Tutor Merdeka Belajar – Memang Bisa?

Penulis : Mentari Rahmawati | 19 Dec, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Daerah

Pendidikan Kesetaraan kian diminati oleh masyarakat Banda Aceh. Selain proses belajar yang efisien, materi pelajaran yang diajarkan juga tidak terlalu menuntut peserta didik, tidak seperti sekolah formal pada umumnya. Sehingga kebanyakan peserta yang mendaftar ialah yang sedang bekerja.

Melihat kondisi ini, sangat diperlukan Pengajar / Tutor yang tidak biasa pula, tutor yang merdeka belajar. Namun faktanya, Tutor di tempat saya mengajar masih sangat konservatif dan meremehkan kepentingan tujuan dasar pendidikan, bahkan termasuk saya sendiri. Hal ini pula yang mendasari saya mengajak rekan-rekan Tutor, baik yang di Sekolah Pendidikan Non Formal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Banda Aceh maupun tidak, agar bergabung dengan Komunitas Guru Belajar (KGB) untuk saling membagi ilmu, mengamalkan ilmu, dan menyerap ilmu.

Nonton Bareng (Nobar) Guru Merdeka Belajar adalah kegiatan pertama yang berhasil saya adakan pada tanggal 06 September 2019 di SPNF SKB Kota Banda Aceh. Kegiatan ini diikuti oleh Tutor-tutor Bantu sebagai tenaga pengajar di lembaga tersebut. Saya belum bisa mengundang Tutor dari lembaga lain karena instruksi yang diberikan oleh Kepala Sekolah SPNF SKB Kota Banda Aceh, Pak Budi Pramono, agar kegiatan nobar merdeka belajar ini dikhususkan kepada tutor di lembaga sendiri terlebih dahulu. Mungkin untuk tahap selanjutnya akan diadakan dalam skala luas. 

Rangkaian acara yang direncanakan akan dimulai pukul 09.00 WIB telah saya persiapkan mulai dari pembukaan, ice breaking, materi yang akan disampaikan, slide presentasi, refleksi yang akan ditampilkan, perkiraan pertanyaan serta jawaban yang akan diberikan. Akan tetapi, ketika saya tiba di kantor, rekan-rekan saya mengajak untuk nongkrong terlebih dahulu. Maka berubahlah ide ice breaking tadi menjadi bersantai di warung kopi sambil menikmati pemandangan dan sarapan. Dan ternyata sangat membantu saya dalam menyampaikan materi ketika acara dimulai. 

Tutor Mendiskusikan Merdeka Belajar

Sekitar pukul 10.00, kami sudah tiba kembali di kantor. Saya langsung mempersiapkan segala alat yang diperlukan; proyektor, laptop, speaker, dan alat tulis untuk refleksi. Alhamdulillah, rekan Tutor membantu saya menyiapkan tempat duduk dan perlengkapan juga untuk mendukung nobar merdeka belajar. Sebelum saya membuka acara, saya pastikan terlebih dahulu teman-teman sudah siap mendengarkan apa yang akan disampaikan. Ada yang sudah siap dengan memeluk bantal, dengan melipat tangan di atas meja, bahkan ada yang sudah santai dengan kaki terlipat di bangku depan.

Setelah memastikan peserta siap mendengarkan, saya memulai acara dengan pembukaan salam dan menanyakan kabar. Dikarenakan pesertanya juga teman-teman saya sendiri, maka gaya yang saya bawa pun santai dan tidak terlalu menekan. Pertama, saya memulai acara nonton bareng ini dengan menanyakan teman-teman saya apa itu merdeka. Berikut jawaban yang diberikan teman-teman:

“Bebas, Mentari” jawab Pak Ade, Tutor Penjas.

Bu Laida, Tutor Sosial, menjawab “Tanpa ada ikatan!”

 “Tidak ada hambatan”, ujar Pak Munawir, Tutor Penjas.

Saya membenarkan untuk semua jawaban yang telah diberikan. Kemudian saya mengaitkannya dengan Guru Merdeka Belajar untuk membuat teman-teman lebih paham mengenai makna Guru Merdeka Belajar (GMB). Setelah itu, baru saya jelaskan kaitan GMB, KGB dan Temu Pendidik. Dari sesi penjelasan pertama ini, banyak yang menyela untuk memastikan keyakinan pemahaman mereka. Jadi, sesi Nobar Merdeka Belajar ini lebih seperti diskusi sesama tutor. Walaupun demikian, teman-teman saya kelihatan agak sedikit ragu dengan penjelasan saya mengenai temu pendidik dan guru belajar. Terlihat jelas dari raut wajah tak percaya mereka seolah bertanya memang bisa?.

Solusinya menurut saya adalah dengan menonton video Guru Merdeka Belajar yang disampaikan oleh Ibu Najelaa Shihab. Video berdurasi kurang lebih 14 menit yang membahas tentang kunci sukses menjadi Guru yang merdeka belajar serta miskonsepsi kebanyakan guru di Indonesia saat ini.  

Tutor Menonton Video Merdeka Belajar

Pada awal pemutaran video ini, teman-teman saya memperhatikan dengan kurang penuh perhatian. Hilir mudiknya pendatang yang keluar masuk pintu, pendatang yang masuk selalu bersuara dan bertanya, dan anak-anak yang berlalu lalang berhasil memecah konsentrasi teman-teman saya yang sedang menyaksikan Ibu Elaa berbicara. Fokus teman-teman saya itu kembali ketika Bu Elaa sedang membahas mengenai miskonsepsi yang selama ini hinggap pada guru-guru di Indonesia. Guru hanya mau belajar jika mendapat insentif, guru harus belajar dari ahlinya, guru hanya belajar jika disuruh, guru hanya belajar jika dipaksa, dan guru belajar hanya untuk diri sendiri. Mereka semuanya terdiam dan fokus sekali pada apa yang dikatakan oleh Ibu Elaa tentang bagaimana ada guru di luar sana yang melakukan hal yang berlawanan dengan miskonsepsi di atas. Alhamdulillah, sampai video selesai, fokus mereka tidak hilang dan tetap fokus pada pemaparan Ibu Elaa. 

Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon

Video selesai diputar dan saatnya sesi tanya jawab. Ada beberapa pertanyaan yang muncul.  Bu Laida bertanya, “Berarti Mentari, di kegiatan ini, kita gak akan belajar dari ahlinya?” Saya menjelaskan kembali konsep yang saya paparkan di awal ketika pembukaan kegiatan ini. Bahwa fungsi dari terbentuknya forum temu pendidik ini ialah sharing ilmu dan pengalaman sehingga bisa saling memberikan manfaat dan membantu. Saya memberikan contoh bagaimana metode Bu Laida pernah mengajar di kelas. Nanti metode itu diceritakan ke teman yang lain, yang mana tau bisa digunakan di kelas juga. Bahkan kita bisa belajar dari PKBM lain yang ada disekitar kita seperti PKBM Ruman Aceh dan PKBM Kiat Usaha. Oleh sebab itu, sangat bermanfaat jika ada forum tutor ini. Bila ada dukungan, bisa jadi kita mendatangkan ahli juga untuk menguatkan apa yang telah dilakukan.

Bu Laida juga bertanya lagi mengenai konsep kemitraan di poin pembahasan mengenai kemandirian guru merdeka belajar. Saya mencoba menjelaskan dengan contoh yang memang sudah pernah teman-teman lakukan di kantor. Yaitu bagaimana kebingungan Bu Amidiah ketika dibebankan pelajaran keterampilan. Bu Laida dan Bu Zuhra sepakat sama-sama akan membantu Bu Amidiah untuk mengisi kelas. Sudah dilakukan, Bu Elaa hanya menyampaikan dalam bentuk bahasanya saja, yaitu kemitraan. Pak Ade tidak bertanya, hanya memastikan kembali mengenai tangga kemandirian. Bahwa kemandirian guru selama ini baru sampai pada tahap konsultasi saja. “Guru yang merdeka belajar akan memberdayakan dan memegang kendali atas proses belajar yang kita lakukan” begitu kata Bu Elaa.

Setelah selesai sesi tanya jawab, dilanjutkan dengan sesi refleksi. Saya memberikan empat pertanyaan yaitu:

  1. Diantara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri teman-teman?
  2. Ciri Guru Merdeka Belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar, dan melakukan refleksi. Apakah teman-teman setuju? Mengapa?
  1. Apakah teman-teman ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Mengapa?
  2. Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa perubahan yang ingin teman-teman lakukan di kelas?
Tutor Belajar Merdeka Belajar

Mungkin dikarenakan jam sudah menunjukkan pukul 11.10, teman-teman saya sudah mulai lelah dengan begitu banyaknya informasi yang mereka terima. Alhasil, mereka hanya menulis satu jawaban saja dari empat pertanyaan yang saya berikan. Dan dikarenakan tidak banyak yang eksis di media sosial Instagram, maka tidak ada dari teman-teman saya yang meng-upload refleksinya. Tetapi, saya tetap bersyukur bahwa teman-teman saya masih mau duduk dan mendengarkan secuil penjelasan ini. Semoga, pelan tapi pasti, pendidikan nonformal di Banda Aceh tidak akan kalah menariknya dari pendidikan di daerah lain.

Anda masih penasaran tentang makna merdeka belajar?

Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6
Unduh Gratis
Klik:
Merayakan Merdeka Belajar PDF

merdeka belajar pdf
About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: