Siapa Bilang Kesepakatan Hanya Bisa Dijalankan Orang Dewasa?

Penulis : Ahmad Ainis Shoffa | 18 Mar, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Rembang, Temu Pendidik Daerah

Semangattt…

Hari ini (24/02/2019) penggerak KGB Rembang mengadakan TPD yang ke-15. Ada dua kelas, kelas Strategi Dasar Sekolah Inklusi dan Kesepakatan Kelas: Membangun Motivasi Intrinsik. Satu hari sebelumnya kedua narasumber dan moderator telah merancang alur berjalannya diskusi. Langsung saja kita simak liputan berikut,

Hari ini penggerak KGB Rembang mengadakan TPD yang ke -15. Ada dua kelas, kelas Strategi Dasar Sekolah Inklusi dan Kesepakatan Kelas: Membangun Motivasi Intrinsik. Satu hari sebelumnya kedua narasumber dan moderator telah merancang alur berjalannya diskusi. Langsung saja kita simak liputan berikut,

Strategi Dasar Sekolah Inklusi

Sampai detik ini, Sekolah Inklusi atau Pendidikan Inklusi sangatlah cetar membahana di khalayak umum, sedang naik daun katanya. Tapi sampai detik ini juga, masih banyak yang  belum tahu sebenarnya apa itu sekolah inklusi atau pendidikan inklusi tersebut. Nah, di TPD ke 15 ini teman-teman guru dari berbagai sekolah di daerah Rembang akan mendapatkan pencerahan tentang Sekolah Inklusi  dan bagaimana penerapannya pada sebuah instansi sekolah, bersama Guru Fiqoh sebagai narasumbernya dan Guru Joko sebagai moderatornya. Sebelum kegiatan dimulai terlihat Guru Fiqoh mempersiapkan segala macam buku tentang Inklusi yang didapatkannya dari perpustakaan Umar Harun, sedangkan Guru Joko terlihat mempersiapkan peralatan untuk kegiatan ice breakingnya. Perlu sekali dalam sebuah kegiatan seperti TPD seorang moderator menyiapkan ice breaking untuk menghindari kebosanan saat kegiatan berlangsung.

Tepat pada pukul 13.35 kegiatan sudah mulai dibuka oleh Guru Joko, dengan peserta yang berjumlah 5 guru dari Sekolah Islam Umar Harun. Guru Joko membuka salam pembuka dengan penuh semangat, hingga semua peserta juga terbawa oleh semangatnya,  karena ternyata semangat itu menular. Di ruang kelas TK A kegiatan berlangsung dengan sajian snack gorengan tempe dan ote-ote khas Sarang disertai buah pencuci mulut yang merah merona buah semangka. Sambil menikmati snack yang telah tersedia, Guru Joko mengajak untuk menebak hitungan jarinya yang diawal Guru Joko tanpa kita sadari sudah menyebutkan kata kunci dari jawaban tebak-tebakannya. Riuh rendah suara kami di kelas , berebut untuk bisa menjawab tebakan tersebut. Tapi dari kami berlima belum ada yang bisa menjawab dengan tepat, hingga akhirnya kami menyerah. Guru Joko pun membeberkan semua jawaban dari tebakannya.

“Ooo…begitu jawabannya”, serentak itu yang keluar dari mulut kami masing-masing.

Terlihat susah tapi ternyata sangat mudah. Permainan tersebut dapat melatih konsentrasi untuk memahami arahan.

Ice breaking selesai, langsung dilanjut Guru Fiqoh mulai membuka laptopnya menampilkan sebuah tulisan yang terdapat dalam buku yang berjudul “Menjadi Guru Yang Kreatif” dari Sekolah Tumbuh Yogyakarta.  Sebelum Guru Fiqoh menjelaskan semua tulisan yang sudah ditampilkannya, Guru Fiqoh menggali pengetahuan peserta tentang makna Sekolah Inklusi itu sendiri.

“Sekolah Inklusi adalah memfasilitasi segala macam latar belakang anak didik”, ungkap Guru Rodliyah.

Guru Amal juga berpendapat, “Sekolah Inklusi adalah memfasilitasi kegiatan pembelajaran anak didik sesuai dengan kebutuhannya”.

Sebagai moderator, Guru Joko ikut andil melengkapi pendapat teman guru lainnya,”Sekolah Inklusi adalah memfasilitasi semua keberagaman anak didik dari berbagai sudut pandang”. Luar biasa antusiasme peserta terlihat mendominasi saat  itu, tidak ada yang terlihat menguap atau tertidur. Merasa sudah cukup, Guru Fiqoh merangkum semua pendapat teman-teman dengan membaca buku “Menjadi Guru Yang Kreatif”,

“Sekolah Inklusi adalah sekolah yang mengakomodasi keberagaman siswa termasuk keberagaman kebutuhan dan kemampuan. Guru memiliki peran dalam mengembangkan kurikulum sehingga semua siswa dapat berpartisipasi dalam pembelajaran. Pengembangan kurikulum di sini dimulai dari pemetaan kelas, pemetaan indikator belajar, menentukan metode belajar, merancang kegiatan pembelajaran, hingga menyusun evaluasi pembelajaran”.

Setelah selesai membacakan buku tersebut, terlihat ada empat guru berdatangan, guru dari Sekolah Islam Umar Harun dan SMK Al Anwar. Jumlah peserta pun menjadi sembilan peserta. Guru Fiqoh melanjutkan kegiatan tersebut dengan strategi diskusi, terdapat dua kelompok diskusi yaitu kelompok guru laki-laki dan perempuan. Diskusi berjalan sangat mengalir dan aktif. Keaktifan diskusi salah satunya terlihat oleh Guru Dhorif yang selalu menyertakan referensi dari setiap tanggapannya. Semua peserta merasa nyaman dengan strategi diskusi yang dibuat oleh Guru Fiqoh. Peserta mempunyai kesempatan untuk berpendapat dan saling menghargai  tanpa harus menyalahkan pendapat satu sama lain. Hal yang sama begitu juga dirasakan oleh Guru Fiqoh bahwa narasumber di sini bukanlah satu-satunya sumber belajar.

So, apa kesimpulan dari Pendidikan Inklusi? Pendidikan Inklusi adalah pendidikan yang terbuka dan ramah, dengan mengedepankan tindakan menghargai dan merangkul perbedaan. Difrensiasi atau sikap menghargai dan memfasilitasi keragaman ini harus ada pada setiap sisi dari pendidikan, baik dalam konten, proses, produk maupun lingkungan belajar. Hal ini tentu disesuaikan dengan kesiapan, minat, dan profil pembelajaran. Kunci sukses pendidikan Inklusi : Hadir bersama, Adanya capaian/ target yang jelas , dan Partisipasi.

Waktu telah menunjukkan pukul 15.15 saatnya memasuki kegiatan selanjutnya. Guru Joko mengambil alih untuk memimpin peserta. Memberikan pilihan kegiatan selanjutnya, refleksi atau ice breaking terlebih dahulu. Peserta sepakat untuk refleksi terlebih dahulu. Guru Joko mempersilahkan semua peserta untuk menyiapkan alat tulis berupa buku dan pena. Guru Joko memberikan waktu sekitar 10 menit untuk peserta menuliskan aksi  yang akan dilakukan setelah mengetahui Pendidikan Inklusi . Tepat 10 menit, Guru Joko menyudahi kegiatan menulis refleksi dan mempersilahkan salah satu peserta untuk mempresentasikan aksi refleksinya. Ada Guru Dhorif yang menyatakan aksinya yaitu akan berusaha memahami murid dari latar belakang yang berbeda-beda melalui observasi harian dan meninggalkan labeling. Guru Joko seketika mengajak peserta untuk memberikan tepuk tangan sebagai apresiasi untuk Guru Dhorif yang sudah bersedia membacakan aksinya. Ice breaking penutup sudah siap dipimpin oleh Guru Joko dan terlaksana dengan sangat meriah, karena ice breaking penutup ini sifatnya membangun kerjasama dan kekompakan tim.

Sebelum kegiatan ditutup dengan salam dari narasumber dan moderator, Guru Fiqoh menguatkan dengan kalimat penutupnya, ‘’ Inklusi tidak hanya pada guru atau sekolah, tapi lingkungan pun harus  Inklusi’’. Alhamdulillah,,,semua kegiatan TPD ke 15 hari ini berjalan dengan lancar dan penuh dengan aura semangat dari peserta. Itu membuktikan bahwa jumlah peserta bukanlah menjadi satu-satunya  penentu suksesnya suatu kegiatan, tapi semangat belajarlah yang akan menggiring kita menemukan kesuksesan itu sendiri.

Kesepakatan Kelas: Membangun Motivasi Intrinsik

Siapa bilang kesepakatan hanya bisa dijalankan orang dewasa? Anak-anak usia dini pun bisa. Menurut saya, dalam acara-acara TPD yang lalu pasti semua peserta terlibat dalam diskusi, seluruh waktu bukan milik narasumber. Begitu juga dengan acara TPD yang ke-15 ini, semua peserta terlibat untuk membahas tentang sebuah kesepakan kelas. Guru Ulya, sebagai narasumber mengajak para peserta untuk sharing pengalaman tentang membuat kesepakatan kelas. Mereka dari berbagai guru lintas jenjang, mulai dari guru TPA, KB, TK, SD, dan SMK. Satu persatu peserta mengungkapkan pengalamannya saat membuat kesepakatan kelas. Guru Saha, guru KB sekolah Islam Umar Harun bercerita, “Saya punya pengalaman membuat kesepakatan bersama anak-anak, waktu itu anak-anak sering BAB atau BAK di kelas, lalu kami bicarakan dengan mereka tentunya dengan bahasa mereka, diakhir pembicaraan kami menyimpulkan bahwa kalau BAB atau BAK di kamar mandi. Tentunya, saat menjalankan kesepakatan ada tantangan-tantangan.”

Acara TPD ini dimulai jam 13:30 WIB. Pada awalnya, peserta berjumlah 6 orang, 30 menit kemudian peserta bertambah menjadi 13 orang. Sebelum acara dimulai, Guru Lia mengajak para peserta untuk berdiri terlebih dahulu sambil melemaskan otot kemudian antar peserta diminta untuk saling mengenalkan diri. Setelah para peserta berkenalan, mereka diminta untuk membuat kelompok yang terdiri dari 4 orang, mereka boleh memilih kelompok yang dikehendaki. Setiap anggota kelompok mempunyai peran masing-masing, ada yang menjadi juru tulis, ada yang menjadi juru kemudi untuk mengarahkan diskusi tetap terjaga, dan ada juga yang menjadi juru logistik untuk mengambil perlengkapan diskusi. Kemudian narasumber memberi tantangan.

Para peserta terlihat gregetan ketika narasumber menyuguhkan video yang menampilkan gambar orang-orang yang melanggar peraturan. Ada seorang bapak-bapak yang sengaja merokok di tempat umum, padahal di belakangnya tertulis dengan jelas, dilarang merokok. Ada juga seorang ibu mengendarai motor dengan memboncengkan 5 anak. Dan masih banyak lagi gambar-gambar orang yang melanggar peraturan. Ditambah lagi dengan pertanyaan narasumber, jika dikaitkan dengan kelas, apakah peraturan dibuat untuk dilanggar? Para peserta tak tahan untuk menjawab. Dari berbagai jawaban mereka, inti yang terkandung adalah karena para murid tidak diberi tahu tujuan peraturan yang telah dibuat, bagaimana mereka patuh?. Maka dari itu kesepakatan adalah solusinya, karena dibuat berdasarkan kebutuhan dan melibatkan semua anggota kelas, sekaligus menjadi pengawas.

Sebelum acara selesai, narasumber memberikan kesempatan kepada semua peserta untuk menuliskan harapan dan refleksi untuk kelasnya masing-masing. Kemudian harapan itu ditempelkan di papan depan, yang kemudian akan menjadi motivasi bersama.

Diakhir diskusi, Guru Ulya menjelaskan tentang perbedaan peraturan dan kesepakatan. Peraturan itu dibuat pihak otoritas, bentuknya patokan misalnya dilarang merokok, dll., berbeda dengan kesepakatan yang dibuat secara kolektif artinya semua anggota terlibat dalam pembuatannya, bentuknya harapan dan perilaku positif.

“Saya akui membuat kesepakatan nyatanya tidak mudah dipraktikkan, bahkan kesepakatan yang dibuat menjadi peraturan.” Tutur narasumber.

Diakhir acara atau biasanya kami menyebutnya dengan acara puncak, para penggerak KGB Rembang menyajikan menu refleksi. Sebelumnya, para peserta yang ada di kelas satu dan dua berkumpul dalam satu ruangan. Kemudian guru Joko sebagai penggerak menyuguhkan menu refleksi yang dikemas dengan permainan berkelompok. Mereka dipersilakan untuk memilih anggota kelompok, siapa pun berhak memposisikan diri. Setiap anggota kelompok mengambil peran masing-masing, ada yang menjadi juru kemudi, ada yang menjadi juru tulis, ada yang menjadi juru logistik, dan ada yang menjadi juru bicara. Ada empat kelompok, kelompok pertama bernama balonku ada lima, kelompok kedua bernama rupa-rupa warnanya merah kuning kelabu merah muda dan hijau, kelompok ketiga bernama meletus balon hijau dooorrr, dan kelompok keempat bernama hatiku sangat kacau. Hehe… setiap kelompok merefleksikan hasil diskusi kemudian juru bicara maju dan menyampaikan ide-ide kelompoknya di depan para peserta yang lain.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: