Sosialisasi Merdeka Belajar di Kota Binjai

Penulis : Muamar Firman | 5 Jun, 2020 | Kategori: Binjai, Liputan Guru Belajar
Sosialisasi Merdeka Belajar di Binjai

Sosialisasi Merdeka Belajar dilaksanakan pada Sabtu, 7 Maret 2020. Sebagai pelaksana Komunitas Guru Belajar (KGB) Binjai rela menggunakan akhir pekannya. Kegiatan Nonton Bareng (Nobar) Guru Merdeka Belajar diadakan di salah satu yayasan pendidikan Sekolah Islam Terpadu (SIT) di Kota Binjai. SIT Al Fityah sebagai sebuah yayasan pendidikan pada kegiatan Nobar kali ini menghadirkan 62 orang para pendidik lintas jenjang sekolah mulai dari TK hingga SMA.

Sosialisasi Merdeka Belajar yang Menarik

Menariknya, kegiatan Sosialisasi Merdeka Belajar berupa nobar kali ini tidak hanya dihadiri oleh para guru Yayasan SIT Al Fityah. Namun juga dihadiri oleh Ketua Yayasan SIT Al Fityah, Bapak H. Abdul Latif Bangun, ST yang tampak antusias mengikuti kegiatan ini hingga selesai. Lisza Megasari, salah seorang penggerak KGB sangat mengapresiasi kehadiran ketua yayasan tersebut dan berkata, “Baru kali ini di dalam kegiatan sosialisasi Merdeka Belajar yang saya lakukan di sekolah swasta, dihadiri oleh ketua yayasan”.

Selain itu hadir pula Ika Drama Yanti yang akrab dipanggil bu Ika dy. Seorang pegiat literasi Kota Binjai yang sukses menerbitkan sebuah buku yang berjudul “Purnama Yang Hilang”. Kehadiran ketua yayasan dan seorang pegiat literasi ini tentu menambah keseruan peserta yang lain. Dan juga menambah antusiasme para Penggerak KGB Binjai pada sosialisasi merdeka belajar ini. Para Penggerak KGB Binjai berharap bukan hanya guru saja yang Merdeka Belajar, tapi juga murid, kepala sekolah, yayasan, orang tua hingga komunitas-komunitas juga perlu merdeka belajar.

Para pesertapun dibuat bahagia oleh moderator/ pemandu acara yang interaktif saat membuka acara. Lusiana Matondang, moderator/ pemandu acara yang sekaligus calon penggerak KGB Binjai. Mengawali acara dengan memperagakan “Tepuk Diam” kepada para peserta untuk meminta perhatian dan fokus selama berlangsungnya kegiatan. Situasi tenang ini tentu tidak disia-siakan oleh moderator, untuk menanyakan kepada para peserta sejauh mana pemahaman mereka tentang Merdeka Belajar.

Nita Hardiyanti, mewakili Guru TK pada kesempatan tersebut menjelaskan bahwa Merdeka Belajar adalah kemerdekaan berfikir bagi guru dan murid untuk menentukan tujuan. Sedangkan Icha Ramadhani, mewakili guru SMP menjelaskan bahwa Merdeka Belajar adalah kemampuan guru dan murid
memberdayakan semua potensi dan fasilitas yang ada di sekolah secara bersama sama atau berkolaborasi untuk melakukan pembelajaran yang bermakna.

Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon

Setelah beberapa peserta menyampaikan pandangannya tentang Merdeka Belajar. Muamar Firman sebagai peliput acara yang juga merupakan calon penggerak KGB Kota Binjai meminta para guru untuk sesekali bertanya kepada para muridnya. “Apakah pembelajaran yang Bapak/ Ibu berikan penting menurut Bapak/ Ibu? Apakah Pembelajaran yang Bapak/ Ibu berikan selama ini dibutuhkan bagi kehidupan kita di saat ini ataupun di masa depan?”. Pertanyaan ini dia lontarkan karena menurutnya sekolah harus mampu menjadi Representasi Kehidupan. Sehingga apa yang murid dapatkan di sekolah benar-benar bermanfaat bagi kehidupan dan mampu menjawab tantangan zaman.

Belajar juga menurutnya adalah bukan bercerita tentang seberapa jelas kesuksesan yang akan kita dapatkan. Tapi tentang seberapa yakin kita kepada tujuan. Karena tujuanlah yang akan menentukan dan memandu langkah dan gerakan kita. Tidak ada yang jelas dan pasti hari ini melainkan [erubahan. Maka kita harus mampu mencetak anak-anak menjadi pribadi yang adaptif. Menjadi seorang Pembelajar Sepanjang Hayat yang mampu mengikuti setiap perubahan dan perkembangan zaman.

Siapa yang Merdeka Belajar?

Setelah selesai Nobar, Surya Herdiansyah salah seorang Penggerak KGB Binjai juga memberikan pertanyaan-pertanyaan. Hal yang cukup memancing rasa ingin tahu (curiousity) para peserta untuk menyampaikan pendapatnya seperti Siapa yang Merdeka Belajar? Kenapa harus Merdeka Belajar dan seterusnya. Kemudian menutup sesinya dengan menyampaikan tiga dimensi Merdeka Belajar (Komitmen, Mandiri, Refleksi). Dan yel-yel Merdeka Belajar, yang cukup menambah keseruan para peserta seisi ruangan.

Guru Untung, mewakili guru SD ketika ditanya “Siapa yang Merdeka?” menyampaikan pendapatnya. Menurutnya yang merdeka bukan hanya guru dan murid saja. Dinas Pendidikan dan pengawas juga harus merdeka belajar sehingga dapat mempercepat usaha untuk mengubah kualitas pendidikan menjadi lebih baik.

Selanjutnya Ermawaty, penggerak KGB Binjai mengawali aksinya di depan peserta dengan memberikan contoh “Hand Sign”. Sebuah instruksi/ tanda menggunakan gerakan tangan untuk maksud tertentu yang efektif. Tanda ini dapat mengurangi ungkapan ungkapan yang mengganggu konsentrasi di saat pembelajaran. Beliau kemudian melengkapi sesinya dengan menjelaskan sekilas tentang KGB Binjai dan Temu Pendidik Nusantara (TPN) 2019. Ermawaty pada kesempatan tersebut juga menyampaikan tentang 4 Pokok Kebijakan Merdeka Belajar. Kebijakan yang merupakan gebrakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Bapak Nadiem Makarim yaitu:

  1. Mengganti USBN dengan Ujian Sekolah (Tes Tulis, Tugas Kelompok, Portofolio atau Karya Tulis)
  2. Mengganti UN dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survey Karakter (Literasi, Numerasi
    dan Karakter)
  3. RPP Cukup 1 Halaman, dan
  4. PPDB Zonasi
Mensosialisasikan Merdeka Belajar

Arti Kemerdekaan Belajar

Di akhir sesi, Lisza Megasari mampu membuat mata para peserta berkaca-kaca. Beliau menyampaikan kegelisahan dan keresahannya terhadap apa yang dia alami dan rasakan selama menjadi seorang pendidik. Bahwa betapa banyak anak-anak yang dihambat bakat dan potensinya sebab tuntutan ketercapaian kurikulum yang diberikan. Juga kecenderungan untuk memberikan gelar negatif kepada murid. Hanya karena mereka mendapatkan nilai rendah tanpa memandang potensi lain yang ada pada
diri mereka. Menurutnya, potensi dan bakat murid tidak dapat diukur dari hasil ujian. Kompetensi murid akan tampak apabila ada kemerdekaan belajar pada guru dan murid. Kemerdekaan belajar di sini berarti menentukan tujuan, mandiri dalam menentukan proses dan cara, serta senantiasa reflektif mengevaluasi diri untuk terus melakukan perbaikan.

Cerita praktik baik yang disampaikannya pun membuat para peserta terbawa suasana. Peserta merasa mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna. Di akhir acara Sosialisasi Merdeka Belajar Bapak H. Abdul Latif Bangun selaku ketua Yayasan SIT Al Fityah berjanji akan mengundang kembali para penggerak KGB Binjai. Melanjutkan pertemuan dengan tema Canvas dan RPP Merdeka Belajar sebagai bentuk kesungguhan yayasan untuk mendukung program Merdeka Belajar. Dan sebagai bukti nyata, bahwa bukan hanya Kepala Sekolah dan Guru SIT Al Fityah yang Merdeka Belajar. Tetapi Yayasan SIT Al Fityah juga akan Merdeka Belajar.

Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6
Unduh Gratis
Klik:
Merayakan Merdeka Belajar PDF

surat kabar edisi definisi merdeka belajar

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: