Yayasan Guru Belajar Ajak Orprof Kolaborasi Merdeka Belajar

Penulis : Yosinta Maharani Here | 10 Jan, 2022 | Kategori: Merdeka Belajar, Program Pengembangan Guru

“Apakah mungkin guru menerapkan merdeka belajar? Bagaimana dengan standar penilaian sekolah?”

“Bagaimana saya bisa memperhatikan potensi setiap anak, jika saya menangani lebih dari 30 anak dalam satu kelas?”

Pertanyaan di atas mungkin menjadi pertanyaan semua para pendidik ketika mendengar konsep merdeka belajar. Bagi banyak pihak, konsep ini terlalu progresif dan utopis untuk diterapkan terlebih jika sekolah bukan berada di wilayah urban. Apakah Bapak/Ibu salah satunya?

Oleh karenanya, Yayasan Guru Belajar (YGB) hadir mendampingi banyak guru untuk mewujudkan merdeka belajar. Tahun 2021 ini, YGB telah mendampingi guru dari 38 daerah, bertambah 34 wilayah dari tahun sebelumnya. Prestasi bagi YGB, namun demikian angka ini masih kecil membandingkannya dengan luas cakupan wilayah Indonesia. Artinya, perjuangan masih panjang.

Teori Difusi Inovasi: Mengapa Kolaborasi Penting?

YGB telah mengusung konsep merdeka belajar sejak yayasan ini didirikan tahun 2016. Selama lima tahun banyak kegiatan diadakan untuk mendukung pemberdayaan guru agar menjadi penggerak perubahan melalui pendidikan.  

Sebagai upaya meningkatkan dampak, pada 19 November 2021, YGB mengajak berbagai organisasi profesi (orprof) guru turut serta untuk mendukung gerakan tersebut melalui program kolaborasi Pendidik Penggerak Merdeka Belajar (PPMB).

Baca juga: Guru Merdeka Belajar, Guru yang Berdaya dengan Berkolaborasi

Beberapa orprof seperti Sekolah Guru Indonesia, Komunitas Pengawas Belajar, Jaringan Sekolah Madrasah Belajar, Ikatan Guru Indonesia, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama, dan Komunitas Guru Belajar Nusantara hadir dalam acara pengenalan ini.

Bukik menjelaskan bahwa program PPMB berangkat dari kesadaran bahwa banyak organisasi bergerak pada bidang pendidikan namun sibuk berjalan sendiri-sendiri. Padahal dalam teori difusi inovasi, perubahan membutuhkan penggerak atau innovator. Penggerak adalah orang yang berani untuk mencoba suatu hal baru serta siap menerima tantangan dan resiko ketika melakukannya. Sehingga melangkah sendirian akan sangat sulit.

Apa Itu Sebenarnya Pendidik Penggerak Merdeka Belajar?

Lebih lanjut Bukik menjelaskan bahwa PPMB merupakan program kerjasama yang memiliki tiga bentuk kerjasama, sebagai berikut.

  1. Pengembangan Organisasi: hibah untuk pengembangan kapasitas organisasi, terutama untuk memberdayakan penggerak merdeka belajar.
  2. Manajemen Program: hibah untuk pendampingan peserta program.
  3. Hibah Pelaksanaan Program: hibah ketika peserta mengikuti modul program.

Melalui program PPMB, Bukik berharap semakin banyak orprof serta guru di dalamnya terlibat menjadi penggerak merdeka belajar. Sebab menurutnya, dengan kolaborasi maka pergerakan akan semakin kuat. Setelah kuat, maka gerakan ini baru bisa berdampak pada perubahan pendidikan.

Apakah Merdeka Sama Dengan Bebas?

Setelah pemaparan mengenai YGB secara umum dan PPMB khususnya, muncul beberapa pertanyaan menarik dari para perwakilan orprof. Salah satunya, apa maksud dari “merdeka”? Apakah sama dengan bebas?

Menjawab pertanyaan tersebut, Bukik mengatakan bahwa merdeka tidak sama dengan bebas. Banyak pula yang mengaitkan dengan nilai liberalisme (klasik), namun menurutnya merdeka juga tidak menyamai paham tersebut. Sebab merdeka belajar tidak berarti siswa dapat memiliki kebebasan mutlak terhadap proses belajar. Namun demikian mereka memiliki hak untuk turut mengatur tujuan, cara, dan cara belajarnya.

Bukik menjelaskan bahwa kata kunci dari merdeka belajar adalah pelibatan . Pelibatan anak, guru, dan orang tua dalam penentuan proses belajar. Siswa pada umumnya belum dapat memahami sepenuhnya apa yang mereka inginkan dan butuhkan, sehingga mereka perlu bimbingan guru maupun orang tua. 

Jika ingin disamakan dengan suatu paham tertentu, maka merdeka belajar lebih sejalan dengan demokrasi. Sebab konsep pendidikan ini mengutamakan dialog, negosiasi, dan konsensus dari guru, murid, serta orang tua.

Apakah Mungkin Menerapkan Merdeka Belajar?

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, banyak pihak menilai bahwa merdeka adalah konsep yang utopis. Hal tersebut juga menjadi pemikiran beberapa perwakilan orprof saat pertama kali mendengarkan penyampaian Bukik pada hari itu.

Beberapa guru dari orprof menyampaikan kendala yang mungkin akan mereka hadapi ketika membayangkan ketika merealisasikan merdeka belajar. Seperti misalnya standar dari sekolah, beban kerja yang berlebih hingga harus mengajar 40 jam perminggu, dan masih diandalkannya penilaian sumatif untuk menilai hasil belajar siswa.

Menanggapi keresahan itu, Bukik mengatakan bahwa hal tersebutlah yang menjadi tujuan PPMB yaitu mengedukasi ekosistem agar mau menjadi penggerak. Dalam satu sekolah mungkin hanya berawal dari satu guru, lalu satu guru tersebut berbagi dengan guru lainnya. Pada akhirnya, tercipta ekosistem guru penggerak dalam satu sekolah yang bisa mengadvokasi ke kepala sekolah untuk berubah. Begitu seterusnya secara struktural ke atas.

Baca juga: Kemerdekaan Belajar Bukan Diberikan Tetapi Kita Gerakkan

Bukik menilai bahwa transformasi memang sebaiknya dimulai dari lingkup daerah. Pasalnya, apabila pusat menentukan suatu regulasi tertentu, hal tersebut akan sia-sia apabila daerah tersebut tidak berdaya. Ujungnya, implementasi nol besar. Oleh karenanya, Ia menegaskan betapa pentingnya peran tamu undangan yang hadir untuk ikut turut sebagai penggerak melalui PPMB.

Praktik Nyata di Pesantren Afkaaruna: Santri Merdeka Menentukan Proses Pembelajaran

Meskipun terasa utopis bagi banyak orang, namun tidak sedikit guru yang telah membuktikan bahwa merdeka belajar bisa dipraktikkan. Dalam kesempatan tersebut, YGB membagikan buku “Merdeka Belajar di Ruang Kelas” karya Najeela Shihab dan Komunitas Guru Belajar kepada seluruh perwakilan orprof yang hadir.. Buku tersebut berisi kumpulan cerita praktik baik dari para guru dari berbagai wilayah di Indonesia.

Selain itu, ada satu guru inspiratif dari Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) yang berbagi langsung bagaimana praktik merdeka belajar di sekolah tempatnya mengajar. Namanya Wardania Dewi, guru bahasa Inggris di Pesantren Afkaaruna, Yogyakarta.Wardania menjelaskan bahwa pesantren tempatnya mengajar menggunakan kurikulum 

campuran baik internasional maupun nasional. Kurikulum tersebut kemudian diolah oleh para guru dan dipaparkan ke para santri sebelum tahun ajaran dimulai.

Pada kesempatan tersebut, santri boleh menyampaikan pendapatnya mengenai rencana pembelajaran. Seperti misalnya ada yang ingin mereka ubah atau geser ke semester berikutnya. Wardania mengungkapkan bahwa proses ini yang pihak pesantren inginkan, yaitu para santri dengan percaya diri mengungkapkan opini.

Terkait asesmen, pesantren Afkaaruna menggabungkan metode sumatif dan formatif. Wardania mengatakan bahwa tempatnya mengajar masih tetap mengadakan ujian untuk mendapatkan nilai angka. Namun demikian, hasil akhir penilaian tidak hanya berdasarkan nilai-nilai tersebut.

Pada rapor, pesantren Afkaaruna menyertakan tabel yang menjelaskan bagaimana proses pendidikan santri selama di pesantren. “Mungkin ini seperti raport anak PAUD ya. Jadi penuh dengan kalimat yang menjelaskan perkembangan santri,” ungkap Wardania.

Menerapkan cara yang belum umum dilakukan oleh banyak sekolah tentu bukan hal yang mudah. “Ada orang tua yang bertanya mengapa anak mereka diberi kemerdekaan seperti itu. Bahkan ada orang tua santri yang menyebut pesantren Afkaaruna tidak memiliki power atas proses pembelajaran santrinya,” jelas Wardania.

Namun hal tersebut tidak menyurutkan langkah pendidik dari pesantren Afkaaruna untuk terus menjalankan metodenya tersebut. Saat ini, orang tua pun semakin mudah untuk mengerti dan menerima proses pembelajaran di santri tersebut.

Yuk Menjadi Bagian dari Penggerak Merdeka Belajar!

Menuju ujung waktu pertemuan, salah satu tamu undangan menyampaikan pendapat yang menarik. Ia menyebutkan bahwa beberapa waktu terakhir sebenarnya sudah banyak sekolah mulai menyadari pentingnya passion anak dan menjadikannya sebagai bagian dari cara pengajaran, seperti merdeka belajar.

“Namun hal tersebut terjadi di sekolah-sekolah yang biayanya mahal,” ungkapnya. “Sehingga PR kita bersama adalah mewujudkan sistem merdeka belajar dengan harga yang terjangkau bagi semua murid di Indonesia,” lanjutnya.

Hal tersebut disetujui oleh Bukik. Ia menyatakan bahwa hal tersebutlah yang menjadi salah satu alasan YGB hadir dan mengajak orprof untuk berkolaborasi mewujudkan merdeka belajar yang merata.

About the Author

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: