Praktik Literasi Merdeka Belajar: “Menulis Surat ke Moro”

Penulis : Aditya Wicaksono | 25 Okt, 2021 | Kategori: Literasi, Merdeka Belajar

Sebagaimana mendukung kegiatan literasi, banyak sekolah yang sudah membuat program literasi dan menerapkan praktik literasi ini. Kegiatan rutin ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca murid serta meningkatkan keterampilan membaca. Mayoritas fokus kegiatan ini adalah meminta murid untuk membaca buku, membuat sebuah rangkuman dari buku yang dibaca, dan membacakan ulang secara singkat tentang buku yang dibaca. Apakah bapak dan ibu guru banyak yang memiliki keresahan yang sama di mana tetap saja murid sudah membaca buku tetapi belum bisa memahami isinya, atau murid sudah memiliki kemampuan literasi tetapi kurang melakukan berbagai kegiatan yang bermakna? Ya, ternyata praktik literasi banyak dianggap tidak memberikan insight pada murid hingga akhirnya karena dianggap tidak ada kemajuan dalam program kegiatan ini, program kegiatan literasi pun terpaksa berhenti di tengah jalan. 

“Literasi adalah kemampuan menalar yang berkait dengan kemampuan analisa, sintesa, dan evaluasi informasi yang bisa ditumbuhkan dengan terintegrasi dalam pelajaran.” (Shihab, 2019).

Namun apakah bapak dan ibu guru pernah memikirkan untuk memahami karakter murid sebelum menerapkan program literasi ini? Apakah bapak dan ibu guru memikirkan bagaimana konsep penerapan literasi yang sesuai dengan karakter setiap murid? Karena apa pentingnya literasi bagi murid jika murid sendiri tidak paham akan makna literasi dan tidak menawarkan perubahan bagi mereka. Nah, dari sini kita akan membahas lebih lanjut cerita tentang praktik literasi ini, yaitu Menulis Surat ke Moro.

Baca juga Literasi adalah Cara Menggerakkan Negeri

Awalnya saat setiap hari Sabtu di sekolah tempat Ibu Titik mengajar yaitu di SD Muhammadiyah 1 Muntilan memiliki kegiatan literasi sesuai jadwal yang sudah dibentuk di sekolah, yang mana merupakan hasil diskusi para guru. Kegiatan literasi 15 menit ini disertai jargon “Menggalakkan Literasi”membuat para guru pun sangat antusias dan berekspektasi jika siswa-siswa akan menikmati dan menyukainya. Tidak hanya itu saja, para guru juga mencanangkan kegiatan literasi mingguan yang disusun perbulannya. Pada minggu-minggu pertama pelaksanaan kegiatan literasi ini, Ibu Titik mengamati jika ekspresi murid seperti merasa kagok dan kurang menikmati, namun beliau mencoba untuk berprasangka baik, “Mungkin para murid belum terbiasa”.

Namun berdasar hasil pengamatan beliau setelah beberapa minggu kemudian, kegiatan literasi seolah menjadi beban tersendiri bagi murid. Hal ini dilihat dari ekspresi murid ketika jam kegiatan literasi berlangsung dengan mengatakan, “Yah, literasi lagi..”. Contoh lainnya adalah ketika diminta untuk merangkum buku dari perpustakaan, beberapa murid melangkan malas dan hanya membuat ringkasan ala kadarnya. Di sini Ibu Titik merasa ada yang salah dengan kegiatan ini. Beliau berekspektasi jika literasi akan menjadi suatu gerakan yang membudaya, namun praktiknya ternyata masih sebuah istilah. Hal inilah yang menjadi tantangan dalam menjalankan program literasi ini. Akhirnya Bu Titik pun melakukan survey ketertarikan pada program literasi sekolah ini. ternyata program literasi yang gagal diminati oleh siswa yaitu kegiatan membaca, bercerita di depan kelas, dan menulis di buku diary. Dan faktanya, beberapa anak merasa literasi ini adalah paksaan, bahkan ada murid yang mengatakan “Karena saya tidak suka menulis dan saya merasa terpaksa setiap diminta menulis dan bercerita”. Hal inilah yang menjadi tantangan dalam menjalankan program literasi ini. 

Akhirnya Ibu Titik pun mengetahui sebab kegagalan dari goals literasi ini. Beliau merasa perlu belajar lagi untuk memahami murid. Ternyata selama ini beliau merasa belum memenuhi hak mereka untuk tahu dan paham tujuan dari kegiatan literasi ini. Beliau menambahkan jika kesalahan kegiatan ini bukan pada rancangan programnya, melainkan pada penerapannya. Beliau menyadari jika tidak menyukai menulis, membaca, atau nyaman saat diminta bercerita kepada orang lain. Namun Ibu Titik memiliki keyakinan yang kuat jika suatu hari nanti mereka akan enjoy menjalankan kegiatan literasi ini dan sebagai seorang pendidik, beliau berkewajiban menumbuhkan keyakinan itu kepada muridnya. 

Lalu Ibu Titik memiliki ide untuk merubah konsep kegiatan ini. Ia melibatkan siswanya untuk mencari tahu tentang Moro melalui gambar dan video, beliau juga bercerita tentang kehidupan temannya yang mengajar di SD Negeri 005 Moro, Kecamatan Moro, di Kabupaten Karimun. Awalnya murid-murid Ibu Titik ini heran mengapa tidak melaksanakan rutinitas literasi seperti biasanya. Namun lama-kelamaan, mereka mulai menikmati hal tersebut. Kemudian beliau meminta siswanya untuk menganalisis gambar tentang keberadaan di sana. Lalu, muncullah pertanyaan-pertanyaan dari siswanya ini. Mereka sangat antusias menanyakan pertanyaan tentang kehidupan dan pembelajaran murid-murid di Moro. Kemudian sesuai kesepakatan, Ibu Titik membuat sebuah kegiatan bernama “Menulis Surat ke Moro”. 

Sesuai kesepakatan, murid-murid akan mendapatkan waktu satu minggu untuk menuliskan apa saja yang ingin mereka tanyakan kepada murid-murid di SDN 005 Moro. siswa pun menuliskan pertanyaan mereka kepada siswa di Moro. Tak terasa waktu seminggu tersebut benar-benar mereka gunakan untuk membuat surat sebaik-baiknya. Banyak dari para murid yang berkonsultasi dengan Ibu Titik tentang penyampaian bahasa yang sesuai di dalam suratnya, bahkan banyak dari murid yang menyertakan hadiah di dalam surat tersebut.  Di sini Ibu Titik merasa terharu, karena ketika belajar tentang bagian surat dahulu, muridnya tidak pernah seantusias ini. Dan yang membuat Ibu Titik hampir menangis adalah ketika muridnya yang dahulu menyatakan bahwa dirinya tidak suka menulis dan merasa terpaksa setiap diminta menulis dan bercerita, ternyata menyerahkan sebuah surat yang dibuatnya sepanjang dua lembar folio. 

Akhirnya setelah semua surat terkumpul, Ibu Titik mengemasnya dalam satu kardus besar dan mengirimkannya melalui POS. Setelah surat dikirimkan, Ibu Titik merasa kewalahan oleh muridnya yang menanyakan kapan surat-surat tersebut dibalas. Hingga akhirnya satu bulan kemudian, surat-surat balasan yang ditunggu pun tiba. Ibu Titik lagi-lagi dibuat haru ketika melihat ekspresi murid-muridnya berebut balasan surat yang mereka kirim. Mereka merasa bahagia ketika mengetahui bahwa mereka bisa mendapat jawaban dari apa yang mereka tanyakan melalui surat ini, Ibu Titik dapat melihat ekspresi muridnya yang begitu puas ketika rasa ingin tahunya tersalurkan, dan betapa senangnya mereka ketika hadiah yang dikirimkan ternyata dibalas dengan hadiah juga dari teman barunya. Terakhir, yang membuat Ibu Titik Bahagia adalah ketika refleksi muridnya dalam kegiatan ini adalah mengungkapkan jika metode pengajaran tentang surat merupakan yang terbaik yang mereka pernah lakukan, dan tanpa harus memaksakan siswa.

Ibu Titik pun menemukan kesepakatan jika literasi lebih luas maknanya daripada sekadar kegiatan rutinan untuk memenuhi kewajiban melaksanakan perintah dari pemerintah. Sebagai penutup, Ibu Titik menyampaikan jika kebahagiaan hakiki bagi seorang pendidik adalah ketika melihat murid-muridnya bisa merdeka dalam belajar karena semangat yang tumbuh dalam dirinya sendiri. Saat melihat raut wajah dan ekspresi bahagia murid-murid, beliau merasa menjadi pendidik paling bahagia di dunia. 

Bagaimana Bapak dan Ibu Guru? Masih Penasaran tentang Cerita Praktik Baik Literasi Merdeka Belajar lainnya? Temukan inspirasi praktik baik pembelajaran lainnya dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar.

Klik https://tpn.gurubelajar.org

About the Author
Penulis Cerita - Desainer Program Guru Belajar | Undergraduate English Department Student at Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: