Tiga pelajaran dari Nusantarun untuk Komunitas Guru Belajar

Penulis : bukik | 8 Jan, 2019 | Kategori: Catatan Guru Belajar, Refleksi Guru Belajar

Mengubah hobi menjadi kontribusi adalah pelajaran terpenting yang saya dapatkan dari Nusantarun. Bagaimana ceritanya? 

Nusantarun sebenarnya sudah tidak asing lagi. Saya mengenalnya sejak 2 tahun yang lalu dalam kerjasama program pengembangan guru sekolah inklusi SMP Permata Hati Purwokerto, bagian dari program donasi Nusantarun ke-4. Meski begitu, saya sendiri lebih banyak berkutat dalam pengelolaan program sehingga tidak banyak berinteraksi dengan tim Nusantarun. 

Tahun 2018 ini berbeda, saya selaku Ketua Kampus Guru Cikal berinteraksi lebih intens dengan tim Nusantarun untuk mengembangkan program pengembangan murid disabilitas. Interaksi mulai pertemuan, siaran langsung hingga pada awal Desember 2018 yang lalu, saya hadir bersama tim Kampus Guru Cikal dalam kegiatan inti, berlari 169 km dari Wonosobo menuju Gunung Kidul. Nusantarun tahun ingin memasang target menggalang donasi sebesar 2,5 milyar untuk membiayai pengembangan murid disabilitas di Jawa Tengah dan Yogya. Dan luar biasa, target tersebut tercapai berkat perjuangan para pelari melakukan penggalangan dana. Informasi penggalangan dana Nusantarun bisa dilihat di halaman KitaBisa.com.

Tim Kampus Guru Cikal bersama Komunitas Guru Belajar dan murid-murid penyandang disabilitas hadir pada titik pemberangkatan, titik tengah dan titik akhir. Kami sampai di titik pemberangkatan di Wonosobo pada Kamis malam dengan mengendarai kereta sampai di Pekalongan dan dilanjutkan dengan mobil. Seusai pemberangkatan pelari, kami masih menginap di Wonosobo. Sabtu pagi meluncur ke titik tengah untuk ikut pada penerimaan dan pelepasan pelari pada titik tengah. Sabtu sore meluncur ke Gunung Kidul untuk menyambut pelari di titik akhir di Pantai Sepanjang. 

Tiga hari petualangan seru bersama tim Nusatarun, para pelari, panitia, dari relawan dari berbagai komunitas. Capek pastinya, tidak terbayanng capeknya pelari, panitia dan relawan yang menyusuri sepanjang perjalanan. Senang pastinya, bisa terlibat bukan sekedar kegiatan lari, tapi kegiatan pendidikan. Tapi lebih dari itu semua, saya belajar banyak hal dari keseluruhan kegiatan Nusantarun. 

  1. Memahami kebutuhan dan aspirasi komunitas. Setiap komunitas tentu punya kebutuhan dan aspirasinya sendiri. Setiap kegiatan tentu harus berpihak pada kebutuhan dan aspirasi dari komunitas yang mengikuti kegiatan tersebut. Dari kegiatan Nusantarun, saya belajar menyiapkan kegiatan yang bisa memenuhi kebutuhan dan aspirasi komunitas guru. Bukan sekedar diangankan atau kebutuhan yang bersifat umum, tapi ditulis secara rinci. Bukan sekedar menyiapkan, tapi juga menata alur penggunaannya secara sistematis. Semuanya akan berujung pada pengalaman pengguna yang memuaskan.
  2. Melibatkan pemangku kepentingan dalam kegiatan berlari. Sama sekali tidak menduga, ternyata banyak sekali pemangku kepentingan yang terlibat dalam kegiatan Nusantarun. Ada banyak peran yang disediakan untuk para pemangku kepentingan. Siapa saja pemangku kepentingan? Ada komunitas, perusahaan, dan lembaga lokal. Kuncinya pada memberi peran yang tepat pada pemangku kepentingan. Saya membayangkan bahwa panitia tidak menyiapkan penawaran standar yang berlaku umum. Penawaran selalu mengacu pada kekuatan dari pemangku kepentingan. 
  3. Mengubah hobi menjadi berkontribusi. Ini pelajaran paling penting. Nusantarun berangkat dari sekelompok pelari yang peduli pada pendidikan. Mereka berpikir bagaimana dari hobi berlari bisa menjadi kontribusi terhadap pendidikan. Lahirlah format lari Nusantarun yang menggabungkan berlari dengan kontribusi. Para pelari memasang target donasi untuk dipenuhi sebagai syarat mengikuti Nusantarun. Bayangkan, mereka menggalang donasi untuk bisa berlari 169 Km. Luar biasa! Dan Nusantarun berhasil mengubah kegiatan berlari menjadi kegiatan berkontribusi. Dari hobi menjadi kontribusi.

Itulah 3 pelajaran yang saya dapatkan dari Nusantarun. Dalam konteks pekerjaan, harapannya pelajaran tersebut bisa digunakan oleh Komunitas Guru Belajar dalam menyelenggarakan konferensi tahunan, Temu Pendidik Nusantara 2019. Dalam konteks personal, jadi tantangan buat saya bagaimana mengubah hobi bisa menjadi kontribusi terhadap pendidikan. Terima kasih Nusantarun untuk pelajarannya.

Bagaimana hobi Anda bisa diubah menjadi kontribusi terhadap pendidikan?

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: