Tingkatkan Budaya Literasi dengan Masak Bareng

Penulis : Indri Fatmawati | 9 Apr, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Daerah


Kaum milenial nggak akan jauh dengan namanya gadget,  barang super penting dalam kehidupan mereka. Bicara tentang literasi,  sekarang tak akan mudah jika hanya disajikan dalam keadaan mentah seperti baca buku,  tulis menulis atau diskusi, namun tampaknya terobosan melalui literasi ketrampilan dalam hal ini keterampilan memasak perlu diuji coba dalam sajian menu baru untuk literasi generasi kita, terlebih salah satu hobi yang sedang diminati remaja yang kekinian adalah membahas tentang kuliner.

Perlu ide segar,  kreativitas tanpa batas dan konsistensi dalam hal itu,  mengingat akan goal dari kegiatan ini adalah menghasilkan anak muda yang literat, peka terhadap hal sederhana dan akhirnya menjadikan mindset lebih berkembang.

Melalui ketrampilan memasak, akan menjadikan pengalaman literasi yang berkesan bukan??  

Naah gimana dan apa ya hubungannya memasak dgn literasi?

Pada Temu Pendidik Daerah secara daring di whatsapp grup Komunitas Guru Belajar Wonogiri yang dilakukan pada hari Rabu tanggal 27 Maret 2019 membahas tentang “Tingkatkan Budaya Literasi dengan Masak Bareng”. Pada diskusi ini, materi dan pengalaman akan dibagikan oleh Heni Surya yang merupakan Founder TaBAH (Taman Belajar Anak Hebat) dan juga merupakan salah satu Penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya. Beliau adalah pengelola Taman Belajar Anak Hebat. Taman yang difasilitator i oleh para penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya ini lebih memberikan tempat yang nyaman untuk para anak – anak mengerjakan tugas sekolahnya.

Lanjut tentang “Apa hubungan literasi dengan memasak”, pada diskusi lalu dibahas tentang bagaimana memulai budaya literasi melalui dapur?

Pernah dengar acara masak bareng Chef di daerahmu?

Seorang Chef datang dan membacakan resep, peserta mencatat. Sebelum memasak diskusi ringan hal kadar gizi dan manfaat masakan yang akan dibuat. Kemudian praktek bersama. Hingga akhirnya peserta melakukan hal yang sama di rumah atau tempat lain.

Urutan seperti ini literasi, bukan?

Menggunakan moment memasak untuk meningkatkan literasi anak adalah sangat efektif. Sebab kegiatan memasak adalah kegiatan kita sehari-hari. Mengajak anak melakukan literasi dasar yakni kemampuan dasar dalam membaca, menulis mendengarkan dan berhitung.

Melalui memasak anak diminta aktif membaca resep menu di awal, mendapat tantangan untuk mempraktekkan di dapur, menggali dan memikirkan lamanya proses memasak spt (menggoreng, merebus dan sejenisnya) serta yang paling penting bisa mengemukakan bagaimana rasa dari masakannya sendiri. Menyampaikan ini enak dan kurang enak. Bahkan membuat anak mencoba ulang untuk mendapatkan hasil masakan yang lebih enak.

Saya pikir kemampuan berliterasi bisa ditingkatkan melalui kuliner, dan memasak pada khususnya. Saat kita sedang lengang, ajak anak mempraktikkan apa itu memasak bersama-sama di rumah. Apa saja manfaatnya bagi peningkatan budaya literasi anak?

Meningkatkan kemampuan berhitung atau matematika. Memasak adalah cara terampuh untuk belajar matematika. Saat memasak tanpa terasa ia harus mengukur takaran makanan dari resep yang ada, misalnya tiga butir telur, 1/2 sendok makan mentega, dan lain-lain. Membangun pemahaman. Meskipun Si Kecil belum bisa membaca, dengan memasak ia dapat membangun pemahaman tentang konsep step by step. Mulai dari langkah pertama misalnya mengupas bahan makanan, lalu memotong, memberi bumbu hingga dimasak sampai matang.

Dari segi sains, bisa belajar sains. Memasak adalah bagian dari percobaan sains. Terlalu banyak garam atau baking soda dan terlalu sedikit tepung dapat menyebabkan adonan menjadi gagal. Hal ini sama saja dengan belajar sains. Selain itu, memasak dapat melatih percaya diri. Dapat menghasilkan suatu karya termasuk masakan dapat meningkatkan percaya diri anak. Agar lebih maksimal, beri label pada hasil masakannya dengan menggunakan nama Si Anak, misalkan Ayam Geprek meleleh ala chef Luna, atau puding roti manis syakira. Selanjutnya, manfaat memasak bagi peningkatan budaya literasi anak adalah membangun keahlian berkomunikasi. Atmosfer santai di dapur atau kelas memasak dapat membuat Anak lebih relaks untuk berbicara tentang apapun. Momen ini dapat dimanfaatkan orangtua untuk berbicara dari hati ke hati dengan anak. Nah, jika ia ikut serta dalam kelas memasak, ia bisa bersosialisasi dengan teman sebaya, Life skill.

Dalam diskusi kali ini, ada 2 sesi diskusi, sesi pertama, dibuka dengan tiga penanya:

Pertama, Muhammad Gangga dari Palembang : Untuk memasak, jika salah memasak atau hasil kurang memuaskan otomatis kita kecewa karena beberapa aspek salah satu nya biaya atau bahan yang dikeluarkan terlalu banyak atau besar. Bagaimana mengatasi itu ?

Jawab: Kita bahas soal literasi melalui metode memasak ya. Bersama anak sepakati dulu dari awal. Mengenai kemungkinan berhasil dan tidak saat memasak. Sehingga akan meminimalisir perasaan kecewa, atau bahkan akan berganti antusias untuk menggali lebih jauh kenapa bisa gagal dan kenapa bisa tidak enak. Perihal rugi biaya ini akan tertutup dengan semangat anak berliterasi tadi. Saya ada tips untuk mengatasi gagal dalam memasak bersama anak, jika kita membaca satu resep. Maka kita bisa praktekkan memasak separuh resep dulu. Misalnya membuat brownies, jika resep menggunakan 8 telur kita coba 4 dulu.

Penanya kedua Wuri Handayani dari Sragen: Saya sering membawa alat memasak seperti termos, wajan, susruk penggorengan, untuk menerangkan perbedaan isolator dan konduktor, apa ini termasuk literasi memasak? Kadang juga mencontohkan mencelupkan sendok ke air panas untuk konduksi, dan praktek merebus air untuk konveksi (aliran panas).

Jawab:Senang sekali jika semua ibu bs melakukan ini disela memasak. Sambil memasak sambil belajar tentunya.. Terima kasih sudah menginspirasi. Saya kira ini literasi, seperti yang saya sampaikan di atas. Bahwa memasak bagian dari percobaan sains, jika SD ada IPA, jenjang lebih tinggi ada fisika nya. Jadi tidak akan rugi memasak bersama anak. Karena Literasi dalam hal ini adalah proses pembelajaran hidup. Anak akan mengetahui sebab dan akibat dari suatu peristiwa, pun dalam hal merebus dan menggunakan api”

Penanya ketiga Indri Fatma dari Sragen: Memasak untuk meningkatkan budaya literasi ini kira – kira bisa diterapkan kepada anak – anak mulai usia berapa?

Jawab:” Saya mengajarkan memasak pada keponakan saya di usia 1,5 tahun. Ketika dia bisa  bicara dan berjalan. Saat saya merebus air untuk membuat susu dia. Saat itu dia teriak api. Dan saya menjawab, iya ini api, untuk merebus air supaya panas dan buat susu kakak. Kejadian berulang seperti ini dirumah terus menerus dia ingat dan dia pahami bahwa api bisa untuk merebus air untuk membuat susu. Saat ada api atau kompor dimanapun dia melihat dia akan otomatis berkata, api – panas – untuk – masak air – bikin susu. Ketika anak mencoba mencari tahu, disitulah peluang untuk mensisipkan literasi sejak dini. Termasuk dalam momen memasak. Memasak bersama anak itu kaya manfaat seperti yang saya utarakan di atas dan yg paling penting sebagai bonding time. Memasak sama seperti belajar membaca atau belajar mengemudi. Kelak saat mereka tumbuh, ia akan bertanggung jawab melakukan hal – hal tersebut. Dengan belajar memasak sejak kecil, ia akan terlatih memberi makan orang lain yakni keluarganya kelak.

Sesi kedua, dibuka dengan 2 penanya:

Penanya pertama, Nasrudin Solo: Apa sih manfaat / dampak dari literasi khususnya literasi masak dari sudut kesehatan?

Jawab: Bicara sudut kesehatan saya belum bisa jawab ya. Kita bisa cek kadar gizi dari beberapa bahan makanan yang kita pakai dulu. Dengan ini anak juga paham kalau dalam lombok ada kandungan Vit C-nya, dan akibat kebanyakan lombok di seblak bisa mengakibatkan apa. Sedang manfaat literasi memasak sudah saya haturkan diatas”.

Penanya kedua, Wafi dari Lamongan: Berapa lama durasi waktu utk mempraktikkan metode literasi melalui keg memasak ini Bu? Dan bagaimana cara memotivasi anak remaja agar suka memasak?  “

Jawab:” Mengenai durasi disesuaikan dengan tema masakan yang akan kita bahas dengan anak. Kita bisa pakai durasi 3 jam untuk mengolah ayam betutu. Atau cukup 1 jam untuk bikin brownies kukus. Soal motivasi anak remaja agar suka memasak. Kita harus tahu minat dan menu masakan anak remaja kita saat ini. Seperti contohny anak remaja saya sedang menyukai seblak dan thai tea. Suatu hari kami janjian buat isi waktu libur berdua dan sepakat buat bikin itu. Remaja ku menuju hari itu sudah sibuk mencari referensi beberapa menu seblak dan thai tea. Berulang kali menunjukkan ke saya enak ini bu, atau ini, atau bikin ini. Literasi digital sudah dikerjakan bukan? Jadi pahami kebutuhan menu anak remaja jaman sekarang, masukkan dalam diskusi dan sepakati waktu eksekusi bersama”

Clossing statement dari pemateri:

Sebetulnya metode apapun yang kita gunakan termasuk memasak adalah salah satu cara kita sebagai pendidik untuk merangsang anak untuk menyukai budaya literasi. Maraknya miskonsepsi literasi membuat kita perlu berinovasi metode apa yang akan diminati anak. Harapannya melalui berbagai literasi akan menghadirkan generasi yang peka terhadap lingkungan dan selalu produktif. Belajar memasak adalah kegiatan menyenangkan dan super seru. Belajar memasak dapat menjadi momen tak terlupakan baginya. Apalagi jika ia memasak dengan Anda, kenangan indah itu akan terus ia bawa hingga dewasa nanti. Yuk masukkan agenda memasak bersama anak!

(fatmawati)

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: