Tips Bagi Orang Tua Menghadapi Anak yang Kecanduan Gawai

Penulis : Agus Riyanto | 19 Jul, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Solo Raya, Temu Pendidik Daerah

Banyak orang tua saat ini yang mengeluhkan bahwa putranya malas
belajar, kehilangan fokus saat belajar, atau menghabiskan waktu
berjam-jam untuk bermain gawai. Mungkin sahabat ria ada juga mengalami hal demikian?

Guru Agus Riyanto dan Guru Arga dari KGB Solo Raya membahas ini dalam KGB On Air – Ria FM Solo

Apa hal pertama yang kita lakukan saat mendapati beberapa hal
seperti contoh di atas? Memarahi putra kita? Atau bahkan menyita
gawai mereka? Atau mengancam akan dilaporkan guru di sekolah
atau dengan perlakuan-perlakuan lain? Walau itu semua menjadi hak penuh kita selaku orang tua, tapi coba kita renungkan dulu deh, benar ngga cara-cara kekerasan seperti itu dapat menjadi solusi bagi putra kita? Kalaupun iya, benarkah bahwa besok kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi? Apakah kita harus marah-marah terus? Bukankah kelihatan konyol jika demikian adanya?!

Sebagai orang tua, kita harus memaknai betul bahwa putra/i kita adalah amanah yang tak ternilai harganya. Sudah selayaknya kita memperlakukan mereka dengan penuh tanggung jawab. Orang tua harus menyadari betapa pokoknya peran kita dalam tumbuh kembang mereka. Tantangan kita dalam mendidik putra/i kita semakin hari terasa semakin berat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan kita dilema. Perkembangan ini mustahil kita hindari, tapi juga jangan sampai memberangus peranan kita dalam mendidik putra/i kita terutama pada pewarisan nilai-nilai luhur kehidupan dan pewarisan norma yang berlaku di masyarakat.

Teknologi adalah Musuh?

Melihat perkembangan teknologi dan informasi saat ini yang sangat dinamis, apa sajakah hal-hal yang berpotensi menjadi musuh anak kita dalam tumbuh kembangnya?

Setidaknya ada 4 hal yang berpotensi menjadi musuh bagi tumbuh kembang putra/i kita. Keempat hal tersebut yaitu: Gawai, Televisi, Pasar, dan Kendaraan Bermotor. Saya katakan berpotensi karena memang saat ini setidaknya mungkin kita menyesal telah membelikan gawai putra/i kita, atau membeli televisi yang menjadikan putra/i kita lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya untuk gawai dan televisi.

Kemudian untuk pasar, tempat ini sebenarnya bukan tempat yang harus
dihindari juga. Hanya kita harus lebih berhati-hati saat mengajak putra/i
kita ke pasar. Tempat berkumpulnya banyak orang dengan berbagai latar
belakang ini tentunya sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang putra/i kita terutama saat mereka dini (belajar berbicara). Betapa banyak
kita mendengar cerita, bahwa seorang anak kecil ketika sepulang dari
pasar mampu mengucapkan kata-kata yang jarang kita ucapkan di rumah.
Paham atau tidak paham, putra/i kita hanya menirukan, karena mereka
memang peniru terbaik. Khusus kendaraan bermotor, saat ini sudah menjadi barang yang wajib dimiliki oleh semua orang. Kendaraan kita gunakan untuk mobilitas/ aktivitas kita sehari-hari. Barang ini berpotensi menjadi musuh anak jika putra/i kita yang mengendarai. Biasanya dialami oleh putra/i kita yang memasuki masa remaja. Sekitar kelas 4 SD mereka biasanya merengek untuk minta diajari atau lebih parah jika justru kita yang mengajari mereka.

Memangku Teknologi

Lalu bagaimana cara menghindari keempat potensi musuh bagi putra/i kita tersebut? Kita tahu bersama bahwa menghindari adalah mustahil. Sebagai orang jawa, tentu kita akrab dengan istilah pangkon. pangkon itu berfungsi untuk mangku semua aksara dalam penulisan jawa. pangkon hanya digunakan di belakang, kecuali sangat terpaksa maka wignyan digunakan di tengah, tapi ini jarang kita temui. Lalu apa kaitannya?

Kaitannya sederhana saja, bahwa segala perkembangan secanggih apapun itu harus kita pangku kita dudukkan agar perkembangan tersebut tetap tunduk pada kendali kita. Potensi menjadi musuh ini tadi juga harus bisa kita pangku agar potensi ini menjadi hilang dan akan hadir kebermanfaatan. Inilah yang kita namakan berkawan dengan musuh. Toh sejatinya teknologi dibuat untuk memudahkan manusia itu sendiri bukan sebagai musuh atau ancaman.

Menyikapi Potensi “Musuh” Anak

Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi 4 potensi musuh bagi anak-anak kita tersebut agar bisa menjadi kawan yang menyenangkan dan tidak mengganggu tumbuh kembang putra/i kita?

  1. Luangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama putra/i kita. Jangan sampai membiarkan mereka lebih intens bersama dengan gawai dan televisi. Luangkan waktu setengah atau satu jam untuk bermain bercengkerama bersama mereka.
  2. Kendalikan dan awasi tumbuh kembang anak kita. Berikan pendampingan saat mereka berinteraksi dengan keempat hal tersebut. Mungkin bisa dengan mengatur berapa lama boleh menggunakan gawai, berapa lama dan kapan boleh menonton televisi, kapan diajak ke pasar, dan bagus juga jika diberi pengertian kapan seseorang boleh mengendarai motor.
  3. Belajar untuk mencari tahu manfaat keempat tersebut dalam tumbuh
    kembang anak kita. Kita bisa memanfaatkan keempatnya sebagai media dan atau sumber belajar yang menyenangkan lho. Misal: Menggunakan gawai untuk belajar mengenal warna, nama binatang, dan lain-lain. Menonton televisi pada saat diputar film anak, dan atau diputarkan film dan lagu anak melalui vcd. Teman-teman di KGB Solo Raya pernah bekerjasama dengan inibudi.org beberapa waktu lalu membuat video pembelajaran.

Pasar bisa dimanfaatkan untuk belajar jual beli, melatih keberanian anak, dan melihat orang-orang sekitar agar kita bisa mengambil hikmah. Kendaraan bermotor mungkin bisa dikenalkan tentang gas buang yang beracun, bahan baku membuat ban, bahan membuat rantai, bentuk ban dan lain-lain.

  1. Ajak putra/i kita berinteraksi dengan tetangga, ajak pergi ke rumah ibadah, dan biarkan mereka berada di dunianya. Dunia mereka sesungguhnya dunia belajar bersosialisasi, menyukai hal-hal baru, dan bermain. Dari interaksi ini akan muncul dengan sendirinya nilai-nilai kehidupan. biarkan mereka asik dengan dunia alamiahnya mereka.
  2. Paling penting yaitu keteladanan kita. Jangan sampai kita membatasi putra/i kita, tetapi pada saat yang sama kita menggunakan terutama gawai dan menonton televisi tanpa mengenal waktu. Mari mencoba untuk selalu menjadi contoh bagi putra/i kita. Kadang mereka seperti ini seperti itu, mungkin karena melihat dan meniru perilaku kita sebagai orang tuanya.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah keniscayaan yang berjalan beriring dengan tumbuh kembang putra/i kita. Tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan bahwa perkembangan iptek tadi dapat bermanfaat bagi tumbuh kembang putra/i kita. Tugas kita adalah merangkul potensi musuh tadi menjadi kawan bagi putra/i kita bukan menghindarinya. Mendampingi tumbuh kembang putra/i kita ibaratnya seperti bermain layang-layang. Layang-layang itu bisa terbang setinggi apapun, bergerak kekanan kekiri sesuai hembusan angin, tapi kita memiliki simpul untuk mengendalikannya. Simpul itu adalah kasih sayang kita.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: