiri. Untuk orangtua ABK misalnya, pengalaman kami mendampingi beragam orang tua, banyak yang masih fase yang awalnya orangtua menyangkal, ada yang pada fase marah (pada diri sendiri dan lingkungannya) baru kemudian bisa menerima dan bisa bekerjama… jadi mungkin itu bisa dimaklumi terus dikomunikasikan.

Selain anaknya yang diajak diskusi tapi juga teman-teman (mungkin sekamarnya) juga bisa diajak untuk diskusi dan bisa membuat kegiatan bersama biar lebih akrab gitu. Sambil menunggu proses orangtuanya.

Bolehkah saya menambahkan sharing Rumah Citta berkaitan dengan Kolaborasi di kelas?

Tambahan beberapa praktek kolaborasi kelas inklusi di Rumah Citta yang melibatkan educator, anak dan orangtua:

1. Salah satu kegiatan di kelas (yang seringkali dilakukan) adalah guru sebisa mungkin  membuat kegiatan yang sama, tetapi tantanganya berbeda atau tingkat kesulitannya berjenjang. Sehingga anak merasa tetap berkegiatan yang sama, tanpa merasa dibedakan. Maka  sangat penting guru untuk tahu sejauh mana tahapan perkembangan anak.

2. Keterlibatan orang tua tidak harus di kelas. Tapi bisa lewat di rumah. Misal membantu memahamkan ke anak bahwa ad bbrp teman yang masih butuh dibantu. Atau ad teman yang bicaranya masih blm jelas. Atau yang masih butuh diingatkan untuk mau gantian mainan…dsb…(tergantung kebutuhannya). Orang tua yang memperlakukan / memahami ABK (teman anaknya) … Maka akan membantu si anak untuk juga ikut memahami. Artinya tidak malah mendorong anak ya untuk “Tidak usah main sama dia…nanti mainanmu rusak”, dsb. Tentu tidak semua orang tua akan langsung memahami. Tapi dari modelling yang dilakukan oleh guru kelas, atau staf lain (misalnya)… , Atau diskusi diskusi kecil…Maka lama lama mereka bisa belajar. Bisa lewat parenting. Atau juga pas parents meeting di awal.

Senang sekali sore ini saya berkesempatan berbagi dan berdiskusi dengan teman-teman guru-guru dan pendidik di Rembang. Di ECCD RC saya sebagai Direktur, dan yang nanti akan coba saya bagikan adalah pengalaman-pengalaman kami di Labschool Rumah Citta dan juga pengalaman kami mendampingi PAUD-PAUD berbasis masyarakat (baik di Jawa maupun saat ini kami sedang melakukan pendampingan di Papua Barat).  Jadi ayook nanti kita lebih banyak berdiskusi saja yaaa πŸ˜ƒ

DISKUSI :

Pertanyaan 1 :

Bu Nisa : Dalam sebuah Sekolah Inklusi pastinya butuh keterlibatan dari beberapa hal salah satunya tadi ada di slide orangtua. Pertanyaannya seberapa besar keterlibatan orangtua dalam menjalankan praktik-praktik kegiatan di kelas inklusi? Dan kolaborasi yang bagaimana yang kiranya bisa memfasilitasi setiap keragaman dikelas-kelas tersebut, terutama kelas yang ada ABKnya?

Jawaban :

Narasumber : Baik, terima kasih pertanyaannya Mbak Nisa. Ketika orangtua mendaftarkan anaknya untuk sekolah di sekolah inklusi, pada saat yang sama pihak sekolah perlu menjalin Kesepakatan berkaitan dengan visi misi lembaga. Kalau di Rumah Citta, di awal  pendaftaran, orangtua menandatangani lembar kesepakatan tentang visi misi lembaga yang salah satunya adalah mengusung nilai keberagaman. Untuk itu ke depannya, kesepakatan ini dijadikan pegangan dan dasar dalam menjalin kerjasama dengan orangtua.

Proses komunikasi dengan orangtua dijalin tidak saja melewati parents meeting, parenting, namun juga dari komunikasi harian pada saat mengantar maupun menjemput anak di sekolah.  Selain itu, keterlibatan orangtua di kelas juga bisa diwujudkan dengan menjadi guru tamu untuk topik yang sekiranya berkaitan dengan orangtua bersedia menjadi resource person.

Menariknya, tentu ketika ada permasalahan atau konflik yang awalnya melibatkan anak saja, namun terbawa ke orangtua. Untuk kelas yang beragam, hal ini menjadi situasi yang tidak bisa dihindari. Anak-anak tentu sedang belajar mengenal temannya yang berbeda termasuk ABK. Sehingga kadang muncul konflik diantara anak-anak di kelas, yang dalam beberapa kasus bisa diselesaikan antar anak di kelas, namun tak jarang perlu melibatkan orangtua.

Poin penting Kolaborasinya adalah Edukator perlu cermat menempatkan diri bahwa edu adalah pendamping di sekolah (atau bisa dikatakan ahlinya di sekolah) namun tetap menghargai bahwa orangtua  adalah pendamping utama di rumah (atau ahlinya di rumah). Saya rasa di situ poin pentingnya.

Tanggapan :

Bu Nisa : Untuk kesepakatan yang berkaitan dengan keberagaman ini apakah hanya diperuntukkan untuk wali murid ABK atau menyeluruh kepada semua wali murid?

Narasumber : Media untuk kolaborasi bisa berupa Gambaran Program Mingguan yang dikomunikasikan kepada anak. Kesepakatan berkaitan dengan visi misi (terutama tentang nilai inklusi di dalamnya) wajib ditandatangani oleh semua Orangtua Mbak Nisa..jadi tidak hanya wali murid ABK saja. Karena di situlah letak peranan anggota kelas dalam mewujudkan dan mendukung kelas inklusi nantinya.

Bu Nisa : Oke…siap maturnuwun sanget Mbak Ganis πŸ˜ŠπŸ™πŸΌ

Pertanyaan 2 :

Bu Lailia SM: Melihat komponen pendidikan inklusi dalam hal Kurikulum, penasaran banget nih bagaimana cara merancang kurikulum di sekolah citta dengan keragaman peserta didiknya. Selain dengan cara observasi apakah ada cara lainnya?? Dan bagaimana penerapannya antara siswa ABK dengan siswa reguler. Pengalaman saya di kelas TK A dengan 2 anak ABK dan 25 anak reguler, selesai proses pengobservasian anak ABK, kami guru kelas mulai merancang RPI dengan mengkomunikasikan kepada orang tua. Tapi dalam pelaksanaannya, kami masih sering fokus di kegiatan bersama anak reguler.

Jawaban :

Narasumber : Sebelumnya kami ingin menyampaikan bahwa Rumah Citta selama ini menggunakan Kurikulum Rumah Citta (Kuruci) yang kami bangun sejak awal berdirinya Rumah Citta. Secara ruhnya, sebenarnya, Kurtilas PAUD juga sejalan dalam hal menghargai setiap keunikan anak dan pendekatan saintifik.

Pertama, mindset yang perlu dikuatkan adalah bahwa setiap anak adalah unik (mereka memiliki keunikan dalam minat, cara atau gaya belajar, dan juga mempunyai keunikan dalam mencapai setiap tugas perkembangannya).

Kedua, Berangkat dari poin 1, maka edukator akan melihat setiap anak di kelasnya memiliki keunikan, untuk itu pada 1-3 bulan pertama Tahun Ajaran, adalah proses bagi edukatornya untuk melakukan asessment kepada setiap murid. Baik ABK maupun anak yang tidak ABK, kami biasa menyebut dengan anak saja, mendapatkan porsi asessment yang sama. yang membedakan antara ABK dan anak lainnya, adalah minat, cara belajar dan juga capaian tugas perkembangan). Misalnya di kelas ada anak 15 anak maka akan muncul 15 keunikan dari 3 aspek tadi.

Sebagai gambaran, di kelas TK B yang berisi 14 anak, dengan 2 ABK, akan muncul “profil” gambaran 14 minat anak, 14 gaya belajar anak, dan mungkin ada 10 anak yang capaian Aspek perkembangan Bahasa sesuai dengan usia 5 tahun, dan 2 anak sesuai aspek perkembangan bahasa 4 tahun, dan 2 anak aspek perkembangan bahasanya sesuai dengan usia 6 tahun. hal yang sama juga berlaku untuk aspek kognitif, motorik dan sosial emosi.

Ketiga, Nah dari hasil gambaran rentang capaian aspek perkembangan anak di kelas, maka Edukator akan meramu indikator capaian perkembangan di kelasnya yang akan dijadikan acuan dalam pembuatan program dan kegiatan sesuai tema kelas.

Oh iya di Rumah Citta, tema, kegiatan dan aturan kelas semuanya berangkat dari usulan serta ide dari anak-anak sehingga mereka merasa dihargai dan dilibatkan dalam pembuatan maupuan pelaksanaanya.

Taggapan :

Bu Lailia SM: Kereeen.. Banget Pak penjelasannya Bu ⁨Nindyah Rengganis Yogya⁩ πŸ‘πŸΌπŸ‘πŸ»πŸ˜Š Jadi peran guru sebagai fasilitator benar-benar harus teliti dengan beragam keunikan anak dikelas yang tidak lupa melihat tahapan perkembangannya untuk dikaitkan dengan indikator-indikator dari tema yang sudah melibatkan anak didalamnya πŸ€©πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜‰

Pertanyaan 3 :

Bu Chorid: Di pesantren itukan bisa dikatakan inklusi juga karena di dalamnya ada banyak sekali anak yang berbeda background sosial, pola pikir, lifestyle, gaya bicara, dsb. Ada anak yang sudah remaja, menurut kami dia agak kesulitan membangun interaksi dengan orang lain. Hampir setiap kali dimasukkan pesantren, pasti ada aja alasan untuk keluar. Dia merasa kalo teman-temannya itu tidak suka dan menganggapnya berbeda dari anak pada umumnya. Setelah dicari alasannya ternyata anak ini pendiam dan mudah tersinggung saat diajak bercanda atau saat diingatkan. Sudah diajak bicara, tapi malah merasa tidak didukung, bahkan sampai nangis terkadang.

Bagaimana ya Bu Ganis cara yang lebih baik mengajak bicara anak yang demikian ini?

Jawaban :

Narasumber : Saya bisa membayangkan, tentu tantangan yang dihadapi anak (remaja) yang masuk boarding school atau pesantren jadi dobel…. tantangan menghadapi kehidupan dan rutinitas yang jauh dari keluarga dan pertemanan yang sudah dibangun sebelumnya. tantangan kedua adalah membangun pertemanan baru di lingkungan barunya.

Yang mungkin bisa dilakukan di awal adalah mengumpulkan sebanyak mungkin informasi berkaitan dengan kehidupan terutama pertemanan sebelum masuk pesantren, sehingga kita bisa mengurai penyebab dirinya menarik diri dari lingkungan yang baru baginya. Bisa jadi masa awal atau transisi ini sangat krucial sekaligus menantang. Libatkan orangtuanya dalam menggali penyebab ini. HIndari memberikan label pada si anak, pembicaraan dengan orangtua perlu diawali dengan set mental bahwa dia berbeda.

Perlu juga mencari tahu suasana seperti apa (sekecil apapun) yang bisa membuatnya merasa aman dan nyaman untuk bicara. Sekadar sharing pengalaman kami di TK Rumah Citta, kami menerima anak yang aktif sekali, dan pindah dari sekolah sebelumnya karena menurut orangtuanya dan gurunya, ia tidak mau sama sekali masuk kelas, dan hanya berlari saja.

Memang butuh waktu kurang lebih 2 bulan untuk membangun pemahaman akan latar belakang kondisi keluarganya (yang ternyata diasuh oleh kakek nenek dan orangtuanya bekerja di kota lain). Di awal ia masuk Rumah Citta, emosinya bisa dibilang sangat labil dan enggan bergabung bersama teman di dalam circle di kelas. Dia butuh waktu untuk merasa nyaman dengan bermain sendiri dulu, di luar lingkaran, sampai ia merasa sesekali tertarik untuk bergabung dengan teman lainnya sekelas. selama proses ini, Edukator terus mengamati dan mengikuti prosesnya. Edu juga memandang si anak sebagai anak saja, tanpa membawa label dari keluarga maupuan guru di sekolah sebelumnya.

Tanggapan :

Bu Chorid: Ohya terkait pembicaraan awal dengan orangtua ini, terkadang kami menahan diri sekali untuk membicarakan kalo si anak ini ada yang berbeda, alasannya karena kami hawatir dengan bagaimana perasaan orangtua nantinya.. kira-kira apa dulu yang perlu disampaikan untuk membuka pembicaraan terkait ini bu? Hehe maaf ya jadi menambah terus πŸ™πŸΌπŸ˜Š

Narasumber : Yang menarik, dia akhirnya menemukan “buddy/friend”, satu teman yang bisa membuatnya nyaman. Nah, Edu akhirnya masuk lewat pertemanan ini untuk mengajak dan merangkul si anak mengikuti kegaitan bersama teman sekelas.

Bu Chorid: Ini menarik sekali.. Memandang anak sebagai anak saja, tanpa membawa label dari keluarga maupun guru di sekolah sebelumnya. Penting banget ini bu saya rasa.. πŸ˜ŠπŸ‘πŸΌ

Narasumber : Menurut saya, justru fase awal ini perlu dibangun komunikasi yang lebih intensif agar bisa bersama memahami. sampaikan bahwa saat ini kami sendang mencoba memahami anak, dan butuh bantuan orangtua dalam membangun pemahaman itu.

Kalau tips saya untuk edukator di RC, ketika berkomunikasi dengan orangtua, kita harus sadar posisi masing-masing dan sepakat untuk tidak saling menyalahkan. Anggap saya Guru (atau pamong di pesantren) akan memaparkan hasil amatan perilaku anak selama di pesantren, sedangkan Orangtua diharapkan memberikan hasil amatannya selama di rumah. dari kedua data ini bisa dibangun pemahaman bersama… nah. tuh dah mulai praktek kolaborasi.

Mari Bu Chorid, terus ajak untuk membiasakan melihat ABK sebagai Pribadi seorang Anak atau Remaja.. tanpa labelnya bahwa dia berbeda. Setujuuu kaan??

Bu Chorid: Hehe… Dikit kok. 🀭 Semisal orangtua yang belum sepenuhnya terbuka, masih agak menutupi dengan perkembangan anak sehingga hasil pengamatan berbeda antara guru dengan orangtua, bagaimana bu? Ya atau sebaliknya.. ini bukan berarti saya mengklaim pengamatan guru selalu benar nggih. πŸ™πŸΌπŸ˜Š

Narasumber : Hehe.. Selain anak yang melewati tahapan perkembangan yang unik satu sama lain, orangtua (dengan ABK) juga mengalami tahapan sendiri. Untuk orangtua ABK misalnya, pengalaman kami mendampingi beragam orang tua, banyak yang masih fase yang awalnya orangtua menyangkal, ada yang pada fase marah (pada diri sendiri dan lingkungannya) baru kemudian bisa menerima dan bisa bekerjama… jadi mungkin itu bisa dimaklumi terus dikomunikasikan.

Selain anaknya yang diajak diskusi tapi juga teman-teman (mungkin sekamarnya) juga bisa diajak untuk diskusi dan bisa membuat kegiatan bersama biar lebih akrab gitu. Sambil menunggu proses orangtuanya.

Bolehkah saya menambahkan sharing Rumah Citta berkaitan dengan Kolaborasi di kelas?

Tambahan beberapa praktek kolaborasi kelas inklusi di Rumah Citta yang melibatkan educator, anak dan orangtua:

1. Salah satu kegiatan di kelas (yang seringkali dilakukan) adalah guru sebisa mungkin  membuat kegiatan yang sama, tetapi tantanganya berbeda atau tingkat kesulitannya berjenjang. Sehingga anak merasa tetap berkegiatan yang sama, tanpa merasa dibedakan. Maka  sangat penting guru untuk tahu sejauh mana tahapan perkembangan anak.

2. Keterlibatan orang tua tidak harus di kelas. Tapi bisa lewat di rumah. Misal membantu memahamkan ke anak bahwa ad bbrp teman yang masih butuh dibantu. Atau ad teman yang bicaranya masih blm jelas. Atau yang masih butuh diingatkan untuk mau gantian mainan…dsb…(tergantung kebutuhannya). Orang tua yang memperlakukan / memahami abk (teman anaknya) … Maka akan membantu si anak untuk juga ikut memahami. Artinya tidak malah mendorong anak ya untuk “Tidak usah main sama dia…nanti mainanmu rusak”, dsb. Tentu tidak semua orang tua akan langsung memahami. Tapi dari modelling yang dilakukan oleh guru kelas, atau staf lain (misalnya)… , Atau diskusi diskusi kecil…Maka lama lama mereka bisa belajar. Bisa lewat parenting. Atau juga pas parents meeting di awal.

3. Bisa juga lewat POM (Paguyuban Orangtua Murid)….dimana harapannya yang terpilih dari kelas bisa jadi juru kampanye tentang nilai nilai inklusivitas saat ada masalah di kelas. Harapannya perwakilan kelas ini bisa membantu guru kelas untuk mengelola orang tua sekaligus menjadi role model.Β 

4. Bisa juga dengan home project bersama orang tua. Dulu, pernah bikin project bercerita tentang keluarga masing-masing dengan membawa foto keluarga besar dari rumah. Sebelumnya orang tua juga diinformasikan tentang project tsb, juga tujuannya. Ada anak berkebutuhan khusus di kelas yang juga ikut cerita tentang tubuhnya yang pernah terapi karena lumpuh layu. Habis project itu anak lainnya jadi lebih paham kenapa temannya punya kemampuan tubuh yang berbeda. Dari situ mereka ikut mensupport si anak tsb, bahkan menjelaskan kepada teman dari kelas lainnya waktu istirahat.

Bu Chorid: Nggih Bu.. Terus diajak komunikasi sambil menunggu dan menyiapkan diri untuk fase-fase ini.. Terimakasih banyak bu Ganis. Bermanfaat sekali sharingnya.. πŸ™πŸΌπŸ˜Š

Narasumber : Dalam proses mendampingi anak di kelas maupun di rumah, yang perlu dilakukan di awal adalah memahami keunikan anak, dan meletakkan anak sebagai subyek dari semua proses belajarnya. Dari awal yang pasti butuh proses ini, bisa dijadikan bekal membersamai proses berkolaborasi tidak saja dengan anak itu sendiri, namun juga dengan lingkungan terdekatnya seperti teman dan orangtuanya…  selamat berkolaborasi. jangan lupa bahagiaaa hehehe.

Yang main ke Jogja boleh mampir ke ECCD RC yaaa.. yang belum sempat ke Jogja boleh nengok IG kami di @eccdrc_jogja

Terima kasih untuk ruang berbagi dan diskusi serunya.. πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Wassalamu’alaikum wr wb untuk semuaaa…. love you all..

Pak Shoffa: Terimakasih mbak ganis, narasumber kami… Sangat bermanfaat, akan kami praktikkan… Pesannya mbak ganis mantap… “Jangan lupa bahagia”. Hehehehe…. Terimakasih mbak ganis dan para peserta diskusi sore ini…πŸ€©πŸ€©πŸ€©πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»

Bu Chorid: Terimakasih banyak Bu Ganis dan Pak Shoffa πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ  Oke. Aku akan bahagia πŸ˜πŸ˜…

Β Bu Nisa : Terimakasih Bu Ganis dan Pak Shoffa. Mari kita berproses bersama menerapkan ilmu-ilmu baru yang sudah kita dapatkan bersama hari ini. Maturnuwun sanget…πŸ™πŸΌπŸ˜ semua orang tua akan langsung memahami. Tapi dari modelling yang dilakukan oleh guru kelas, atau staf lain (misalnya)… , Atau diskusi diskusi kecil…Maka lama lama mereka bisa belajar. Bisa lewat parenting. Atau juga pas parents meeting di awal.

3. Bisa juga lewat POM (Paguyuban Orangtua Murid)….dimana harapannya yang terpilih dari kelas bisa jadi juru kampanye tentang nilai nilai inklusivitas saat ada masalah di kelas. Harapannya perwakilan kelas ini bisa membantu guru kelas untuk mengelola orang tua sekaligus menjadi role model.Β 

4. Bisa juga dengan home project dengan orang tua. Dulu, pernah bikin project bercerita tentang keluarga masing-masing dengan membawa foto keluarga besar dari rumah. Sebelumnya orang tua juga diinformasikan tentang project tsb, juga tujuannya. Ada anak berkebutuhan khusus di kelas yang juga ikut cerita tentang tubuhnya yang pernah terapi karena lumpuh layu. Habis project itu anak lainnya jadi lebih paham kenapa temannya punya kemampuan tubuh yang berbeda. Dari situ mereka ikut mensupport si anak tsb, bahkan menjelaskan kepada teman dari kelas lainnya waktu istirahat.

Guru Chorid: Nggih bu.. Terus diajak komunikasi sambil menunggu dan menyiapkan diri untuk fase-fase ini.. Terimakasih banyak Bu Ganis. Bermanfaat sekali sharingnya.. πŸ™πŸΌπŸ˜Š

Narasumber : Dalam proses mendampingi anak di kelas maupun di rumah, yang perlu dilakukan di awal adalah memahami keunikan anak, dan meletakkan anak sebagai subyek dari semua proses belajarnya. Dari awal yang pasti butuh proses ini, bisa dijadikan bekal membersamai proses berkolaborasi tidak saja dengan anak itu sendiri, namun juga dengan lingkungan terdekatnya seperti teman dan orangtuanya…  selamat berkolaborasi. jangan lupa bahagiaaa hehehe.

Yang main ke Jogja boleh mampir ke ECCD RC yaaa.. yang belum sempat ke Jogja boleh nengok IG kami di @eccdrc_jogja

Terima kasih untuk ruang berbagi dan diskusi serunya.. πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Wassalamu’alaikum wr wb untuk semuaaa…. love you all..

Guru Shoffa: Terimakasih Mbak Ganis, narasumber kami… Sangat bermanfaat, akan kami praktikkan… Pesannya Mbak Ganis mantap… “Jangan lupa bahagia”. Hehehehe…. Terimakasih Mbak Ganis dan para peserta diskusi sore ini…πŸ€©πŸ€©πŸ€©πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»

Guru Chorid: Terimakasih banyak Bu Ganis dan Pak Shoffa πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ  Oke. Aku akan bahagia πŸ˜πŸ˜…

Β Guru Nisa : Terimakasih Bu Ganis dan Pak Shoffa. Mari kita berproses bersama menerapkan ilmu-ilmu baru yang sudah kita dapatkan bersama hari ini. Maturnuwun sanget…πŸ™πŸΌπŸ˜

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: