Mengatasi Bullying, Membangun Cinta

Penulis : Annisa Ariyani | 13 Sep, 2020 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Malang, Temu Pendidik Daerah

Kasus Bullying yang terjadi di salah satu SMP di kota  Malang membuat prihatin masyarakat sekitar. Lantas, bagaimanakah cara mengatasi bullying yang telah terjadi? Semuanya dijelaskan dalam temu pendidik Malang ke 19, dengan tema “Stop Bullying Start Loving” yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Malang, pada Minggu (16/2) di aula MI Alam Bilingual, Sengguruh, Kepanjen.

Membahas Bullying

Acara yang dihadiri oleh 60 peserta dari pendidik dan orang tua ini menghadirkan empat pembicara ternama yakni Bapak Wahyudi Siswanto Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Ibu Sri Wahyuningsih Direktur LSM  Women and Children Crisis Center, dan Ibu Elok Candra selaku Bibi korban, dan juga Mas Heri dari Peace Generation Malang. Di awal sesi acara, Bapak Wahyudi membuka dengan berbagai ice breaking yang meramaikan suasana acara. Acara ini dibagi empat sesi sesuai dengan urutan pembiacara. Di dalam sesi pertama, Dosen sekaligus pemilik MI Alam Bilingual ini menjelaskan bahwa salah satu pencegahan bullying melalui kasih sayang orang tua dan memberikan keteladanan yang baik bagi anak-anaknya. Bukan hanya itu, memberikan kekuatan spiritual kepada anak menjadi modal awal agar kelak anak mampu melakukan hal yang baik di mana saja. 

Sesi pembicara kedua, Ibu Sri Wahyuningsih menambahkan jika kata bullying, berasal dari kata bull yang berarti banteng, sedangkan bully berarti gertakan, lantas jika digabungkan menjadi bullying yang bermakna tindakan agresif berupa penindasan dan pengintimidasian yang dilakukan oleh orang seseorang atau kelompok orang yang tidak bertanggung jawab dan dilakukan berulang-ulang, serta membuat korban menderita. Beliau juga menjelaskan ada beberapa jenis 4 jenis bullying yakni verbal (menghina, mengejek dll), fisik (dibanting, dipukul dll), relasional (menghindari, mengucilkan dll), dan elektronik (menyebar foto, mengancam dll). Selain menjelaskan jenis bullying kepada para peserta, beliau juga menjelaskan alasan perundungan atau bullying itu dapat terjadi di lingkungan sekitar kita, yakni pembully ingin dianggap berkuasa dan kelihatan keren karena meniru aksi film/game, tidak memiliki perhatian orang sekitar, akhirnya dia mengalihkan perhatian pada orang lain dengan cara menghina orang lain, melempar dll, pembully sebenarnya mantan korban bully yang akhirnya mencari korban bully berikutnya. 

Baca Juga: Manajemen Konflik di Kelas Berbasis Sekolah

Mantan Dosen hukum Universitas Brawijaya tersebut juga menjelaskan bahwa ada kajian hukum terhadap bullying anak yang tertuang dalam UU No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPS) yakni (1) anak yang berkonflik dengan hukum yaitu anak menjadi terduga pelaku tindak pidana, (2) anak korban tindak pidana, dan (3) anak yang menjadi sasksi tindak pidana. Maka Bullying anak dapat dikategorikan sebagai tindak pidana yang dilakukan oleh anak, terhadap anak, ada saksi anak, karena bullying anak tersebut sudah mengancam keselamatan anak. 

Lantas, tindakan apakah yang tepat ketika bullying terjadi di sekolah? Direktur LSM WCC itu menjelaskan bahwa perlunya urun rembug bagi upaya penyelesaian dengan cara pemulihan psikologis korban maupun pelaku. Jika dari pelaku diberi dukungan dan motivasi untuk bisa bersemangat sekolah lagi, sedangkan para pelaku diberi pendampingan psikologis untuk meminta maaf kepada korban, membimbing dan menyadarkan perilaku tersebut bukanlah perilaku yang baik dan dapat berakibat tindak pidana jika terulang lagi. 

Stop Bullying

Di sesi ketiga, Ibu Elok Candra selaku bibi korban, menjelaskan jika kondisi korban saat ini mulai membaik dan mau sekolah lagi. Jika ditanya perihal apakah ingin pindah sekolah, ternyata korban tidak mau pindah sekolah dan tetap sekolah di sana, sebab banyak teman baik yang mendukung dan memberi semangat kepadanya, sehingga dia mau bersekolah lagi. 

Di sesi pembicara terakhir yakni Mas Heri Susilo dari komunitas Peace Generation menjelaskan jika pelaku bullying sebenarnya diperlukan tindakan konsekuensi dan penguatan mental yang bagus agar pelaku mengetahui konsekuensi atau resiko yang didapat dari bullying, sehingga pembully mampu membatalkan rencananya untuk melakukan pembullyian. Bukan hanya itu, mas Heri juga mengajak masyarakat untuk menjadi pelopor perhentian bully dan mengawali semua tindakan dengan saling menghargai satu sama lain. 

Acara yang berlangsung 4 jam ini ditutup dengan menulis surat kecil yang berisi harapan kepada Dinas Pendidikan Malang dalam mengatasi masalah perundungan agar Malang menjadi salah satu kota yang bebas dengan budaya bully.

Ingin mengikuti pelatihan Manajemen Emosi Guru Merdeka Belajar?

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: