Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek: Students’ Movie Project

Murid lesu, tidak bersemangat dan termotivasi, sering membuat kegaduhan di kelas, atau prestasi terus menerus mengalami penurunan? Apakah bapak dan ibu guru pernah mendapati keadaan seperti ini? Bisa jadi ini adalah gejala-gejala ketika murid sedang merasa bosan dengan metode pembelajaran, dan mungkin juga ini adalah bentuk keluhan murid jika mereka sedang bosan dengan metode pembelajaran yang diterapkan. Jika iya jangan dibiarkan ya bapak dan ibu guru, karena ini tentunya akan menghambat murid dalam belajar. Namun tenang bapak dan ibu guru, kali ini bapak dan ibu guru akan dikenalkan dengan Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek. Lantas, apa sih Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek itu? Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek adalah metode pengajaran di mana murid memperoleh pengetahuan dan keterampilan dengan secara aktif terlibat dalam dunia nyata dan proyek yang bermakna secara pribadi atau berkelompok. Dalam Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek ini, murid akan memanfaatkan keterampilan membangun tim melalui kolaborasi. Murid dibebaskan memberikan pembagian tugas dalam tim dan merencanakan bagaimana mereka akan bekerja sama.

Lalu, bagaimana contoh nyata dari Praktik Pembelajaran Proyek ini? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak cerita dari Pak Madya Giri Aditama, yang merupakan anggota KGB Batang serta mengajar di STKIP Muhammadiyah Batang. 

Menerapkan pembelajaran yang dapat membangun dan mengembangkan kompetensi serta kreativitas murid merupakan tujuan keberlanjutan yang ingin dicapai semua guru. Begitu juga dengan Pak Madya, dalam pembelajaran bahasa Inggris yang diampunya, murid dituntut menguasai empat kemampuan dasar, yaitu Berbicara (speaking), mendengar (listening), membaca (reading), serta menulis (writing). Menurut beliau, tentu saja ini membutuhkan waktu dan instrumen lebih banyak jika melakukan asesmen terhadap setiap kemampuan dasar secara terpisah.

Pak Madya menerapkan kegiatan asesmen formatif yang dilakukan secara berkala dan bertahap sehingga dapat membantu murid untuk lebih memahami materi pembelajaran dengan lebih matang. Dikatakan oleh Pak Madya jika hambatan dan kendala yang sering dilakukan oleh murid dalam praktik bahasa Inggris diantaranya adalah keterbatasan kosa kata (vocabulary) yang dimiliki, tata bahasa (grammar), serta pelafalan (pronunciation). Faktor-faktor tersebut sangat penting dalam pembelajaran bahasa serta penerapannya dalam kehidupan nyata. Ditambah lagi jika durasi dan jumlah pertemuan yang terbatas juga mempengaruhi tingkat keberhasilan murid dalam memahami konteks isi pembelajaran dengan sempurna. Oleh karenanya, menurut beliau sangat penting bagi murid untuk menguasai keempat kemampuan dasar tersebut beserta faktor penunjang yang menjadi komponen dalam kemampuan dasar bahasa Inggris tersebut. 

Baca juga: Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar, Solusi Persoalan Guru

Lantas, Pak Madya pun memikirkan untuk menerapkan metode pembelajaran berbasis proyek. Hal ini yang telah coba diterapkan oleh Pak Madya dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk mahasiswa semester 2 di Universitas Muhammadiyah Surakarta program English for International Class (EIC) selama tiga tahun dan mahasiswa semester 2 di STKIP Muhammadiyah Batang selama dua tahun ini. Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek berupa asesmen yang beliau terapkan dilakukan dengan menggunakan satu metode yang dapat melakukan asesmen terhadap semua kriteria penilaian yang ada dalam pembelajaran bahasa Inggris secara bertahap dan berkelanjutan. Ternyata prasangka tentang kesulitan belajar dan menggunakan bahasa Inggris masih menjadi momok serta kendala dalam pembelajaran bahasa Inggris, terutama bagi mahasiswa di luar program studi bahasa Inggris. Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek yang melibatkan strategi, dan media yang variatif dirasa cocok oleh Pak Madya guna meningkatkan ketertarikan murid dapat mengembangkan rasa ingin tahu dan kesadaran akan kebutuhan bahasa Inggris. Walaupun sudah dewasa, tetap tidak mudah dalam memberikan pemahaman tentang pentingnya bahasa asing kepada mahasiswa. Kesadaran akan kebutuhan penguasaan bahasa Inggris perlu disampaikan di awal pembelajaran agar guru dapat memetakan tahap-tahap asesmen dan evaluasi.

Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek memudahkan guru dalam melakukan asesmen Bernama Students’ Movie Project, yang mana adalah kegiatan serta tugas yang Pak Madya berikan kepada mahasiswa untuk merancang, merekam suatu cerita dengan menggunakan bahasa Inggris, serta mengemasnya dalam suatu video yang menarik dan mendidik. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan kemampuan literasi digital, murid tidak mendapat beban berat dalam mengadakan alat untuk mengerjakan tugas karena semua bisa menggunakan gawai yang mereka miliki.

Di sini ada beberapa tahap yang Pak Madya lakukan dalam penyusunan Students’ Movie Project, sekaligus sebagai asesmen formatif. Diawali dengan membentuk kelompok, kemudian dilanjutkan dengan merencanakan konsep cerita serta menulis naskah percakapan yang akan dibawakan oleh setiap anggota kelompok. Beliau memberikan kebebasan dalam menentukan topik (tema), sesuai dengan kesukaan dan ketertarikan murid, selama sesuai dengan pendidikan dan motivasi remaja, serta tidak mengandung unsur sara dan ditentukan secara berdiskusi.

Pada proses penulisan cerita dan naskah, Pak Madya melakukan asesmen kemampuan menulis (writing), sekaligus memberikan revisi dan koreksi pada sesi konsultasi. Hasil tulisan dijadikan sebagai sumber latihan pembacaan naskah guna melancarkan serta menghafalkan pengucapan yang benar. Pada tahap ini, beliau sekaligus melakukan asesmen kemampuan membaca (reading), sembari memberikan umpan balik terhadap cara eksekusi membaca murid. Konsep cerita dan naskah yang telah dihafalkan dibawakan secara spontan dan dikembangkan sesuai dengan improvisasi masing-masing. Pada sesi ini beliau juga melakukan asesmen kemampuan berbicara (speaking) tahap awal sebelum asesmen pada hasil akhir nanti.

Setelah tahap tersebut cukup, dilanjutkan tahap perekaman video. Proses ini tidak berlangsung secara cepat. Diperlukan waktu dan percobaan berulang-ulang guna menghasilkan cerita dan pengucapan yang tepat. Proses penyuntingan, pemilihan gambar, dan penyelesaian keseluruhan dilakukan secara berkelompok dan merupakan bentuk hasil karya buah kerja sama seluruh anggota kelompok. Video hasil akhir pembuatan tugas ini dikumpulkan dan diputar untuk dievaluasi bersama. Evaluasi dan tukar pendapat dilakukan dengan murid dari kelompok lain guna mendapatkan umpan balik variatif dan membangun. Dalam evaluasi bersama ini diterapkan asesmen kemampuan mendengar (listening), yaitu dengan meminta murid untuk menyimak, menuliskan ulang konsep cerita, serta menjawab pertanyaan mengenai video hasil karya kelompok lain. Dari hasil akhir evaluasi karya, dapat diketahui perbedaan dan perkembangan dalam memahami dan melakukan eksekusi terhadap perbaikan yang telah dilakukan pada setiap tahapan asesmen dalam proses pembuatan tugas tersebut.

Hasil akhir dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah praktik. Dengan menerapkan movie project ini, murid dapat melakukan praktik berbahasa Inggris dengan senang dan terkonsep. Guru dapat melakukan asesmen dalam setiap tahap proses. Setidaknya ada lima tahap pembuatan tugas. Pertama, tahap penyusunan dan penulisan cerita serta naskah. Kedua, proses berlatih membaca naskah. Ketiga, proses berlatih berbicara dan peran. Keempat, proses perekaman dan penyuntingan. Kelima, penyelesaian tugas dan evaluasi bersama.

Seperti kata peribahasa: sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui, dalam keseluruhan tahap tersebut Pak Madya melakukan empat kali asesmen sesuai dengan empat kemampuan dasar Bahasa Inggris, ditambah dengan asesmen akhir. Lewat Student’s Movie Project, Pak Madya merasa dapat mengasah kemampuan dasar bahasa Inggris kepada murid. Dalam kemampuan menulis (writing), dapat melatih kreativitas murid dalam pemilihan kosakata, tata bahasa, serta pemilihan kata yang sesuai dengan konteks yang tepat. Kemampuan membaca (reading), dapat menguji pengucapan, pengejaan, jeda, serta intonasi yang tepat. Kemampuan berbicara (speaking), dapat menguji pelafalan dalam berbicara serta improvisasi murid dalam mengembangkan kosa kata yang digunakan dalam berbicara. Kemampuan mendengar (listening), murid dapat diuji dalam melakukan evaluasi dan review hasil tugas bersama dengan membuat rangkuman dan menjawab pertanyaan seputar hasil tugas dari kelompok lain.

Setiap tahap penyusunan tugas memacu murid untuk berlatih dan menguasai empat kemampuan dasar Bahasa Inggris secara bertahap, tanpa tekanan. Mereka melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama dengan rekan untuk menghasilkan karya yang dapat dipamerkan, menumbuhkan semangat untuk mengembangkan cerita dan hasil kerja secara maksimal. Kerja sama, koordinasi, serta semangat berkarya ikut terasah. Hal ini berbanding lurus dengan respons mahasiswa yang menyatakan bahwa mereka lebih menyukai kegiatan semacam ini, dimana mereka bisa melakukan kegiatan di luar kelas. Belajar dan mengerjakan tugas dalam situasi yang lebih santai tidak, serta bisa melakukan konsultasi secara bebas dan terbimbing. Menurut Pak Madya, metode ini dapat diaplikasikan dalam pembelajaran ilmu lain. Konsep tugas yang diberikan kepada murid juga dapat disesuaikan, serta dapat diterapkan pada tingkat pendidikan menengah. Hal yang perlu dikembangkan dalam metode asesmen ini yaitu disusunnya instrumen asesmen yang baku untuk setiap tahap dan kemampuan yang diuji. Terakhir Pak Madya mengatakan jika pemberian respons dan umpan balik kepada murid menjadi hal yang krusial karena merupakan faktor perbaikan strategi belajar murid di masa yang akan datang.

Bagaimana bapak dan ibu guru, apakah tertarik untuk menerapkan Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek seperti Pak Madya ini? Jika bapak dan ibu guru merasa tertarik dan penasaran untuk mempelajari lebih dalam lagi tentang hal ini bisa dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII pada 20-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara.

Ayo Jadi Guru Merdeka Belajar! Guru Penggerak Perubahan Pendidikan! Mari berjumpa rekan seperjuangan di Temu Pendidik Nusantara VIII, untuk #DukungGuruBelajar bergerak bersama demi Pendidikan.

Klik: https://tpn.gurubelajar.org

About the Author
Penulis Cerita - Desainer Program Guru Belajar | Undergraduate English Department Student at Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: