Strategi Menyenangkan untuk Ulangan Harian

“Besok ulangan ya?”
Tiba-tiba wajah murid menjadi berubah.
Seakan-akan akan menemui monster yang menakutkan.
Ulangan menjadi momok bagi sebagian murid.
Tantanganya adalah membuat ulangan menjadi menyenangkan.
Bukan hal yang menakutkan.

Sebagai pembuka Guru Nazila mengajukan pertanyaan

Rekan-rekan diskusi menimpali
Seriiing Bu!
Sering Banget
Budaya Nyata
Dengar ulangan, anak-anak langsung galau
Bersorak huu!

Nah, banyak hal yangg kita sering jumpai ya.
Lantas, apa yg akan kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut?

Kali ini Guru Gia akan berbagi pengalamannya
merancang penilaian yang menarik dan mengasikkan
namun tetap bermakna.

Assalamualaikum w.w. teman-teman Pendidik!

Saya sungguh bersyukur sekali bisa berada di tengah teman-teman pendidik semua. Rasanya seperti mendapatkan saudara baru,
teman belajar baru yang selalu berusaha memberikan yang terbaik.
Karena saya meyakini bahwa guru yang baik adalah guru yang selalu memberikan yang terbaik dari dirinya untuk siswa-siswanya dan lingkungan di sekitarnya.

Pada kesempatan malam ini, saya mohon izin untuk berbagai sesuatu kepada teman-teman pendidik semua tentang sesuatu hal yang telah membuat saya bahagia. Ilmu saya masih minim sekali, tapi saya punya keinginan yang besar untuk terus belajar memberikan yang terbaik.

Perkenalkan, nama saya Sitti Ghaliyah. Biasa dipanggil Gia. Alhamdulillah saya diberi kesempatan belajar untuk menjadi Pendidik dan Wakil Kepala MTs Ibad ArRahman di Pandeglang, Banten. Saya mengampu mata pelajaran Fisika tingkat SMA/MA.

Oia, saya suka sekali menulis, tapi belum juga menulis buku solo. Doakan yaaa. Saat ini saya aktif menulis #CatatanIbuGuruGia di instragam @giaghaliyah. Kalau yang belum follow boleh banget, semoga kita bisa tetap bersilaturahim.

Sebelum ke materi utama, saya mau menyampaikan cemilan dulu yaaa. Tentang 7 Prinsip Seorang Pendidik Pembawa Perubahan. Insyaallah akan terkait dengan materi utama kita.

Jujur deh…

Sebagai guru, pernahkah teman-teman melihat ekspresi dan respon murid Anda ketika Anda mengumumkan bahwa pekan depan akan Ulangan Harian? Bagaimana ekspresi murid Anda? Sedih? Bingung? Muram?

Atau, ada gak yang punya pengalaman justru murid Anda bilang, “Horeeeee!”? Terus, bagaimana responnya? Gak mau Ulangan Harian? Minta diundur waktunya?

Saat awal-awal saya mengajar, jujur saya belum peka memahami murid saya. Apalagi ketika saya mengumumkan, “Nak, pekan depan Ulangan Harian Fisika Bab Dinamika yaaa! Mohon belajar semaksimal mungkin.”

Ekspresi murid satu kelas langsung berubah tegang. Raut wajahnya menjadi muram. Terlihat sekali bahwa mereka merasa terbebani untuk menghadapi Ulangan Harian Fisika pekan depan. Responnya juga kompak, mereka bilang, “Buuuu Ulangan Harian Fisikanya diundur ajaa dong buuuu!”

Awalnya saya berpikir, “Ah, wajarlah mereka begitu. Fisika kan emang salah satu mata pelajaran yang susah. Jadi wajarlah kalau mereka takut Ulangan Harian Fisika.” Oh, saya salah besar! Saya gak boleh menanggap bahwa hal itu merupakan sebuah kewajaran! Akhirnya, saya berusaha untuk merefleksi diri saya sendiri mencari apa penyebab sebenarnya.

Menurut teman-teman semua, kira-kira apa yaa penyebab ekspresi dan respon yang kurang bersahabat dari siswa kita ketika akan Ulangan Harian? Mungkinkah ada rasa trauma dengan suasana kelas yang begitu mencekam? Bosen mengerjakan soal UH dengan duduk diam terpaku selama berpuluh-puluh menit?

Izinkan saya mencoba menganalisis dari hasil refleksi yang telah saya lakukan berdasarkan pengalaman saya sendiri.

Saya masuk kelas. Lalu, saya bilang, “Hari ini siap yaa Ulangan Harian Fisika. Sudah belajar semua?”

Terus seluruh siswa diam. Kayaknya sih takut dan deg-degkan banget deh.

“Kok diam semua? Tenang, soal yang keluar insyaAllah yang sudah kita pelajari bersama-sama, kok. Santai aja yaaa,” kata saya membuat mereka tenang.

“Iya, bu,” jawab mereka dengan ekspresi tidak antusias. Ada juga yang masih terlihat grogi dengan keringat yang sudah mengembun di keningnya.

Lalu, saya bagikan kertas soal Ulangan dan lembar jawabnya satu persatu. Tak lupa, saya pun bilang, “Ayo posisi duduknya saling dijauhkan. Pokoknya gak boleh ada yang menyontek ya!” Jujur, saya menginginkan murid saya duduk dengan tertib ketika Ulangan Harian berlangsung.

80 menit berlalu.

Ada yang masih mengerjakan soal Ulangan Harian, ada juga yang sudah selesai. Biasanya yang sudah selesai akan menaruh kepalanya di atas meja, tanda menunjukkan bahwa murid tersebut sudah merasa bosan.
Ya begitulah. Saya pelototin mereka ketika mengerjakan soal Ulangan Harian. Mungkin itu yang membuat murid menjadi takut dan grogi banget. Belum lagi mereka harus duduk diam terpaku, gak bisa bergerak-gerak. Lalu, bagaimana dengan kebosanan yang melanda mereka?

Ok, saya harus mengubah metode Ulangan Harian menjadi sesuatu hal yang menyenangkan dan penuh tantangan. Saya ingin mereka justru antusias mengerjakan soal-soal Ulangan Harian.

Tapi, bagaimana ya caranya?

Ada 7 Prinsip Ulangan Harian yang sangat penting untuk kita ketahui bersama

1. Valid
2

Buatlah soal-soal Ulangan Harian sesuai dengan tujuan pembelajaran, kompetensi dasar yang telah ditentukan, dan juga indikator-indikator pencapaian kompetensi yang telah dijabarkan dan telah diajarkan.
Penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kamampuan yang diukur.

2. Mendidik

Ulangan Harian harus bisa menjadi penghargaan yang memotivasi bagi murid yang berhasil dan sebagai pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil.

Saya pernah punya pengalaman, murid saya trauma dan pasrah menyerah sebelum Ulangan Harian Fisika. Katanya, “Ah bu, saya sudah belajar maksimal sesuai dengan kemampuan saya, tapi palingan nanti hasilnya saya remedial lagi, dan lagi.” Lho kenapa murid saya jadi pasrah menyerah ya? Pasti ada sesuatu yang salah dari cara Ulangan Harian yang saya terapkan kepadanya. Walaupun ia pernah remedial di Ulangan Harian pertama, maka Ulangan Harian selanjutnya selanjutnya bisa menjadi pemicu semangatnya untuk bisa berhasil mendapatkan nilai yang bagus juga.

3. Berorientasi pada Kompetensi

Nah, untuk prinsip yang ketiga ini, kita harus membuat soal-soal Ulangan Harian yang mengacu pada pencapaian kompetensi ya. Jangan sampai, apa yang sudah kita ajarkan di kelas, tidak sesuai dengan soal Ulangan Harian yang kita berikan untuk murid. Kita pun harus benar-benar merancang soal yang baik, yang sesuai dengan kompetensi dalam kurikulum.

4. Adil dan Objektif

Tentu cukup beragam latar belakang murid kita di kelas. Jangan mentang-mentang kita dekat dengan salah satu orang tua murid, maka kita berlaku tidak adil kepada murid tersebut saat Ulangan Harian. Nggak boleh, ya! Guru harus adil dan objektif, tidak ada murid kesayangan, tidak ada rasa pilih kasih kepada murid-murid tertentu saja.

5. Terbuka

Maksudnya adalah guru harus ada bukti yang jelas tentang nilai-nilai Ulangan Harian murid. Mulai dari lembar jawaban Ulangan Harian, lembar penilaian Ulangan Harian, dll. Semua harus terarsip dengan baik ya. Begitupun dengan kriteria penilaian Ulangan Harian.

6. Berkesinambungan

Guru harus telah merancang program semester, terutama sudah merancang mau berapa kali Ulangan Harian selama satu semester. Sehingga Ulangan Harian dilakukan secara berencana, bertahap, dan teratur untuk mendapatkan gambaran tentang perkembangan kemajuan belajar murid.

7. Bermakna

Ulangan Harian pun ternyata harus bisa menyampaikan hikmah ataupun pesan yang bermakna untuk murid. Jadi, jangan cuma sekadar mengerjakan soal, lalu murid bisa mendapatkan hasil angka Ulangan Harian mereka. Tapi, harus lebih dari itu. Misalnya, tentang makna perjuangan, kejujuran, belajar dari kesalahan, pendidikan karakter atau apapun yang bisa bermakna untuk murid. Penilaian juga harus dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi teknik, prosedur, dan hasil.

Alhamdulillah saya telah mempraktikkan empat strategi menyenangkan Ulangan Harian untuk santri-santri saya. Berikut di antaranya

Ulasan masing-masing strategi bisa ditemui pada instagram Guru Gia

Temu Pendidik dilanjutkan dengan sesi tanya jawab

Termin Pertama

Guru Maman – Krapyak
Sejauh ini, bagaimana cara Bu Ghia mengakomodir perbedaan kecenderungan tipe belajar siswa. Mungkinkah penilaian belajar ilmu eksak dilakukan dengan beragam metode pada satu kompetensi yang sama?

Guru Gia
Satu kelas, tentu murid memiliki beragam tipe belajar. Ada yang visual, audio, kinestetik, dsb. Cara saya untuk mengakomodir beragam tipe belajar murid adalah dengan bergantian membuat strategi. Misal, strategi jual beli saham atau teka teki spot itu sangat mengakomodir murid yang kinestetik.
Nah, nanti gantian deh. Stategi yang lain mengakomodir tipe belajar yang lainnya. Untuk penilaian belajar ilmu eksak pada satu kompetensi tentu bisa dilakukan beragam metode. Tapiiii biasanya siih yaaa, akan menghabiskan JP hehe. Jadi perlu perencanaan banget yaaah.

Guru Iwan – Landungsari
Bagaimana menyikapi siswa yang nilainya tidak seperti yang kita harapkan? Misal pada jual beli saham, kita menilai anak tsb bisa memperoleh nilai tinggi, tapi ternyata nilai yang dia peroleh hanya tuntas kkm atau bahkan dibawahnya?

Guru Gia
Ada murid yang nilainya tidak sesuai dengan ekspektasi? Yah ndak papaaaa. Yang penting, murid tersebut bisa melakukan UH dengan bahagia dan gak tertekan. Eh tapi itu perlu evaluasi juga. Jangan-jangan dia gak cocok dengan strategi UH yang telah kita konsep. Ini penting banget nih. Evaluasi startegi. Oia saya pernah dapat komentar dari murid pas lagi UH Teka Teki spot. Harusnya murid ini mah bisa banget dpt nilai besar. Tapi ternyata dia kurang maksimal pas UH.

“Ibu, saya suka banget UH tadi siang. Tapi sayangnya saya terlalu lelah lari-lari, jalan, muterin sekolah buat nyari soal. Akhirnya saya sulit berpikir deh pas ngerjain soal.”

Nah ternyata murid itu gak tipe kinestetik. Tapi saya tahu bgt kalau dia sebenarnya mampu menjawab soal. Ya sudah gakpapa. Karena penilaian yang bisa lebih detail adalah saat proses kegiatan pembelajaran sehari hari.

Guru Ipin – Bendan
Bagaimana mengatasi siswa apabila tidak sesuai skenario ulangan yang disampaikan Bu?

Guru Gia
Nah, ini pentiiiing bangett saat tahap pre teach. Tahap menjelaskan sistem
permainannya. Tanya sampai detaiiilll ke murid sudah paham atau belum. Bahkan kalau perlu clear dan clarify gituu. Insyaallah murid bisa sesuai mengikuti instruksi dengan baik.

Termin Kedua

Nyi Heni – Sukabumi
Pertanyaanya Alternatif strategi yang bagaimana untuk siswa yang kurang menyukai kinestetik???

Guru Gia
Murid yang kurang menyukai kinestetik saya akomodir pada startegi UH selanjutnya. Contohnya strategi Move Up dan Save Us hehehe. Dua konsep strategi itu terlahir dari feedback murid yang kurang menyukai kinestetik.

About the Author

2 thoughts on “Strategi Menyenangkan untuk Ulangan Harian”

  1. Ilma says:

    So Inspiring… izin share ya Bu

  2. Niswa says:

    Halo bu guru Gia, tulisannya sangat menginspirasi. Mau tanya, apakah ada grup untuk para guru agar bisa mengembangkan ilmunya dan lebih kreatif lagi ??

Leave a Reply

%d bloggers like this: