Program Literasi Sudah Terlaksana, Anak Mahir Baca, Namun Tak Paham Artinya

Penulis : Widya Apri Wandini | 23 Jun, 2020 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Mingguan

Sudah mengadakan banyak program Literasi di kelas. Niatnya sih meningkatkan kemampuan literasi anak. Mulai dari membuat pojok baca, kegiatan membaca 15 menit di kelas, membaca bersama di pagi hari, berkunjung ke perpustakaan. Waktu dites sih bisa baca eh kok waktu dikasih soal pertanyaan bacaan salah semua hasilnya.

Seminar tentang Program Literasi yang Bermakna

Sebelum kita masuk ke materi , saya akan memperkenalkan narasumber kita pada malam hari ini. Guru Indah Nova Ida Manurung dari penabur Internasional Jakarta, KGB Jakarta Barat. Tulisannya telah terbit di media lokal dan nasional  dan Guru Ari Wibowo, Sekolah Cikal Cilandak, KGB Jakarta Selatan. Menggeluti bidang videografi dan menjadi youtuber channel pendidikan.

Untuk materi yang pertama kita persilahkan pak ari untuk menyampaikannya dan dilanjutkan oleh bu Indah.

Program Literasi Digital yang Memanusiakan Hubungan

Ari Wibowo

Malam kita akan mengelaborasi literasi. Saya akan berbagi area literasi digital. Materi yang saya sampaikan saya ambil dari buku memanusiakan hubungan dan saya sesuaikan dengan perkembangan kurikulum abad 21. 

Terkait dengan literasi digital yang akan saya bagi malam ini saya akan mulai dari pengalaman belajar saya di awal karir menjadi guru di Sekolah Cikal. Apa reaksi anda jika anda bukan seorang yang berlatar belakang pendidikan dengan gelar ahli teknologi / ICT dan anda diminta untuk mengajar atau membawakan materi ajar dengan menempatkan penggunaan teknologi di ruang kelas anda? Atau sebaliknya. Tantangan inilah yang 9 tahun terakhir sampai sekarang terus saya alami di sekolah. Sejak awal, Sekolah sangat terbuka untuk memasukan teknologi dalam basis kurikulumnya. Terasa sekali waktu itu ketika tahun 2010 administrasi sekolah dan pelaporan hasil belajar siswa/i setelah kita buat dengan program Ms, Excel kita laporkan ke kepala sekolah untuk mendapat persetujuan lalu kita cetak (itu jika laporannya 100% benar maka bisa langsung cetak).

Saya dan guru-guru lainnya kemudian terbantu dengan sistem akademik sekolah berbasis online yang tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menguasai program tersebut. Yang mau saya sampaikan adalah ketika label Digital immigrant melekat di diri kita , itu membuat saya termotivasi untuk belajar, Iya, belajar mengenai teknologi yang khususnya akan bersentuhan di lingkungan sekolah dan tentunya murid-murid. Namun, pertanyaanya apakah proses pendidikan terjadi begitu saja di depan layar komputer atau ipad? Apakah murid-murid akan mendapatkan pengalaman yang sama seperti di ruang kelas ketika mereka sedang mengakses Gawai mereka? Lalu bagaimana dengan orang tua yang notabene memberikan pengaruh besar kepada murid ketika mengakses teknologi dirumah? Hubungan-hubungan inilah yang juga menjadi tantangan besar saya sebagai pengajar di abad 21 ini.

Tak pernah terbayangkan dalam hidup saya bahwa profesi sebagai seorang guru yang saya jalani sekarang begitu menyenangkan dan menantang. Institusi pendidikan tempat dimana saya bernaung jika saya boleh memberikan dua jempol, kenapa? Karena selama 9 tahun saya mengajar di Sekolah ini saya sangat merasakan perubahan perubahan signifikan terhadap diri saya sebagai seorang pendidik.

Oh iya, di kalimat kedua saya katakan profesi saya sebagai guru sangat menyenangkan sekaligus menantang. Kenapa demikian? Saya sadar bahwa saya hidup di abad 21 dan berhadapan dengan situasi pendidikan yang juga berevolusi dan beradaptasi dengan teknologi pendidikan yang pastinya saya dan murid-murid saya temui setiap hari.

Saya sadar bahwa saya ini dikategorikan sebagai Digital immigrant sebutan untuk orang-orang yang lahir dibawah tahun 2000-an yang masa hidupnya berlangsung sebelum berkembangnya teknologi komputer seperti sekarang dan murid-murid yang saya ajar konon disebut Digital natives atau mereka sejak lahir sudah akrab dengan teknologi canggih seperti komputer, Ipad, animasi dan sebagainya. Lalu bagaimana saya menempatkan diri sebagai pengajar zaman now yang harus dan mau tidak mau meningkatkan kemampuan tidak hanya dalam menerapkan strategi belajar mengajar namun bagaimana menerapkan dan menggunakan teknologi pendidikan di kelas serta mengkomunikasikannya kepada orang tua. Harapanya setelah TPM malam ini bapak ibu bisa menerapkan kembali di lingkungan masing-masing bagaimana menjadi CERDAS DIGITAL 

Beberapa “Salah Kaprah” seputar anak dan Dunia Digital

  1. Anak tidak perlu belajar keteramoilan di dunia digital, nanti akan mahir sendirinya
  2. Etika di dunia maya beda dengan dunia nyata
  3. Semua yang dipublikasikan didunia maya akan hilang dengan sendirinya
  4. Transisi antara angkatan analog dengan digital
  5. Reaksi wajah terhadap hal baru: CEMAS atau ACUH

Jadi jika dianalogikan internet itu seperti pasar. Apakah bapak ibu pernah menyuruh anaknya ke pasar sendiri? Iya sendiri. Bayangkan juga jika pasar itu jauh, bayangkan juga di pasar itu ada apa saja?hmmm iyak tentu ada pedagang, pembeli,orang lain yang tidak kita kenal, penjahat, polisi dan lain lain. Bagaimana peran, guru, dan orang tua dipasar itu? Apa yang dapat anak capai di pasar itu? Bagaimana membuat dan mengatur program literasi digital di rumah dan di sekolah?

WAKTU DI DEPAN LAYAR DIGITAL

  • Pastikan waktu berimbang antara waktu di depan layar dan tidak di depan layar, serta jenis kegiatan yang dilakukan saat di depan layar.
  • Sebagai contoh, bermain game selama 30 menit tentu berbeda dengan Skype bersama eyang selama 30 menit, walaupun sama-sama di depan layar.

Selain itu membuat suasana belajar di kelas menyenangkan itu bukan datang dari teknologinya saja loh, tapi itu hasil kerja keras kita para guru dalam mempersiapkan materi ajar berminggu-minggu sebelumnya, butuh diskusi panjang untuk merencanakan kegiatan  serta memikirkan media belajar yang sesuai. Dalam memilih dan mencari video pembelajaran misalnya, saya paling sering menggunakan portal youtube untuk mencari video-video pembelajaran dan butuh waktu untuk melihat serta mensortir isi video tersebut apakah layak untuk dimasukan ke rencana pengajaran atau tidak. Murid akan sangat senang memang jika materi ajar disampaikan dan ditambah dengan adanya video tadi karena saya yakin tidak semua murid betah untuk didongengi gurunya tentang Bencana alam, Komunikasi visual, Ekonomi dan lain lain tanpa adanya bantuan teknologi visual.

Dalam literasi digital ada istilah 4K dalam proses belajar efektifnya (CERDASDIGITAL.COM) yaitu:

  • KRITIS : Berpikir sebelum berbicara/posting/kirim pesan/gambar

Benar : Memeriksa apa yang dibaca, didengar, dan dilihat, di Internet (Nami, 8 tahun) Memberikan dan menyebarkan informasi dengan sadar, siapa yang meminta dan kenapa diperlukan (Liam, 13 tahun)

Salah: Sekadar melarang dan berkata tidak, tanpa menjelaskan alasan atau membantu meluruskan tindakan yang tidak tepat (Fia, ibu 2 anak usia 11 tahun dan 9 tahun) 

  • KEAMANAN: Bertanggung jawab dengan menghormati privasi, reputasi, dan etika

Benar : Tidak memalsukan usia saat bermain media sosial
Salah: Mengirim video/foto untuk mengejek dan mempermalukan orang lain di grup chat/pesan singkat (Amel, 13 tahun) 

  • KOLABORASI: Bertanggung jawab dengan menghormati privasi, reputasi, dan etika

Benar : Aktif berkontribusi untuk tujuan baik, misalnya kerja suka rela, berpartisipasi dalam pengumpulan dana. (Stanley, 16 tahun)
Salah: Anak melanggar kesepakatan keluarga tentang batasan jadwal dan materi yang boleh ditonton, dimainkan, dan didengarkan (Nihlah, 10 tahun)

  • KREATIVITAS; Belajar dan berbagi minat serta keahlian di dunia digital

Benar : Menghasilkan karya yang bermanfaat misalnya membuat “Video Panduan Menggunakan Microsoft word untuk Pemula” (Luna, 15 tahun)
Salah: Tidak menuliskan sumber penulis yang aku gunakan dan sebarkan karya kreatifnya (Haikal, 14 tahun) 

Program Literasi yang Dimulai dengan “Mengapa?”

Indah Nova Ida Manurung

Peran guru menempati posisi paling atas dalam meningkatkan minat baca siswa. Guru harus hadir di kelas memerangi kegelapan dengan bergandeng tangan bersama siswa dan guru lainnya.

Perlu bagi setiap individu untuk mengetahui untuk apa ia mengerjakan sesuatu. Apa manfaatnya? Untuk apa dilakukan? Mengapa melakukannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus tuntas terjawab untuk masuk pada tahap pertanyaan Bagaimana melakukannya?

Pada bagian inilah guru memegang kendali serta berkesempatan besar memaparkan pentingnya membaca dan bagaimana membaca dapat mengubah wajah Indonesia, bahkan dunia.

Nah, setelah pertanyaan-pertanyaan di atas terjawab. Maka kita bisa mengajak siswa untuk membaca.  Awal masuk ke sekolah tempat saya belajar dan mengajar sekarang, saya pesimis. Bagaimana tidak? Mereka tidak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Tapi, setelah program literasi digalakkan, kini kami telah menerbitkan buku yang ke-5

Widya Apri Wandini

Kita buka termin pertama pertanyaan, untuk teman-teman yang ingin bertanya, silahkan untuk memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Pada termin ini saya buka 3 penanya:

  1. Bu Eka Ningsih
  2. Bu Lilik Nis
  3. Bu Desi Diana

Eka Ningsih

Literasi digital matematika seperti apa seharusnya bapak ibu?

Ari Wibowo

Literasi digital matematika artinya adanya pelibatan teknologi dalam proses belajar. Jika adanya pelibatan teknologi/aplikasi fase ini disebut subtitusi, tetap peserta didik diharapkan memiliki ketrampilan literasi numerasi yang utuh dulu

Lilik Nur Indah Sari

Saya termasuk yang kudet banget soal teknologi. Buat pake teknologi, kadang masi di pinggiran. Gak bisa eksplor sampe dalem yang bener, karena saya yakin anak2 lebih bagus secara penguasaan di bidang teknologi

Pertanyaan saya : bagaimana tahap belajar buat saya yang lumayan kudet ini di jaman serba teknologi, agar bisa ngimbangi proses belajar anak-anak jaman now ?

Ari Wibowo

Karena tidak diupdate maka jadi kudet ya Bu Lilik hehehe. Nah makanya kita sebagai Digital Immigrant mau tidak mau bagaimana caranya ketrampilan literasi digital kita berkembang terus menerus dan berkelanjutan. Kalo saya emang dasarnya suka ngoprek atau ngulik, ikut komunitas belajar teknologi, ikut kursus online (natgeo, vct nya pustekom, dll)

Kepada murid2 saya dikelas diawal2 penggunaan teknologi internet misalnya kita buat kesepakatan dulu, membangun digital citizenship sama seperti didunia nyata, di dunia maya juga harus tau sopan

> Literasi digital matematika artinya adanya pelibatan teknologi dalam proses belajar. Jika adanya pelibatan teknologi/aplikasi, Pelibatan aplikasi apa pak yang pantas?
Dan gimana klw siswanya berada di desa yang notabennya jauh dari teknologi yang memadai. 

Mengajar matematika selalu saya awali dengan contoh kasus: anak2 Pak Ari tuh abis beli mobil, cona deh mobil itu rodanya berapa sih? Dijawab 4 hehe nah kalo mobil pak ari 6 berapa rodanya?

Ini jadi bagian penilaian awal kita sbg guru juga untuk pemetaan kemampuan literasi murid d kelas

Paham literasinya bilangan Matematikanya

Desi Diana

Bagaimana memahamkan siswa tentang untuk apa dia mengerjakan sesuatu, apa manfaat melakukan sesuatu, untuk apa dan mengapa melakukannya?

Indah Nova Ida Manurung

Bagi saya, guru adalah artis karakter dan pengetahuan Membaca menjadi bagian penting setiap individu. Ada banyak manfaat yang diselami dari pembelajaran membaca. Kita belajar pengalaman hidup orang lain, mendapat pengetahuan dan informasi tertentu. Mengetahui berbagai peristiwa kebudayaan dan sejarah suatu bangsa. Mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan terbaru di dunia. Membaca bukanlah mengeja kata demi kata. Dengan membaca kita bisa memperkaya batin, memperluas cara pandang dan pola pikir, serta mampu meningkatkan taraf hidup manusia. Hal paling menakjubkan, dengan membaca seseorang bisa menyelesaikan berbagai masalah kehidupan.

Kita bisa memberikan teladan lewat orang lain. Sebagai contoh, menampilkan biografi tokoh-tokoh berpengaruh. Banyak manusia-manusia hebat muncul karena kutu buku. Terbukti, di Indonesia tokoh besar seperti Bung Karno adalah seorang yang sangat kutu buku. Buku-buku telah mengil- haminya untuk mengubah bangsa menjadi lebih baik. Bahkan kelahiran kemerdekaan negeri ini salah satunya karena pemikiran yang hebat, yang telah mengilhami Bung Karno oleh karena wawasan luas dari hasil bacaannya.

Ada kesamaan dari orang-orang hebat di dunia ini: membaca.

Selain langkah-langkah yang telah dinyatakan di atas, perlu lah tokoh nyata hadir di depan para siswa. Guru! Guru perlu terlebih dahulu memahami dan menjawab tuntas perihal kebermanfaatan membaca untuk dapat menularkannya kepada siswa. Guru perlu terlebih dahulu memberi teladan gemar membaca pada siswa sebelum mengaplikasi- kannya pada siswa.

Pertanyaannya, apakah kita sebagai guru telah mengalami manfaat membaca itu sendiri?

Boleh klik link berikut untuk melihat cakupan literasi — yang tidak hanya dipahami sebagai baca dan tulis saja  http://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/

Desi Diana

Jadi kita harus memotivasi mereka agar suka baca jadi merekapun bisa menyerap informasi dari bacaan yang mereka baca ya Bu Indah?

Indah Nova Ida Manurung

Menjadi sosok nyata yang dapat menularkan manfaat membaca tersebut. Setelah itu, kita dapat melanjutkannya dengan memberikan rekomendasi bacaan sebagai pemantik mereka.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Bisa dengan mendiskusikan buku yang dibaca. Buku tidak hanya sekadar dibaca, tetapi juga diulas, didiskusikan, diresensi, sampai ada respons dari mereka sendiri.

Bahkan bila perlu, mempubliksikan ulasan tersebut ke media sebagai sarana mereka untuk belajar menulis.
Jadi, pembelajaran tidak hanya berhenti pada tataran membaca

Ari Wibowo

Beberapa tulisan murid kami pernah dipublikasikan oleh KKPK (kecil kecil punya cerita)

Menarik ya.
Mereka bisa ambil peran.
Jadi, nggak melulu karya orang dewasa yang tampil, apalagi hanya karya para ahli

https://rumahkkpk.com/

Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) adalah sebuah lini di DAR! Mizan yang khusus menerbitkan buku-buku yg ditulis oleh anak-anak usia 7-12 tahun.

Widya Apri Wandini

Termin 2

  1. Bu Choifah Zamzam

Choifah Zamzam

Bagaimana cara kita menyadarkan anak didik kita untuk mengetahui manfaat dan dampak gadget diusia remaja?

Saat ini murid kami yg khususnya yg tinggal di pondok suka sekali dgn membaca novel, namun bagaimana cara kita untuk agar dgn setelah membaca anak-anak itu tergerak untuk menulis juga dan mengambil manfaat dr membaca?

Ari Wibowo

Lakukan kegiatan setelah membaca Bu itu penting, gunakan templatetemplat reading response activity yang bisa d download

Simpulan Narasumber

Ari Wibowo

Saya tidak menyangka jika ternyata teknologi memberikan banyak pelajaran untuk topik ini bagaimana memanusiakan hubungan guru, murid dan orang tua di tengah-tengah perkembangan teknologi pendidikan yang semakin gencar. Tanggung jawab saya mungkin akan selesai jika suatu saat murid-murid saya ketika sebelum mereka menekan tombol “kirim” di sosial media / blog mereka, mereka sudah tahu dan memikirkan bahwa mereka juga bertanggung jawab sebagai Global Citizens. Bapak ibu semua bahwa MENUMBUHKAN CERDAS DIGITAL itu BUKAN UNTUK ANAK SAJA,JUGA BUAT GURU DAN ORANGTUA, BUKAN HANYA SESEKALI,TAPI BERKELANJUTAN, BUKAN DALAM KELAS TEKNOLOGI, TAPI LEWAT INTERAKSI SEHARI-HARI, BUKAN DINASIHATKAN, TAPI CONTOHKAN

Terakhir:
“orang skrg banyak nonton, sedikit baca–mangkanya mudah terkena hoax…mudah terpengaruh”

Indah Nova Ida Manurung

Guru adalah artis karakter. Teladan dari kita wajib adanya. Tetapkan tujuan sebelum kita membaca.

Hasil Refleksi Peserta Temu Pendidik Mingguan 114

Widya Apri Wandini

Terimakasih rekan-rekan guru untuk diskusi hangatnya malam ini, mari kita lakukan refleksi.

Masih Penasaran Bagaimana Menerapkan Literasi Numerasi di Sekolah Dasar?

Yuk ikuti pelatihan online
Memulai Karier Guru: Strategi Numerasi Sekolah Dasar
klik di sini https://bit.ly/KGCNumerasiSD

Pelatihan Literasi Numerasi di Kelas Matematika
About the Author

One thought on “Program Literasi Sudah Terlaksana, Anak Mahir Baca, Namun Tak Paham Artinya”

Leave a Reply

%d bloggers like this: