Tantangan Kepemimpinan pada Perjalanan Tahun Kelima

Penulis : bukik | 20 Aug, 2020 | Kategori: Catatan Guru Belajar, Refleksi Guru Belajar

Kepemimpinan adalah jalan terjal yang seringkali harus dijalani sendiri. Sungguh beruntung pemimpin yang berada pada tim yang mau memberi kesempatan pada pemimpinnya untuk belajar.

Tidak terasa pada tahun 2020 ini, saya memasuki tahun kelima di Kampus Guru Cikal. Lima tahun penuh tantangan bermakna, yang terus meningkat setiap tahunnya. Meski sempat melirik ke sana ke mari, tapi pada akhirnya sadar bahwa mencari organisasi kerja yang sempurna adalah usaha yang sia-sia. Saya memilih organisasi kerja yang mau belajar 🙂

Berawal dari manajer pengembangan, pada tahun kelima, saya dipercaya menjadi Ketua Yayasan Guru Belajar. Ada yang menganggap lambat tapi bagi saya ritmenya pas dan tanjakannya tidak terlalu curam tapi juga tidak terlalu datar. Tahun ini, saya mendapat target membangun kemandirian yayasan.

Pada awal tahun 2020, kami mempunyai sejumlah rencana pengembangan. Kampus Guru Cikal pun merekrut tim baru. Prosesnya tidak singkat untuk menemukan orang yang sejiwa. Singkat cerita, akhirnya kami menemukan “orang-orang” gila yang sukaria melakukan sejumlah kegilaan.

Di tengah kesibukan mengembangkan tim baru, datang pandemi COVID-19. Tantangan menjadi berlipat ganda. Sejumlah proyek ditunda. Kerja keras memberikan dukungan pada guru di seluruh nusantara melakukan pembelajaran jarak jauh melalui #SekolahLawanCorona. Sambil membangun tim baru melalui interaksi daring.

Kantor kami menerapkan Bekerja dari Rumah sejak awal Maret. Orang-orang baru bergabung dengan tim kami. Tanpa pernah tatap muka sekali pun, mereka langsung diajak ngebut kerja. Relasi rapuh, kecepatan dan tekanan kerja tinggi dengan pola kerja yang random. Hanya berkat visi yang mendasari niat awal bergabung yaitu untuk melakukan perubahan pendidikan, maka tim kami selamat 🙂

Bagaimana merawat visi agar tim selamat melalui krisis? Nanti pada suatu saat saya bagikan di Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar. Sekarang bergabung dulu saja 🙂

Jakarta mengumumkan transisi PSBB pada pertengahan Juni. Saya pun meminta pada tim yang tersebar di 5 daerah untuk kembali ke Jakarta. Meski kantor pusat sudah menerapkan bekerja dari kantor secara bergiliran, kami tetap menjalankan Bekerja dari Rumah, dengan sejumlah pertimbangan.

Tekanan mulai terkelola, tim mulai memahami pola. Tapi ada kebutuhan untuk membangun keutuhan tim. Ada sejumlah perbedaan persepsi dan distrosi informasi karena perbedaan preferensi personal. Karena itu, Kampus Guru Cikal mengadakan kegiatan bersama, Kumpul Bareng. Tentu dengan menjalankan protokol COVID19. Wajib masker. Pertemuan di ruang dengan ventilasi besar-besar. Dan boleh tidak hadir bila ada keraguan atau kondisi tidak memungkinkan.

Awalnya kegiatan akan diadakan di kantor sebelah, tapi melihat kondisi tidak memungkinkan, kami memilih lokasi yang lebih kondusif. Sedikit ke selatan dari Jakarta Selatan. Sebuah rumah inap (home stay) dengan ruang terbuka yang luas di tengahnya.

Pada kegiatan serupa dua tahun yang lalu (iya, acara ini harusnya diadakan akhir tahun 2019), saya terlibat penuh merancang alur kegiatannya. Baca di Beda Tapi Memilih Jalan yang Sama. Pada kegiatan Kumpul Bareng tahun ini, saya mengurangi peran dalam merancang alur kegiatan. Kegiatan dirancang oleh dua ketua kegiatan, Rizqy Rahmat Hani dan Ari Wibowo. Saya lebih banyak memposisikan diri sebagai peserta kegiatan 🙂

Kegiatannya seru! Banyak percakapan bermakna yang terjadi karena sejumlah aktivitas yang santai. Motret-motret, Nyanyi-nyanyi, Senam-senam, Drama-drama, Ngobrol-ngobrol, Bakar-Bakar, Tantangan Terbuka sampai merefleksikan kepemimpinan saya. Sesi terakhir yang akan jadi fokus cerita selanjutnya 🙂

Kegiatan lebih lengkapnya bisa baca di Instagram.

Setelah ngobrol acak, terbentuk 4 kelompok peserta yang mempunyai kesamaan tokoh yang menggambarkan pola kepemimpinan saya. Sosoknya random sekali. Ada yang berasal dari sosok yang dikenal, dari cerita fiksi kekinian hingga cerita pewayangan.

Kita mulai dari yang sederhana. Sosok Pak Nurhidayat, seorang pemimpin di tempat kerja salah seorang anggota tim, yang dianggap menggambarkan sosol pemimpin ideal. Alasannya, beliau pandai menggunakan strategi, memanusiakan hubungan dengan timnya, melakukan refleksi untuk mendapatkan umpan balik hingga memberi ruang diskusi yang intens sehingga seluruh tim memahami konsep yang dikerjakan.

Sosok kedua adalah Genta, tokoh dalam buku dan film 5cm. Genta digambarkan sebagai pemimpin yang penuh kejutan, tangguh, berani dan pintar mengatur strategi. Meski dalam situasi yang sulit, Genta tetap memberikan dorongan pada timnya untuk terus maju dan tidak pernah ragu mengambil keputusan.

Sosok ketiga adalah kombinasi antara Albus Dumbledore dengan Tom Marvolo Riddle atau yang lebih dikenal sebagai Lord Voldemort. Sebenarnya ketika presentasi, tim yang mengajukan usulan ini agak ragu menyebut Voldemort tapi setelah bercerita panjang lebar, sosok awal hanya Dumbledore akhirnya meluas ke Voldemort.

Mengapa Voldemort? Karena kemampuannya dalam merancang strategi yang rumit…….dan menakutkan :D. Sosok Dumbledore digunakan untuk menjelaskan kemampuan menjadi seorang guru yang tahu potensi muridnya, percaya pada murid serta memberi kesempatan pada muridnya untuk tampil. Di akhir saya menimpali, Dumbledore terlalu bijak buat menggambarkan diri saya, Voldemort sepertinya lebih cocok 🙂

Sosok terakhir adalah sosok yang paling kompleks, Resi Bisma. Tim yang memilih sosok Bisma bercerita tentang kisah pewayangan yang menjadi latar belakang kiprah Bisma. Cerita yang panjang kali lebar. Mengapa Bisma? Bisma digambarkan sebagai sosok yang berani, pandai berstrategi dan komitmen pada tujuan.

Sosok yang ditampilkan bukan sebagai sosok sempurna, sosok yang menggambarkan sisi kelebihan dan kelemahannya. Setelah selesai presentasi, kami berdiskusi mengenai kelebihan dan kelemahan kepemimpinan saya. Apa yang sudah baik dan apa yang perlu diperbaiki. Saya mendapatkan informasi yang diluar dugaan, informasi yang memperluas pemahaman saya tentang diri sendiri. Jadi berguman “Oh ternyata tindakan saya dipersepsikan seperti itu”.

Pak Nur menggambarkan kebutuhan saya untuk lebih banyak membuka kesempatan berdiskusi dengan tim untuk memastikan kesamaan pemahaman. Genta menggambarkan kebutuhan saya untuk mengelola lebih dari satu tim secara sinergis. Dumbledore dan Bisma menggambarkan kebutuhan saya untuk lebih tenang dalam menghadapi beragam tantangan.

Saya jadi ingat salah satu sesi pada program Obrolan LIVE! Pemimpin Merdeka Belajar yang membahas tentang Tantangan Kepemimpinan. Seringkali pemimpin terputus dari realitas karena orang-orang disekelilingnya tidak menyampaikan komunikasi apa adanya. Informasi dikemas sedemikian rupa agar menyenangkan pemimpin. Tantangan yang membuat pemimpin kesulitan melakukan pengembangan diri dan mengambil keputusan yang efektif.

Tidak heran bila langkah pertama yang penting dilakukan seorang pemimpin adalah mengenali diri berdasarkan penilaian diri sendiri maupun menyimak umpan balik dari orang lain. Terlihat mudah tapi sebenarnya setiap pemimpin butuh usaha dan belajar keras untuk melakukannya. Untungnya sekarang sudah ada program belajar Mengenali Diri Pemimpin Merdeka Belajar yang bisa membantu para pemimpin menjadi lebih sadar terhadap potensi kepemimpinannya.

Saya beruntung berada dalam tim yang bukan hanya mempunyai kemauan belajar tapi juga mau membantu pemimpinnya untuk belajar.

Bagaimana kepemimpinan di sekolah atau tempat kerja Anda? Apakah sudah menjadi pemimpin merdeka belajar?

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: