Titik Balik Perubahan

Penulis : Usman Djabbar | 19 Jan, 2021 | Kategori: Merdeka Belajar

Titik Balik

Kembali pada persepsi
Berserah tanpa amarah
Menata langkah dan mimpi
Mengejar matahari
Dapatkan asa dan rasa
Tuhanlah yang berkuasa
Menghapus perih dan luka
Di setiap masalah
Terus bertahan melawan
Kitalah sang juara

Dibanding Virgoun, saya lebih nyaman dengan AbsurdNation. Keduanya berkisah tema yang sama. Tentang titik balik. Dengan alunan Jazz, titik baliknya AbsurdNation, rasanya lebih reflektif. Tentang ini, tak perlu debat panjang. Hanya soal selera. Soal persepsi saja. Saya setuju bahwa refleksi bisa dilakukan dari sudut pandang apapun, dengan gaya apapun. Silakan mendengarkan keduanya.

Catatan ini hasil refleksi saya mengikuti Temu Pendidik Nusantara VII, tahun ini. Sesi ‘Menjadi Pemimpin Merdeka Belajar’. Ditujukan untuk diriku sendiri. Jika bisa menjadi pesan kepada kawan-kawan penggerak perubahan lainnya, anggaplah sebagai bonus. Sebagai catatan refleksi, sangat disarankan dibaca oleh kawan yang pernah dan atau masih diabaikan. Juga kawan yang pernah dan atau masih merasa sendirian atau kawan yang sementara menyusun persekongkolan melawan pengabaian atau kesendirian atau perlawanan atas keduanya. Versi lengkapnya bisa didalami langsung modulnya, klik gambar di bawah ini

Titik Balik Menjadi Pemimpin Merdeka Belajar

Catatan ini hanya fokus pada salah satu tema yakni titik balik perubahan

Apa itu titik balik?

Dalam modul itu dijabarkan bahwa alur perubahan itu mengalami tiga tahapan. Dimulai dari tahap inseminasi, penularan dan penyebaran.

Temu Pendidik Nusantara adalah momentum inseminasi. Benih-benih penggerak biasanya lahir dari momentum ini. Para penggerak mulai menerapkan dan memperagakan praktik baik di sekolahnya masing-masing sesuai kelas yang pernah diikuti atau inovasi yang ingin diterapkan. Praktik tersebut dimodifikasi, menyesuaikan dengan dengan situasi konteks murid dan sekolah masing-masing. Ada yang konsisten melakukan pengembangan, terus bergerak, tapi tidak banyak yang kembali seperti semula. Mundur pelan-pelan.

Beberapa sumber hanya menjelaskan secara singkat. Titik yang menjadi batas kenaikan dan mulai berbalik menurun pada kurva hasil. Ilmu matematika menamainya sebagai titik perubahan kecekungan. Cekung ke atas atau ke bawah. Ahli motivasi menyebutnya sebagai momentum menemukan kekuatan untuk bangkit. Kembali berjuang setelah terpuruk beberapa waktu.

Tahap kedua adalah penularan. Bagi penggerak yang konsisten, maka mulai menginisiasi pertemuan, mengundang peserta, menyelenggarakan sesi kelas berbagi atau sebutlah dengan temu pendidik. Harapannya, mendapatkan pendukung praktik yang telah diinisiasi atau diadopsi itu mengalami nasib baik. Memberi kesempatan untuk diterapkan pada situasi yang berbeda.

Tahap ketiga adalah tahap penyebaran. Para pengikut atau peserta temu pendidik mengajak orang lain di ekosistemnya untuk menerapkan praktik yang sama. Teori perubahan yang kita anut menyebutnya sebagai peristiwa titik balik. Pada tahap inilah seharusnya kita berharap banyak. Menunggu keajaiban bekerja. Inovasi mengalami nasib baik, mampu bergerak masuk mempengaruhi kelompok mayoritas akhir. Masyarakat pendidikan yang awalnya hanya sebagai pengamat, mulai mempraktikkan inovasi tersebut dalam kesehariannya. Pada titik balik inilah, inovasi dikisahkan sedemikian rupa, dari satu sumber ke sumber lain.

Sebagai penggerak perubahan, kita berada di level mana?
Banyak pertanyaan-pertanyaan dari kawan-kawan. Saya cantumkan beberapa.

“Saya sudah bergerak dari tahun lalu sejak TPN 2019, tapi sepertinya tidak ada yang tertarik pak. Saya sendirian saja sampai sekarang.”

“Dari lima penggerak awal, saat ini, hanya saya sendiri pak. Bahkan pengurus pun sudah tidak bergerak lagi.”

“Tampaknya tidak ada yang berubah. Masih seperti semula. Apa yang salah? Di mana masalahnya, pak?”

Teman-teman, mari kita periksa satu persatu.

Inovasi yang bisa berdampak luas adalah adalah temuan yang mampu menjawab persoalan yang muncul. Temu Pendidik Nusantara telah berlangsung lima tahun. Ratusan praktik baik telah dihasilkan. Tertulis di puluhan surat kabar, buku bahkan setiap waktu disebar di postingan media sosial. Sesungguhnya, saat ini, kita tidak lagi kekurangan praktik baik. Saya ingin bercerita satu saja.

Di sebuah sekolah negeri, dengan keterbatasan fasilitas belajar, salah satu guru honorer menggunakan sampah plastik sebagai sumber belajar IPA. Praktik ini menyelesaikan dua masalah sekaligus. Solusi keterbatasan fasilitas, sekaligus mengantar murid dari pengetahuan konten menjadi kompeten. Murid belajar dari pengalaman kekinian dan diaplikasikan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dengan belajar Kimia, maka murid jadi tahu makanan apa saja yang layak dan sehat untuk dikonsumsi.

Saya tidak dalam posisi mengukur apakah temuan tersebut berguna atau tidak. Tanpa debat, semua sepakat, bahwa temuan bapak guru kimia sangat esensial bagi murid. Layak diteruskan.

Lalu kenapa ratusan praktik tersebut tidak berdampak luas di ekosistemnya? Itulah masalah kita bersama, para penggerak perubahan.

Inseminator atau penggerak perubahan biasanya terlalu fokus untuk bertahan, lupa menyerang. Strategi perang mengajarkan, tidak ada yang bisa bertahan begitu lama menerima serangan. Siapapun itu, akan babak belur, kehabisan energi, kemudian layu

perlahan-lahan, absen pada TPN berikutnya. Benar, penggerak Komunitas Guru Belajar terus melakukan kampanye, sosialisasi, publikasi, temu pendidik tapi melupakan hal esensial: merekrut pengikut pertamanya. Bagi yang memiliki pengikut, masih kadang khilaf, bahwa pengikut itu memiliki kebutuhan yang berbeda, butuh update informasi, pendampingan, percakapan dan pelatihan tingkat lanjutan.

Belajar dari peristiwa sejarah apapun, setiap gerakan, ideologi, atau apapun namanya, sukses bukan di tahap inseminasinya. Tapi ketika inovasi tersebut mulai diadopsi oleh para pengikut. Ketika praktik tersebut mulai mendapatkan pengakuan. Semakin banyak pengikut pertama, maka peluang gerakan menuju titik balik akan semakin besar. Mari belajar dari kisah-kisah manusia langit. Konsep Assabiqunalawwalun, Al Hawarriyuu, gerakan murid-murid pertama. Kesuksesan ajarannya karena berhasil menghimpun pengikut pertamanya. Ketika para pengikut pertama mulai menyebarkan, bersuara, maka pada saat itulah titik balik kejayaan dimulai.

Titik Balik Perubahan

Fokus pada kawan, bukan lawan.

Saya pernah meyakini sebaliknya. Perjelas lawanmu, kawanmu akan menyatu. Belajar dari masa perjuangan tempo bahula. Kita cenderung menyatu dan kuat jika lawan kita jelas. Siapa melawan siapa. Siapa menang siapa yang kalah. Tapi jarak peristiwa itu dengan situasi yang sekarang sudah terlampau jauh. Situasinya berubah. Pengalaman berkomunitas justru mengajarkan mengambil posisi win to win, bukan lagi win to lose. Jika bisa berteman, kenapa harus jadi lawan? Kolaborasi adalah sebaik-baiknya strategi perang, saat ini.

Tujuan kita jelas: menjadi guru belajar. Untuk mewujudkan itu, tentukan siapa sekutu kita.

Sebagai penggerak perubahan di Komunitas Guru belajar, akan ditemukan lima jenis kelompok perubahan. Kelompok-kelompok inilah yang akan terus bertaut dari hari ke hari. Inovator, pengadopsi awal, mayoritas awal, mayoritas akhir dan para penghambat.

Asumsinya, level kita saat ini sebagai inovator. Di komunitas kita, mudah mengenalinya. Kelompok yang tidak takut gagal. Berani mencoba tantangan baru. Saya sering membaca kisah-kisah kelompok ini pada perhelatan Temu Pendidik Nusantara dari tahun ke tahun. Melakukan perjalanan dari daerahnya menuju Jakarta menemui orang yang belum pernah ditemui sebelumnya.Teman-teman, kita adalah tipikal ini. Selalu antusias dengan tantangan baru. Merasa hidup dengan pengalaman baru.

Kelompok kedua adalah pengadopsi awal. Siapa saja yang percaya dengan pengalaman personalisasi belajar yang baru saja ditempuh. Adakah yang percaya dengan semua cerita kita? Bagaimana caranya? Apa saja yang sudah pernah dilakukan untuk membuat praktik kita layak dipercaya?

Kelompok ketiga adalah mayoritas awal. Siapa saja mereka? Rekan sejawat yang kadang resah dengan situasi kelasnya. Terkait praktik baik, mereka menyediakan waktu untuk mendengar, turut menimpali jika cerita itu juga mereka alami. Sayang, jumlahnya tidak banyak.

Kelompok keempat adalah mayoritas akhir. Mereka yang tiap hari bersama kita di ruang guru. Namanya juga kerumunan, karena situasi pandemi, turut mengirim tugas melalui WA, atau merekam dirinya menjelaskan tema pelajaran tertentu kemudian dikirim ke grup belajar murid. Turut marah jika tugas yang diberikan belum dijawab oleh murid- muridnya.

Kelompok terakhir adalah para penghambat. Sesungguhnya tidak banyak jumlahnya. Hanya karena berisik, kedengarannya cukup banyak. Saya lupa, ungkapan dari mana yang mengibaratkan mereka sebagai noise, bukan voice. Banyak contohnya di sekitar kita.

Apa hubungannya dengan langkah perubahan?

Teman-teman. Maafkan. Kita biasanya terlalu fokus pada kelompok noise ini, bukannya pada pengadopsi awal atau mayoritas awal. Percayalah, kelompok ini tak akan berubah sampai kapanpun. Terlahir sebagai pengganggu. Mari menerima kehadirannya dengan sebaik-baiknya.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: