Menjadi Guru Merdeka Belajar di Sekolah Biasa Saja

Mendengar nama sekolahnya saja aku udah malas membayangkan ada di dalamnya. Apalagi menjadi guru di sana, nggak pernah terpikirkan sama sekali. Sebuah sekolah yang dianggap sekolah buangan. Sekolah yang muridnya merupakan buangan dari sekolah lain yang tidak menerimanya.  Namanya SMA 1 Sragi, sekolah negeri yang terletak di pinggiran Kabupaten Pekalongan, 17 Km menuju Kota Pekalongan.

Tapi apa dikata, waktu lulus kuliah hanya sekolah itu yang membuka lowongan pekerjaan guru Bahasa dan Sastra Indonesia.

“Coba daftar di sana ya!” pinta bapakku.

“Tapi kan SMA Sragi Pak..” jawabku

Hampir seminggu aku mengurungkan diri dan memikirkan ajakan bapakku untuk mendaftar menjadi guru di sana. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, aku pun mendaftarkan diri di sana. Dan mungkin sudah jalannya, aku diterima di sekolah itu menjadi guru.

Mau seneng karena keterima sebagai guru, tapi ngajarnya di sekolah yang nggak favorit. Bakal ketemu murid-murid yang “bermasalah”. Ditambah soal fasilitas, pasti ketinggalan jauh sama sekolah-sekolah favorit. Aku bakalan susah menjadi guru kreatif.

Akhirnya aku menjadi guru di sana.

Di awal-awal mengajar memang selalu menyalahkan banyak hal, seperti :

“Ah seandainya ngajar murid-murid kayak sekolah itu, pasti nggak bakal secapek ini.”

“Ah seandainya fasilitasnya lengkap, aku pasti udah ini.. Pasti udah itu..”

“Ah sedandainya di sekolah sana, guru-gurunya pasti bisa diajak berdiskusi..”

Di tahun kedua kemudian saya mulai berefleksi, bagaimana agar aku bisa mengajar dengan baik tanpa menyalahkan faktor-faktor lain? Aku mulai belajar, mengamati murid.

Lalu yang aku lakukan adalah menggali tentang siapa yang saya ajar saat ini, dengan melakukan proyek berbicara

Kemudian membuat formulir identitas diri yang bisa di isi murid. Saya baca satu per satu bagaimana murid saya, ternyata memang dari latar belakang yang berbeda, ada seorang murid yang hanya tinggal dengan neneknya di rumah, murid yang setelah pulang sekolah bekerja sebagai pembuat batu bata, murid yang bekerja sebagai pencuci piring, murid yang orangtuanya cerai, dsb. Selain itu, banyak murid yang memiliki kebergaman kesukaan, dari yang suka nyanyi, main handphone, mengaji, menggambar, balap motor, mekanik, dsb.

“Aku harus buat sesuatu yang membuat apa yang mereka miliki bisa berkembang.”

Akhirnya aku mulai merancang pembelajaran dengan memperhatikkan hasil observasi yang aku lakukan untuk mengakomodir murid-murid tersebut.

Aku membuat pembelajaran gurindam menjadi panggung rap murid.

Aku membuat pembelajaran pantun seperti layaknya Indonesian Idol dengan memanfaatkan diksi-diksi hal-hal yang ada di sekitar murid.

Aku mengajak membuat video reportase tentang apapun yang ada di sekitar mereka.

Aku mengajak murid membuat video reka ulang adegan perjuangan seseorang yang ada di sekitar mereka.

Aku mengajak murid membuat penelitian/karya yang bisa membantu diri mereka/lingkungan mereka.

Walau SMA Sragi tidak banyak memiliki fasilitas untuk melaksanakan itu semua, yang aku lakukan adalah memanfaatkan fasilitas yang ada.

“Menggunakan laptopku untuk mengganti ketidakadaan proyektor”

“Menggunakan handphone untuk mengganti ketidakadaan kamera dan perekam suara”

“Menggunakan alat-alat sekitar untuk mengganti ketiadaan alat musik”

Akhirnya dari mendobrak keterbatasan itu, lahir banyak karya dari murid-murid dari sekolah yang katanya buangan itu.

Karya-karya murid SMA 1 Sragi bisa dilihat di akun Ngeselin Cinema

Bagus Satria:

Saya rasa waktu membaca sudah cukup. Diskusi kali ini saya buka 2 termin ya… setiap termin saya tunjuk 2 penanya. Bila ingin bertanya, tolong sebut nama.

Lilik Nur Indah

Apa yang membuat Pak Rizky akhirnya berefleksi? Ada hal apa hingga Pak Rizky terdorong berefleksi hingga bisa menemukan mekanisme belajar yang memanusiakan murid? 

Rizky Rahmat Hani

Pertayaanya bagus! Hal yang belum saya tulis di atas. Pertama melihat murid yang belajar di sekolah. Aku melihat sekolah sekadar untuk formalitas dapat ijazah. Datang tepat waktu, belajar, dapat nilai, pulang. Namun apa yang dipelajari tidak bisa bantu murid. Aku sedih melihat murid seperti tidak tau tujuan apa yang mereka ingin dapatkan dari sekolah. Sekadar ikut orangtua?Sekadar ingin dapat rangking 1, 2 dapat piala? Kalau belajar membuat mereka senang, pasti nggak perlu ditakut-takuti dulu dengan hukuman. Kalau mereka benar-benar mau belajar, tidak perlu diming-imingi peringkat, hadiah dulu. Itulah yang buat saya refleksi. Kemudian mencoba menghubungkan dengan apa yang disuka murid untuk mejadi jembatan mereka belajar.

Fauzan Fajar

Bagaimana Pak Rizky mengajak murid membuat suatu karya? Dan bagaimana bapak mengakomodir murid-murid menjadi tertarik dengan bapak? 

Rizky Rahmat Hani 

Kuncinya,  Jangan memaksa. Saya percaya tiap murid itu unik dan punya peran. Dan yakinkan bahwa setiap peran itu unik. Observasi yang saya lakukan membantu mengetaui peran-peran itu. Saya tahu ada yang suka dance, fotografi, mengaji, suka nulis, suka akting. Dari situ saya mulai berpikir. Bagaimana agar bakat-bakat itu tersalurkan dengan mengakomodir semua.  Jadi bukan kebalikan. Kita punya ide apa, lalu mengajak murid. “Bukan Mau Guru, Tapi Mau Murid” Sayangnya kadang kita kebanyakan gitu. Pengen ini pengen itu, tapi tidak tau sebenarnya apa yang kita (guru) pengen itu, beneran murid pengen tidak?

Diah Nurtiara

Apakah selama ini ada tekanan sosial terkait keputusan Bapak yang tidak bekerja di sekolah favorit, baik dari segi prestise maupun gaji yang tidak seberapa? Bagaimana bapak menyikapinya?

Rizky Rahmat Hani 

Ada Bu. Dari teman satu sekolah yang nggak suka lihat saya bikin ini itu. Dari keluarga juga, yang katanya gajinya dikit tapi malah sibuk banget bikin ini itu. Karena menjalaninya dengan senang, malah itu semua membuahkan hasil.Mungkin gaji nggak tinggi. Namun di belakang itu ternyata banyak yang didapat. Bisa masuk Metro TV, Net Tv, jadi pembicara di beberapa pelatihan. Bisa mengembangkan karir jadi guru pelatih, guru videografer.

Umi Azizah

Kalau untuk anak sekolah dasar yang punya kelebihan hiperaktif bagaimana cara mengaturnya? Karena seringkali mengganggu aktivitas teman lainnya.

Rizky Rahmat Hani 

Wah ini murid saya banget.Masak pas saya ngajar di kelas ada yang lari. Ada yang main meja. Pokoknya tidak bisa diam. Seperti tadi diawal, akomodir itu semua mejadi aktivitas pembelajaran.Aku pernah bikin kelas Jelajah Sekolah buat belajar Karya Ilmiah. Murid jadi bisa jalan-jalan sambil belajar.

Dwi Rudi

Seringkali guru-guru di sekolah tidak favorit ogah-ogahan dan  malas berkreasi. Bagaimana supaya kita istiqomah di jalan mengajar yang benar?Bagaimanakah tanggapan dari guru-guru lainnya?

Rizky Rahmat Hani 

Setuju Pak. Untung saya ikut Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Saat lagi down, malas. Ikut temu pendidik di KGB serasa di-charge. Muncul semangat baru. Sering juga kok saya down, beruntung banyak yang menguatkan di KGB.

Heny Alfiana

Selama menjalankan tugas yang penuh dengan tantangan, tentu ada kendala dan kegagalan. Bagaimana bapak mengatasi hal ini?

Rizky Rahmat Hani 

Banyak banget ketika bikin A, bikin B gagal Bu.Saya selalu refleksi.“Sudahkah yang saya buat memenuhi kebutuhan belajar murid?”. “Apa jangan-jangan yang saya lakukan hanya senang-senang, tapi nggak bermakna buat murid”. “Apa ya yang perlu saya ubah agar lebih bermakna” Dll. 

Refleksi Diri

V & H:

Boleh tanya lagi kah? Bagaimana menghadapi ABK yang ada di kelas reguler sementara guru-gurunya tidak punya pengalaman mengajar ABK (autistic, komunikasi terbatas, tapi daya ingat cukup kuat)

Rizky Rahmat Hani

Kalau saya pribadi tidak punya pengalaman mengajar ABK Bu. Tapi yang saya tahu, bisa mulai observasi tentang disabilitasnya seperti apa, lalu sesuaikan apa yang akan kita ajarkan dengan kebutuhan belajarnya.

Eka Ningsih Ayuning:

Karna masih sangat muda dan kreatif dan benar-benar menginspirasi saya panggil mas tak apa kan Bapk @Rizqyrahmat? Pertanyaan saya. Bagaimana solusinya jika yang dilakukan anak-anak itu adalah matematika?

Rizky Rahmat Hani:

Kalau saya kuncinya gini. Pahami murid yag kita ajar (dengan observasi, obrolan, dll). Pahami kebutuhan belajarnya. Apa sih masalah dia ketika nerima materi tertentu. Cari cara yang dihubungkan dengan observasi di awal. 

Saya contohkan
1. Saat observasi saya menemui murid yang suka banget ngerap.
2. Di kelas dia suka nyanyi nggak jelas gitu (kalau guru lain mengangpnya malas dan menyalahi aturan)
3. Ada pembelajaran gurindam.
4. Banyak murd yang malas belajar gurindam karena tidak menarik.
5. Saya hubungkan kesukaan murid dengan peljaaran yang ia akan terima.
Jadilah kelas jadi Panggung Rap Gurindam

Eka Ningsih Ayuning:

Terima kasih mas,  saya coba. Mas @Rizqyrahmat punya trik pedoman wawancara garis besarnya jika bersama siswa? Maaf

Rizky Rahmat Hani:

>Tidak punya Bu. Saya biasanya ngobrol mengalir saja. Tanpa ada pedoman. Oh iya, cara ini juga bisa digunakan. https://youtu.be/7y2nbBW_jsk

Achmad Farizzen:

Pak Rizky, bagi tips super agar menjadi guru yang dirindukan murid. Saya terinspirasi dari video perpisahan bapak di SMA Sragi yang secara cermat memberi saran konstruktif kepada masing-masing siswa?

Rizky Rahmat Hani:

Masuk dunia mereka Pak. Ada murid yang suka Endank Soekamti. Saya coba mempelajari Endank Soekamti. Buat obrolan Endank Soekamti ke anak itu. Dia merasa diperhatikan.

Nugroho Awwal Santoso:

Alhamdulillah. Ini dia. Makasih, Pak. Saya sekarang tau apa yang saya harus lakukan berikutnya. Insyaa Allah akan saya terapkan di metode berikutnya. Karena saya 1 tahun kemarin sedang mengajar di sekolah yg penuh keterbatasan, baik dari manajamen yayasan sampai latar belakang murid dan orang tua yang kurang tanggap dalam hal pendidikan. Saya hanya melakukan pendekatan secara umum, hanya menjadi orang yang menyenangkan bagi mereka tanpa detail melakukan observasi dan pendekatan secara individu. Dan hasilnya saya hanya bisa merangkul 2 tingkat saja, kelas 12 dan 11, itu pun tidak 100% saya dapat akomodir. apalagi di kelas 10, gagal total. Saya hanya bisa mengajak anak kelas 12 membuat produk terbaik mereka untuk kelulusan di Uji Kompetensi (siswa SMK). karena mereka sudah 2 tahun tidak dapat materi kejuruan dr guru sebelum saya, akhirnya saya harus mengejar materi selama 1 semester saja. Tapi setelah malam ini khususnya setelah membaca poin ini, saya jadi tahu dengan cara apa saya melakikan observasi dan pendekatan. Terimakasih, Pak.

Moderator kemudian mengajak peserta menulis refleksi dan kutipan

Kalau Anda?
Apa yang dirasakan setelah membaca liputan ini?
yuk tulis dikomentar

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: