Sekolah Lawan Corona Jawa Tengah

Penulis : rizqy | 23 Jun, 2020 | Kategori: Merdeka Belajar

Corona membuat tidak sedikit guru merasa kebingungan untuk melakukan pembelajaran. Karena Corona pembelajaran tidak lagi dilakukan Sekolah. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai Pembelajaran jarak jauh, berikut adalah kendala-kendala yang guru hadapi : 67,11 % kendala guru terkait kemampuan mengoperasikan perangkat digital, 29, 45% kendala guru terkait sarana dan prasarana, 14,47% terkait faktor internal murid dan sebagainya. Melihat masalah tersebut Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar sejak awal menunjukkan komitmennya dalam membantu guru.

Survey Sekolah Lawan Corona

Komitmen tersebut bisa dilihat dari inisiasi yang dibuat, yaitu Sekolah Lawan Corona yang mulai berjalan sejak 16 Maret 2020. Inisiasi ini memulai dari pembuatan kegiatan rutin yaitu Temu Pendidik Spesial, membuat panduan pembelajaran jarak jauh hingga membuat surat kabar guru belajar yang berisi praktik baik pembelajaran jarak jauh para guru.

Namun seiring berjalannya waktu, kami melakukan refleksi. Temu Pendidik Spesial yang kami adakan rutin setiap pukul 18.30 – 20.30 tiap harinya masih kurang efektif, kurang membangun keberlanjutan bagi para guru yang mengikuti. Banyak peserta yang mengulang-ulang pertanyaan, ada yang memulainya dari awal juga walaupun materi sudah sampai pada level tertentu.

Dari refleksi ini, kemudian kami berpikir, bagaimana membantu guru belajar dari hal yang paling dasar, hingga ia bisa membuat pembelajaran jarak jauh yang bermakna untuk murid? Akhirnya dari refleksi tersebut, lahirlah kurikulum Sekolah Lawan Corona yang bisa dilihat di bawah.

Kelas Sekolah Lawan Corona

Kurikulum ini dimulai dari asesmen, tujuannya agar mengetahui pemahaman dan kompetensi guru mengenai pembelajaran jarak jauh. Jika dari asesmen guru tersebut berada pada level 1, maka guru masih perlu mengembangkan kompetensinya dalam penguasaan teknologi, seperti Whatsaap, Gmail, Google Meet, dsb. Sehingga para guru tidak memulai kurikulum Sekolah Lawan Corona ini pada level yang sama, ada yang memulai dari level 2, 3, bahkan ada yang bisa mulai dari level 5 jika guru tersebut melalui asesmen menunjukkan kompetensi yang perlu dimiliki guru level 5.

Kurikulum Sekolah Lawan Corona pertama kali dijalankan yaitu di Jawa Tengah, hal tersebut dilakukan karena Wakil Gubernur Jawa Tengah, Bapak Taj Yasin Maimoen beserta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah sangat mendukung inisiasi ini. Program Sekolah Lawan Corona di Jawa Tengah Sendiri dibuka langsung oleh bapak Wakil Gubernur dan Bu Najelaa Shihab selaku inisiator pada tanggal 19 Mei 2020.

“Inisiatif Sekolah Lawan Corona ini sebetulnya diluncurkan sebagai gerakan oleh Komunitas Guru Belajar, Kampus Guru Cikal, SekolahMu dan Keluarga Kita yang akan berlangsung di berbagai daerah.” tutur Najelaa Shihab dalam kegiatan launching tersebut.

Najelaa Shihab juga menambahkan bahwa Jawa Tengah adalah daerah pertama yang mendapatkan kesempatan mengikuti Sekolah Lawan Corona, adapun pelaksanaanya akan dibagi menjadi 3 tahap berdasarkan keaktifan dan keberdayaan Komunitas Guru Belajar dalam berkolaborasi dan menggerakkan ekosistem pendidikan, yang bisa dilihat pembagiannya sebagai berikut.

Tahapan Sekolah Lawan Corona

“Saya mendukung Sekolah Lawan Corona di Jawa Tengah ini, inisiasi ini akan membantu guru dalam beradaptasi dengan budaya baru pembelajaran.” ungkap Wakil Gubernur Jawa Tengah. 

Pelaksanaan Sekolah Lawan Corona

Setelah dibuka secara formal oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, inisiasi Sekolah Lawan Corona mulai dijalankan di 5 daerah yaitu Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Semarang, Kota Semarang dan juga Kota Surakarta. Adapun jumlah peserta yang mendaftar dari 5 daerah tersebut berjumlah 881 peserta, dan dibagi ke dalam 3 tahap. Tahap 1 dimulai bulan Juni, tahap 2 dimulai Juli bersama daerah yang berada pada tahap berkembang dan tahap 3 dimulai Agustus dimulai bersama daerah yang berada pada tahap perluasan.

Di tahap 1 sendiri ada 392 peserta yang memulai program dengan mengisi asesmen, dari asesmen yang diisi peserta, ternyata ada beberapa peserta di 5 daerah tersebut memulai program dari level 1, 2, 3 bahkan ada yang memulai dari level 5.


Peserta yang memulai program dari level 1 mendapat pendampingan khusus oleh fasilitator melalui grup Whatsapp. Ada sebuah cerita menarik dari fasilitator Kota Surakarta, karena peserta di grup ini mengalami kesulitan koordinasi melalui Whatsapp, maka diadakan pertemuan langsung dengan mematuhi protokol kesehatan. Dalam pertemuan tersebut, Guru Nasrudin mendampingi 5 guru yang ingin menyelesaikan level 1.

Guru Sekolah Lawan Corona
Guru Nasrudin melakukan pendampingan dengan guru-guru yang memulai dari Level 1.

Ada dua tipe program dalam kurikulum Sekolah Lawan Corona, yang otomatisasi dan program diperlukan interaksi. Selain program level 1, program level 3B, 4A, dan juga 5B membutuhkan interaksi. Sehingga peserta-peserta yang sudah melewati level tersebut, akan mendapat pendampingan langsung dari fasilitator. 3B misalnya akan mendapatkan sesi refleksi mengenai pembelajaran, sesi 4A akan mendapatkan pendampingan tentang pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, dan sesi 5B akan mendapat pendampingan bagaimana membuat program di SekolahMu.

“Saya senang sekali dengan modul 4B, karena di sini saya belajar banyak mengenai karakter, kebutuhan anak, dan belajar mengajak murid bertanya. Pembelajaran akan lebih aktif nantinya.” tutur guru Ambar.

Yuk unduh GRATIS
Surat Kabar Guru Belajar Edisi
Sekolah Lawan Corona
Klik link di bawah ini

About the Author

3 thoughts on “Sekolah Lawan Corona Jawa Tengah”

Leave a Reply

%d bloggers like this: